Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
KELIRU #2



Seharian penuh aku hanya terduduk dengan tatapan kosong di sudut ruang makan dan meratapi nasib yang ternyata tak jauh beda dari almarhum ibuku. Kepada siapa aku akan mengaduh di saat seperti ini? Aku tak punya keluarga lagi untuk berbagi kepedihan.


Kusambar kunci mobil dan berangkat menuju rumah mertuaku. Akan kukatakan semuanya agar keluarganya membantuku dan menyelesaikan masalah ini, sebelum menjadi sangat rumit. Dengan linangan air mata, kukendarai mobil dan berharap bahwa ini akan cepat teratasi.


Ini harus dihentikan. Aku tak ingin berakhir seperti ibuku yang meninggal karena tenggelam dalam kepedihan saat ditinggalkan suaminya. Harus ada yang membantuku menegur dan memperingati Mas Awan, agar rumah tanggaku tidak porak-poranda.


Hanya saja sesampainya di sana, aku harus berhenti dari kejauhan ketika melihat mobil Mas Awan parkir tepat di depan rumah ibunya, hingga membuatku harus menjaga jarak. Kuparkirkan mobil beberapa blok dari sana dan berpikir, sedang apa dia berada di sana?


Tak berapa lama aku menunggu dengan perasaan harap-harap cemas, perlahan pintu pagar terbuka. Dari kejauhan, seorang wanita memegang kunci mobil suamiku dan membuka pintu depan untuk mengambil barang yang mungkin tertinggal di sana.


Seakan petir yang menyambar di siang bolong. Saat berusaha mengenali wanita itu, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan mempelihatkan wajahnya. Tidak diragukan lagi, dia adalah Irene, wanita perusak rumah tangga yang kedapatan mengirimkan pesan untuk suamiku.


Ada apa ini?


Kenapa dia berada di sana?


Mertuaku sudah tahu hubungan mereka?


Tangis kembali pecah begitu pilu seakan semua tulang-tulang yang ada di tubuhku remuk menjadi seperti bubur. Ingin rasanya masuk dan memandang langsung wajah-wajah mereka, tapi jika kuperlihatkan diriku di sana, pasti aku akan kalah.


Suamiku mendapat keturunan dari wanita keparat itu, bukan dariku. Bahkan mertuaku sendiri bisa membukakan pintu rumahnya karena kehadiran setan kecil yang dia lahirkan. Sungguh tak adil.


Aku bertolak pulang dan meratapi takdirku.


➖➖➖➖➖


Sudah kuputuskan, tak boleh kalah dengan kondisi seperti ini. Yang harus kulakukan adalah berpura-pura tidak tahu apa-apa sambil menyusun kembali perasaanku yang sudah remuk diulah suamiku dan keluarganya.


Aku harus belajar dari peristiwa yang menimpa ibuku, bahwa hidup memang berat, dan yang menyerah akan ikut mati bersamanya. Tak ingin kuberakhir seperti dia, jikapun harus, tidak dalam keadaan kalah.


Sebenarnya bisa saja kuributkan masalah perselingkuhan Mas Awan dengan wanita itu, tapi untuk apa? Itu hanya membuat kami bersitegang dan semakin berantakan. Kami bukan remaja yang harus tarik urat leher dan bertengkar karena urusan cemburu, walau cemburuku tidaklah buta.


Setelah kejadian itu, tak ada yang berubah dalam keluargaku, justru sebaliknya. Aku semakin merawat diri dan menggunakan uang suamiku dengan sebaik-baiknya. Salon, senam, perawatan tubuh, semua kulakukan. Mas Awan tak keberatan dengan itu, bahkan dia merasa senang melihat tubuhku yang sangat terawat.


Tidak hanya itu, sebisa mungkin aku manjakannya dengan membawakan bekal ke kantor, lebih sering mengirimkannya pesan manja, dan mengatur segala tutur kata menjadi sangat lembut.


Ibarat kata, jika suamiku menyukai jajanan istimewa yang berada di luar sana, maka akan kubuatkan sesuatu yang lebih istimewa dari jajanan itu. Irene memang mampu menggoda suamiku, tapi aku lebih berkelas darinya.


