
Deg ...
Seketika aku terkejut melihat karpet bulu berwarna putih yang ternodai bercak-bercak merah tua kehitaman yang tersebar di sebagian permukaannya.
Apa ini? Perasaanku mulai tak enak.
Dengan kasar, kutarik baju yang semalam sengaja diletakkan di atas sofa kamar itu dan tak lebih terkejut dari melihat bercak yang berada di karpet, sebab mendapatkan bercak itu juga menempel pada kaus biru muda yang kukenakan semalam.
Serta-merta kuberdiri berteriak-teriak memanggil nama Jane yang tidak berada di kamar, namun rasanya percuma. Aku tak jua mendapatkan jawaban.
Kembali aku berlari ke kamar dan mencari gawai untuk menghubungi Jane, tapi setelahnya, segera kulempar gawai itu karena saat mencoba mengaktifkannya terlihat wallpaperku terganti dengan foto seorang wanita yang kukenal, sedang tergeletak di rerumputan dengan banyak luka memar dan darah.
Tubuhku terasa lemas dan seakan kehilangan semua tulang belulang, karena wanita di wallpaper yang kulihat adalah Jane, boneka cantikku.
Sial! Siapa yang melakukan ini? Apakah seseorang mencoba mengerjaiku? Jika memang terjadi, benar-benar tidak lucu!
Dengan keras, aku memaksa memutar otak untuk mencoba mencerna tentang apa yang sedang terjadi saat ini, hingga mataku kembali berhenti pada noda merah kehitaman yang berada pada permukaan karpet putih.
Aku berlutut di atasnya dan mencoba mencium aroma noda merah itu, untuk memastikan bahwa apa yang berada di hadapanku bukan seperti apa yang kutakutkan. Namun tubuhku tersentak saat mendapatkan aroma amis saat mendekatinya.
********! Ini seperti yang kupikirkan. Itu benar-benar darah!
Seakan belum percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi, kucoba untuk mencari kontak Jane dari gawai dan berusaha menghubunginya.
Deg ...
Deringan ringtone yang kukenal sebagai ringtone Jane tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Dengan jantung yang berdebar kencang, dan air mata yang berjatuhan, aku mencoba mencari dan mendekati asal suara itu.
Semakin mendekat, semakin mendekat, lebih dekat, dan benar-benar sudah dekat. Langkahku terhenti. Kini aku berdiri di depan pintu kamar mandi yang berada di luar kamar.
Dadaku terasa sesak dan seakan mau meledak. Besar rasanya ingin membuka pintu itu dan mencari tahu apa yang berada di dalam, tapi bagaimana jika ini bukan tipuan? Bagaimana jika seseorang benar-benar mencoba memaksa masuk dalam rumah ini dan melakukan hal yang menyeramkan pada Jane? Aku mulai meragukan pikiran positifku.
Aku mengambil langkah mundur dan mengecek semua pintu dan jendela yang berada di rumah ini. Namun tak ada satupun tanda-tanda dibuka paksa dari luar. Semuanya terlihat aman dan tak ada yang ganjil. Bahkan semua pintu dan jendela masih terkunci rapat dari dalam.
Hatiku mulai agak tenang. Yang pasti, tak ada tindakan kriminal dari orang-orang yang berada di luar rumah ini, seperti yang sudah kupikirkan, jika dilihat dari kondisinya.
Perlahan, kumulai melangkah menuju kamar mandi dan mulai mencoba memutar knop pintunya.
Klek ....
Gelap. Pandanganku tak jelas saat mencoba melihat ke dalamnya. Kucoba meraba-raba tembok untuk mencari stop kontak untuk menerangi seluruh ruangan, dan ....
Deg ....
Seketika tubuhku ambruk lemas, saat melihat gawai Jane tergeletak di lantai kamar mandi.
Bukan. Bukan karena gawai itu, tapi karena melihat tangan yang kukenal sebagai tangan boneka cantikku sedang menggenggam gawai itu.
Ya ... tangan.
Hanya tangan saja yang berada di sana. Tanpa pundak, dada, wajah, ataupun anggota tubuh lainnya. Hanya sepotong tangan saja, seakan seseorang sudah memisahkan tangan itu dari pemiliknya. Tangan yang jarinya tersemat cincin emas yang kuberikan pada Jane seminggu yang lalu.
Air mata mengalir dengan deras, dan dada kembang kempis, seakan sulit menghirup oksigen yang berada di ruangan ini. Aku ketakutan.
Perlahan kuseret tubuh tanpa berdiri untuk menyandarkannya pada tembok kamar mandi. Rasanya tak kuat untuk menyangganya sendiri, bahkan untuk duduk sekalipun.
Apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa aku bisa dihadapkan pada situasi yang begitu rumit?
Ini adalah kasus kejahatan dengan penjahat yang tak jelas motif dan tujuan. Dan gilanya, aku masih baik-baik saja, hingga terbangun di pagi ini.
Tidak bisa!
