Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
RESEP ISTIMEWA IBU




“Sepertinya aku mau pulang saja.”


“Masalah apa lagi ini? Kau pikir biaya untuk pulang balik ke rumahmu itu tidak mahal?”


“Hari ini Ibu mempermalukan aku depan keluargamu. Dia bilang kalau aku tidak perlu diberi makan. Selama kita menikah, apa pernah aku minta uang ini itu padamu? Aku bahkan menyuruh untuk memberikan gajimu untuknya, karena aku tau kalau kita masih numpang di rumahnya. Aku capek, Yah. Aku mau pulang saja kalau begini terus.”


“Pulang? Pulang saja jadi senjatamu. Kalau begitu kita pulang saja. Biar aku marahi Ibu sekarang. Itu mau kamu?”


“Justru itu memperkeruh keadaan saja. Aku mengajakmu bicara untuk cari solusi, bukan menambah perkara.”


“Sabarlah. Siapa yang tidak ingin punya tempat sendiri? Tenang saja dulu. Tolong aku untuk bersabar sedikit lagi. Tidak perlu kamu dengarkan apa yang Ibu keluhkan setiap hari. Tidak padamu saja, dia memang seperti itu.”


➖➖➖➖➖


Sebelumnya .…


Pagi ini banyak keluarga yang bertamu ke rumah, tepat saat pekerjaanku sedang sibuk-sibuknya. Kondisi ini membuat aku tidak bisa keluar dari kamar untuk ikut nimbrung bersama mereka. Jangankan punya waktu untuk ikut berbasa-basi di sana, waktu untuk tidur cukup saja aku tak punya karena pekerjaan ini.


Suara dentingan piring dan tawa dari luar. Sepertinya mereka akan makan bersama. Terdengar samar percakapan dari mereka dari luar.


“Mana Firda? Dia tidak terlihat dari tadi.”


“Biasalah. Dia mah sibuk banget, entah sibuk atau malas.”


“Sudah waktunya makan siang ini. Panggil keluar saja. Dia pasti sudah lapar, sepertinya dari tadi pagi belum makan.”


“Tidak perlu mengajaknya makan. Bantu saja tidak, ngapain makan?”


Kesal rasanya mendengar Ibu bicara seperti itu. Jika hidup kami berkecukupan, akupun tak ingin bekerja seperti ini sebagai Admin freelance toko online di rumah hanya untuk membantu keuangan keluarga. Aku juga tak pernah minta uang belanja dari Mas Abdi, bahkan selalu meminta Mas Abdi agar memberikan upah hasil driver freelancenya untuk Ibu saja, karena dia yang memasak. Aku bisa hidup dari pendapatanku sendiri dan ikut bantu biaya lainnya.


Tiap pagi ibu selalu berteriak dengan suara yang lantang di depan jendela kamar kami, ini lah, itu lah, pokoknya ada saja hal kecil yang selalu dikeluhkan untukku. Ya ... hanya untukku. Itu tidak berlaku untuk Mas Abdi, karena dia sudah kebal. Dia sudah kebal dengan teriakan serak ibu yang sama sekali tidak terdengar merdu di telingaku.


Tuhan ....


Mengapa kehidupanku menjadi seperti ini?


➖➖➖➖➖


Setelah kejadian itu aku menjadi jarang bicara. Mungkin Mas Abdi melihat sedikit perubahan dariku. Dia mengeluarkan amplop dari kantung celananya dan diberikan padaku.


“Ini untuk jajan, Bun. Aku ada rejeki lebih dari bos hari ini.”


“Beri Ibu saja, Yah. Nanti dia marah kalau uang belanjanya berkurang.”


“Ibu sudah aku beri tadi. Ini untukmu. Belanja, jalan-jalan, ke salon, terserah. Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan.”


“Apa saja boleh?”


“Boleh dong, sayang. Apapun itu, terserah.”


Aku nyimpan amplop yang diberikan suamiku di dalam laci lemari kami.


\=\=\=\=


“Yah... Cepet pulang ya. Aku buat rendang daging kesukaanmu.”


“Wah, tumben. Ibu gak masak hari ini?”


“Tadi pagi ibu dijemput Paman. Sepertinya dia nginap seperti biasa.”


“Yeee…. Enak aja.”


Sepulang kerja, Mas Abdi makan rendang buatanku dengan lahap. Mungkin aku harus sering-sering masak untuknya.


Kepergian ibu membuat aku lebih tenang dan lebih sering duduk di halaman depan rumah. Aku merasa lebih sehat karena terkena sinar matahari selama lima hari ini. Rumah jadi lebih bersih dan teratur, karena selama ini Ibu hanya fokus ke dapur saja dan tidak peduli dengan isi rumah yang tidak tersusun baik. Bahkan Mas Abdi juga bilang kalau ada suasana baru yang menyenangkan di sini, Ya ... karena aku tipe orang yang suka dengan keteraturan.


"Masak apa hari ini, sayang?" Mas Abdi menelepon siang ini.


"Sup kambing, Yah."


"Wah enak banget itu."


"Iya, Resep dari Ibu dulu. Ayah pasti kangen dengan masakan Ibu kan?"


"Ah bisa aja kamu. Aku pulang agak malam. Hari ini ada tugas."


"Tidak apa-apa, kabari saja sebelum pulang."


Aku bersih-bersih dan menunggu malam tiba. Setelah mendapat kabar dari Mas Abdi kalau sebentar lagi dia akan pulang, aku segera menyiapkan meja makan untuk menyambut kedatangannya. Dia pasti suka masakan yang kubuat spesial malam ini.


"Gimana, Yah? Enak tidak?"


"Enak banget. Do'akan rejekiku lancar ya, biar kita pindah dan bunda Bunda gak perlu untuk kerja lagi. Lebih nyaman seperti ini saat Bunda sering mengurus rumah."


"Gak masalah, Yah. Aku akan terbiasa tinggal di sini."


"Syukurlah. Ayah senang dengarnya. Aku rasa Ibupun nanti bisa lebih melemah jika sering-sering ngobrol denganmu."


"Iya, Yah. Akupun capek jika bermasalah terus dengan Ibu."


"Ngomong-ngomong akhir-akhir ini kamu selalu masak enak. Semua ini mahal dan mewah loh. Sedang banyak job ya?"


"Ah gak juga kok, Yah. Cuma untuk kita berdua saja."


"Oh ya sudah. Jadi ingat masakan Ibu."


"Kenapa, Yah?"


"Masakanmu hari ini mirip banget dengan rasa Sup Kambing buatan tangan Ibu."


"Memang itu dari tangan Ibu, Yah."


"Oh iya. Ini kan resep dari Ibu."


"Bukan cuma itu, Yah. Itu emang tangan Ibu. Tangan kirinya. Yang kanan tadi kuberikan ke tetangga depan rumah, Tapi tenang saja, Yah. Jari manisnya masih aku simpan untuk kenang-kenangan di kulkas."


"Becandamu gak lucu ah, Bun"


"Tidak kok, Yah. Uang yang Ayah berikan tempo hari, aku gunakan untuk belanja bumbu dan pelengkap. Ayah kan bilang terserah waktu itu. Pikirku akan enak rasanya jika bumbu yang ku beli, disandingkan dengan daging terbaik."


"Apa maksud kamu, Bun?!" Suaranya sedikit lantang."


Tiba-tiba Mas Abdi berdiri dari tempat duduknya menghampiri kulkas, lalu membukanya. Dan dia tiba-tiba terduduk lemas setelah melihat cincin yang biasa Ibu gunakan masih tersemat di jari manisnya dalam kulkas.


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