Aku harus mematikan perasaanku agar tak berakhir menyedihkan seperti istri-istri depresi yang suaminya memiliki selingkuhan di belakang. Sebisa mungkin kuubah mindset agar mampu memegang kendali.


Angin sepertinya bertiup kearahku. Mas Awan jatuh cinta untuk kesekian kalinya, tapi kali ini cintanya lebih besar dan lebih banyak. Waktu pulang kerjanya menjadi lebih cepat, bahkan terkadang dia tidak masuk kantor hanya karena ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganku.


Semua berjalan dengan normal hingga wanita terkutuk itu kembali menelpon saat kami sedang berduaan menonton televisi. Sialan! Bisa-bisanya mereka berbincang tepat di hadapanku tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Resahku kembali menghantui.


Segera aku berdiri dan mengurung diri di kamar, membenamkan wajahku di bantal, dan menangis sejadi-jadinya hingga suamiku masuk dengan mimik bingung, melihat perubahan secara tiba-tiba dariku.


"Kenapa, Dina?" tanya Mas Awan.


Bodoh. Benar-benar pertanyaan bodoh yang dilontarkannya. Aku bahkan berharap dia mengatakan hal lain saat ini. Bisa-bisanya dia menanyakan hal itu setelah menerima telepon dari wanita keparat itu di depanku.


"Tega kau, Mas. Apa kurangku selama ini?" bentakku.


"Apa maksudmu? Tak ada, Dina, tak ada. Tak ada yang kurang dari dirimu," jawab Mas Awan.


"Lalu kenapa kau masih berhubungan dengan wanita itu?"


"Irene? Maksudmu dia?"


Mas Awan terdiam dan duduk di samping ranjang kami. Dia menghela napas yang panjang dan memeluk tubuhku. Skak! Aku tahu, dia tak bisa bicara saat ini karena sudah ketahuan belangnya.


Segera kutepis lengannya dan berdiri untuk mengambil kunci mobilku. Tak ada yang perlu dibicarakan saat ini, tidak dengan kondisiku yang sedang penuh dengan rasa amarah. Mas Awan menarik dan mencegahku pergi, tapi segera kutarik tanganku dan menyuruhnya untuk mundur.


"Aku butuh udara segar untuk berpikir," ucapku sambil berlalu pergi dari hadapan Mas Awan.


Sengaja kumatikan gawai agar Mas Awan tak mencoba untuk menghubungi. Yang kubutuhkan saat ini adalah waktu dan ketenangan untuk bisa berpikir dengan jernih. Kuputar otakku agar bekerja lebih keras lagi.


Tiba-tiba rasa penyesalan menghampiri. Apa yang kulakukan? Kenapa bisa sebodoh ini? Sia-sia sudah perjuanganku selama ini untuk mendapatkan kembali tahta sebagai istri utama jika tak kuat melihat suamiku menelpon wanita simpanannya. Aku memutar arah, lalu melaju cepat menuju rumah.


Dalam perjalan pulang, hatiku berbicara, 'Maaf, Mas. Harusnya kusiapkan hidangan lebih istimewa dari sebelumnya. Mungkin usahaku harus lebih keras lagi, bukan merengek memintamu kembali.'


Kubuka pintu rumah dan mendapatkan Mas Awan duduk sambil memengang gawainya. Dia menyambutku dengan wajah khawatir dan pelukan yang hangat. Kubalas pelukan itu dan mengelus lembut punggungnya.


"Biar kujelaskan, Dina," ucap Mas Awan saat kubenamkan wajah pada dadanya.


"Sudah, Mas, tak perlu dibahas. Aku tahu semuanya. Harusnya aku yang meminta maaf," jelasku sambil menciumi tangannya.


➖➖➖➖➖


Aku mencoba mengambil alih dan menjalani kehidupan kembali. Beruntung hari itu amarahku benar-benar bisa diredam. Jika tidak, mungkin saja semua usaha yang kulakukan bisa sia-sia begitu saja dalam waktu semalam.