Aku tak bisa berdiam diri dengan segala kecurigaan dan ketakutan yang bermain dalam imajinasi terburuk. Dengan tangan bergetar, kucoba memainkan jari di permukaan layar gawai, dengan wallpaper tubuh boneka cantikku yang bersimbah darah untuk segera mencari bantuan.
Tanganku basah oleh keringat, saat mengetik kata kunci nomor telepon polisi dari google untuk segera menghubungi nomor tersebut dan menceritakan kejadian ini.
Segera setelah mendapatkannya, aku menyimpan dan memencet tombol 'call' pada gawaiku.
Tut ...
Tersambung. Nada itu menunjukkan bahwa gawai ini sudah mencoba untuk menyambungkanku dengan nomor yang sedang dituju.
Tut ...
Kupandangi lagi tangan boneka cantikku yang bersimbah darah dan tergeletak kaku. Rasanya benar-benar ciut saat melihatnya.
Tut ....
Tut ....
Mataku membelalak saat melihat cermin yang tergantung di dalam ruangan ini. Seperti ada cairan kental merah yang mulai mengering, menempel di permukaannya.
Tut ....
Perlahan, aku berdiri dan mencoba mendekati cermin itu dan melihat pantulan diriku sendiri, serta ....
"Selamat pagi! Dengan ..." Seseorang mengangkat panggilanku.
Aku terdiam membelalak, kemudian segera memutuskan sambungan itu sambil menutup mulut, seakan tak percaya dengan apa yang barusan kupandang.
Seakan dikejar hantu, aku berlari kembali ke kamar Jane untuk mencari kunci mobil, dan berusaha keluar dari tempat ini, kemudian menguncinya untuk kembali ke rumah.
Aliran darah yang terpompa oleh jantungku secepat laju mobil yang kukendarai. Sepertinya aku tahu siapa dalang di balik kejadian ini dan itu betul-betul mengancamku jika berlama-lama di rumah Jane.
➖➖➖➖➖
Buk, Buk!
Dengan kasar kugedor pintu rumah dan meneriakkan nama Risa agar dia segera membukakan pintu.
Setelah dia melihat wajahnya yang muncul di balik pintu, aku menerobos masuk ke dalam, hingga tubuh Risa nyaris terhempas ke belakang.
"Ada apa, Mas?" tanya Risa, heran.
"Tutup pintunya!" bentakku pada Risa, tanpa menjawab pertanyaannya.
Risa seperti terkejut atas perlakuanku dan segera menutup pintu, kemudian berdiri mematung dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku tahu kalau dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, karena selama bertahun-tahun menjadi istriku, tak pernah sedetikpun dibentak atau dikasari.
"Ka-kau kenapa, Mas?" Air matanya mulai terjatuh.
Aku segera berdiri dan memeluk tubuhnya. Tubuh wanita yang kukhianati karena kebodohan dan keserakaan. Tubuh seseorang yang selalu ada untuk membantuku. Tubuh pasangan hidupku.
Air mata takut dan bersalah menyucur dengan deras.
Kulepaskan pelukan dan menatap matanya, dalam. Aku menarik napas panjang, kemudian mencoba menelan ludah untuk memulai pembicaraan.
"Dengar. Aku sedang membuat proyek tulisan yang besar. Yang kubutuhkan adalah ketenangan dan tak ingin diganggu oleh siapapun. Jika ada yang datang untuk mencari, katakan bahwa aku sedang berlibur dari dua hari yang lalu, dan tidak tahu akan pulang kapan," jelasku.
"Siapapun?" tanya Risa.
"Iya, siapapun. Hanya aku, kamu dan Tuhan yang boleh tahu, kalau aku berada di rumah ini. Bisa, sayang? Bisa kau bantu aku?" ucapku.
Risa hanya mengangguk perlahan kemudian mengunci pintu rumah.
➖➖➖➖➖
"Tolooooooooooong!"
Teriakan dari seseorang yang kukenal memekakkan telinga. Segera berdiri dengan bertelanjang dada, demi segera mencari arah suara itu.
"Lagi! Berteriak lagi!"
Aku mencoba membuat suara supaya bisa tahu jawaban darinya agar bisa segera menuju ke sana, namun hening. Tiba-tiba ....
"Toloooooooooooooong!"
Sekali lagi suara itu muncul secara tiba-tiba. Kali ini sangat jelas dan kencang, berasal dari dalam kamar mandi.
Kucoba untuk membuka pintu itu, namun sayangnya tidak bisa. Benda itu seakan terkunci dari dalam.
Tak ingin menyerah dengan keadaan, kukumpulkan segala tenaga dan mencoba untuk mendobraknya. Pada dorongan ketiga, pintu itu rusak dan segera terbuka. Sayangnya terlambat. Wanita itu tak bergerak, dengan luka memar dan darah di sekujur tubuhnya.
Dengan kasar kugoyangkan bahunya, berharap ada sedikit harapan di sana, tapi sia-sia. Aku mencoba menyemangati diri, berharap ada pergerakan di sana, namun mata ini tak bisa dibohongi. Dia sudah tak bernapas sama sekali. Nyawa sudah terpisah dari raganya.
Wanita itu adalah ....
➖ Bersambung ➖