Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 9



Paginya Maira menyiapkan serapan hanya untuknya, setelah perbincangan semalam dia takut akan salah lagi nantinya, siapa tau Gama tidak suka masakan rumahan, atau ada spesial tukang masaknya nanti, atau dia suka go food mungkin. jadi Maira memutuskan untuk memasak untuknya saja.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.25 wib,Tapi belum juga ada tanda-tanda Gama keluar dari kamarnya, karena memang Maira tidur diruang tamu semalam dan benar saja Gama memang tidak mengatakan apa-apa pun padanya.dan pukul setengah dua sudah, Maira memutuskan untuk melihatnya.


"Kalau dia kenapa-kenapa, aku juga yang kena" pikirnya. saat dia hampir mengetuk pintunya saat itu juga Gama keluar dan tanpa sengaja Maira mengenai kepalanya.


"Hawu.. ngapain sih kamu," tanyanya dengan nada kesakitan. tetapi seperti bentakan untuk Maira.


"Maaf.. maaf..tadi aku ingin mengecek, kenapa Kakak tidak keluar, aku pikir terjadi sesuatu."


"Sudah aku bilang jangan cari perhatian dari aku.."


Miris emang tapi bagaimana lagi, inilah mungkin salah satu resiko menikah dengan perjodohan, karena nyatanya tidak semua seindah di novel dan K-drama yang sering ditontonnya.


"Aku hanya khawatir saja,." Maira berusaha tetap tegar walau sebenarnya hatinya perih ditolak terang- terangan seperti itu.


Sebenarnya Gama sendiri, tidak tega melihat Maira seperti itu, tapi entah demi apa dia harus melakukan itu.


Dan saat Maira hendak beranjak, Gama mengingatkannya lagi.


"Jangan terlalu berharap pada hubungan ini, kau bebas melakukan sesukamu,dan jangan pernah urusin urusanku." Gama mengucapkan dengan penekanan dan berlalu begitu saja.


"Bagaimana bisa aku tetap pura-pura, dan biasa aja, kalau nyatanya aku sudah tidak bisa lagi seperti dulu, kau telah mengambilnya Gamaliel."


gumamnya yang pasti hanya bisa didengar olehnya sendiri.


Hari ini Maira mencoba melakukan seperti yang dikatakan Gama, melakukan hari-harinya seperti gadis dulu, dan kebetulan minggu, jadi memutuskan pergi keluar menemui sahabatnya sekaligus rekan kerjanya siapa lagi kalau bukan Nisa.


"Ok on the way ini..."


"Lama Mai, ibarat jodoh ni dah di ambil ama orang lain ni, buru dong.."


" Iya bawel..!"


" Ok lah, aku mau kunci target kita dulu ok, see you honey."


Benarkan saat suasana hatinya, kacau seperti ini Nisa selalu bisa membuatnya untuk tetap tersenyum, beruntung sekali dia memiliki sahabat seperti itu. dia teringat saat hendak pamit tadi, Gama tidak menghiraukannya dan berlalu begitu saja ke kamar tanpa menoleh padanya dan langsung menutup pintunya. dan Maira hanya bisa menghela nafasnya.


*


*


*


"Mai.. !"seru Nisa saat menginjakkan kakinya di tempat langganan mereka dan tak lupa memeluknya.


"Apaan sih Nisa malu tau diliatin orang juga,"


"Bodoh ah,, kangen tau," rengekan sok manja dan masih bersandar di pundak Maira.


"Ih.. baru juga dua minggu Nisa, udah sok kangen, awas ah ntar orang pada mikir aneh tau."


"Kemana sih kamu Mai,, kawin lari," tanya Nisa asal tapi berhasil membuat Maira tertegun sekejap.dia berpikir apa mungkin Nisa tau soal pernikahannya.