Hanya saja permainan perasaan ini membuat tenagaku cukup banyak terkuras. Seminggu setelah kejadian itu, aku meminta izin pada Mas Awan untuk pergi ke rumah Hera sepupuku, untuk sekedar mencari teman mengobrol dan refresing. Bersyukur Mas Awan mengizinkanku untuk pergi.


Setelah membereskan rumah dan membantunya menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor, aku berangkat sendiri. Tadinya ingin membawa Mas Awan untuk ikut serta, namun sayangnya dia sepertinya tidak berminat.


Siapa sangka, yang tadinya niatku ingin menghibur diri dengan berkunjung ke rumah Hera, harus dibuat kembali badmood saat dia bercerita tentang suaminya yang kedapatan sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita yang dikenalnya dari dunia maya.


Arrggh ... aku betul-betul muak dengan drama perselingkuhan ini. Di belahan bumi manapun, semua pria sama saja. Tak cukup dengan kasih sayang satu wanita yang sudah menghabiskan masa hidupnya.


Tak banyak yang bisa kulakukan untuk Hera, kecuali menyarankan tips yang sudah kujalankan saat ini. Tetap pada perinsip awal, bahwa jika suamimu mendapatkan jajanan di luar, maka kau harus menyiapkan hidangan yang lebih istimewa di rumah.


"Kau tak tahu bagaimana rasanya!" bentak Hera saat aku mencoba memberikannya nasihat.


Tapi percuma saja, tampaknya Hera tidak berkelas sepertiku. Dia seperti istri-istri teraniaya lainnya yang hanya bisa menangis dan merengek agar suami-suami mereka kembali kepelukan mereka seutuhnya.


Tak bisa juga kujelaskan kondisiku saat ini. Tak ingin kusebarkan aib kami, hingga terdengar ke telinga keluargaku. Sebaiknya aku harus segera pulang, daripada harus teracuni oleh pikiran-pikiran orang lemah seperti Hera.


Cuaca hari ini begitu panas, bahkan AC yang berada di mobil tak mampu menilangkan rasa dahaga setelah sampai di rumah. Kubuka freezer box besar, mengambil es batu kemudian menyiapkannya pada segelas air putih yang terlihat menyegarkan. Sebelumnya sempat kucium pipi suamiku yang tertidur lelap. Tiba-tiba ....


Tring ....


Gawai suamiku berbunyi dengan memperlihatkan kontak yang bernama Irene. Seperti orang yang sedang kesetanan, aku segera mengambil gawai itu agar tak mengganggu istirahat suamiku dan mengangkatnya.


"Halo?"


"Halo? Ini pasti Mbak Dina ya?" Gila, bisa-bisanya wanita itu mengetahui namaku. Mas Awan pasti sudah pernah menceritakan tentangku pada wanita itu.


"I-iya. Maaf, ini siapa?" Aku tetap harus profesional, seakan tak mengenalnya.


"Saya Irene, sepupu Mas Awan, Mbak."


"Sepupu?" Aku menjadi bingung. Sandiwara apa lagi ini?


"Iya, Mbak, sepupu. Beberapa bulan ini, Mas Awan membatu mengurus kepindahan setelah suami saya dimutasi. Maksud saya menelepon, hanya untuk berterima kasih, karena hari ini sudah akan berangkat ke Singapura. Mas Awannya ada, Mbak?" jelas wanita yang bernama Irene itu


"Hmmm, suamiku sedang tidur. Nanti jika bangun, akan kuberi tahu," jawabku. Sengaja kugunakan kata suami sebagai penekanan bahwa Mas Awan adalah milikku yang sah.


"Baik, Mbak. Terima kasih banyak. Maaf belum sempat untuk mampir dan berkenalan."


Irene menutup sambungannya dan membuatku terduduk sambil menganga lebar. Tak bisa kupercayai ucapan itu begitu saja. Harus kupastikan dulu cerita ini pada Mbak Opi di kantor.


Masih menggunakan gawai Mas Awan, langsung kucari kontak Mbak Opi dan meneleponnya.


"Selamat siang, Pak," terdengar suara Mbak Opi dari sana.


"Masih ingat pembicaraan kita tentang Irene minggu lalu? Saya belum mendapatkan informasi tempat tinggalnya," jelasku pada Mbak Opi tanpa basa-basi.


"Iya, Bu. Kemarin entah kenapa sambungannya tiba-tiba terputus dan saya tidak berani untuk menelepon balik," ucap Mbak Opi.


"Tidak apa-apa, Mbak. Bagaimana dengan Irene?"


"Anu, Bu. Beliau sudah tidak ada."


"Tidak ada bagaimana maksudnya?" kali ini suaraku agak meninggi.


"Dia meninggal saat melahirkan bayinya yang prematur tahun lalu, Bu. Setelah itu, seminggu kemudian anaknya menyusul ibunya."


"Apa? Kamu yakin, Mbak?"


"Iya, Bu. Aku sendiri yang mendatangi acara pemakamannya." Mbak Opi terisak.


Deg ....


Aku terduduk lemas seakan tidak percaya dengan apa yang Mbak Opi ucapkan. Dengan kasar, kubuka isi pesan suamiku dan mendapatkan foto-foto Irene bersama seorang pria yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Mungkin itu yang dimaksud dengan suaminya.


Kucoba mengecek pesan lain, namun betapa kagetnya diriku saat melihat pesan belum terbaca yang Mas Awan kirimkan padaku saat sedang emosi minggu lalu. Betul, hingga saat ini gawaiku masih tertinggal di mobil dan belum kuaktifkan.


[ Dia sepupuku, bukan Irene yang pernah berhubungan denganku saat masih sekolah dulu. Namanya saja yang sama. ]


[ Ya Allah, Dina. Irene yang kau cemburui itu sudah lama meninggal. Kenapa kau tak pernah bertanya padaku tentang ini? ]


[ Pulanglah, Dina. Aku tak pernah selingkuh di belakangmu. Kau juga tahu kalau semua keponakanku memanggilku dengan sebutan Ayah, dan aku memanggil mereka anak, bukan? ]


[ Jika tidak percaya, kau boleh hubungi Mama saat ini. Irene sementara tinggal di rumah Mama. ]


Semua pesan-pesan ini belum sempat kubaca. Sungguh aku begitu menyesal sudah berburuk sangka pada suamiku. Mas Awan tetap menjadi suami yang setia seperti sedia dulu kala, saat kami bertemu. Tangis haru tumpah membawa semua beban yang sudah kurasakan selama ini.


Kuhapus air mata yang sudah membajiri pipi. Aku harus segera mendatangi suamiku dan meminta maaf padanya. Akan kuciumi tangan dan bersujud pada kakinya karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak selama ini.


Deg ....


Tiba-tiba langkahku terhenti menyadari sesuatu. Bukan-bukan ini yang terjadi sebenarnya. Sial! Kurang ajar kau, Mas. Jadi begini taktikmu selama ini? Arrrggh ... benar-benar fatal.


Aku segera berlari menghampiri suamiku mengguncangkan tubuhnya agar segera terbangun, namun dia tidak bergerak sama sekali. Kusandarkan telingaku pada dadanya untuk mencari detak jantung, tapi tak ada. Tak ada sedikitpun detakan di sana.


Apa mungkin jantungnya ikut membeku saat kukunci dirinya dalam freezer box besar dalam dapur kami selama seminggu?


Dengan susah payah kuangkat tubuhnya keluar dari freezer box, kemudian kutumpahkan minyak goreng ke atas tubuhnya, lalu kunyalakan api agar bisa menghangatkan tubuhnya menjadi normal.


Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, hingga satu jam berjalan, tapi dia tetap tidak bergerak. Yang kudapatkan hanyalah pakaiannya yang meleleh bersama beberapa kulitnya hingga memperlihatkan beberapa bagian daging yang berwarna merah kecoklatan.


Baiklah kalau begitu, Mas. Aku akan menyusulmu ke sana, agar Irene mantan pacarmu tahu kalau kau sudah beristri. Jangan harap kalian bisa bersenang-senang tanpaku. Bagaimanapun kau milikku.


Yang harus kupikirkan saat ini, pisau dapur mana yang bisa dengan cepat mengantarkanku padamu?


*❤️ Tamat* ❤️


➖ Sarah Eszed ➖**