
"Gempita.! jaga bicaramu, Maira juga kakak Ipar mu sama dengan Kinara," kali ini Pak Pradipta yang menegurnya.
Setelah drama di meja makan tadi, Maira masih sedikit penasaran siapa sebenarnya Kinara itu, kenapa setelah mendengar namanya, Gama sedikit berubah, dia langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan, sepatah katapun.
"Bi Rum, sudah lama kerja di rumah ini?" tanya Maira pada salah satu art di rumah mertuanya itu. ya, Maira sekarang, berada di dapur karena setelah serapan tadi, hanya Maira yang tinggal. semuanya memiliki kesibukan. Mama mertuanya juga pergi ke yayasannya. jika sudah begini jiwa kerjanya pasti meronta-ronta, dia menyesal mengambil cuti yang cukup lama.
" Sudah non, mang kenapa non?" tanya bi Rum.
"Itu artinya, bibi tau siapa Kinara,."
"Ya tau lah non, nona Kinara itu menantu pertama tuan Pradipta,"
" Ohh..!" ucap Maira sedikit lega ternyata menantu pertama, hal itu tidak mengusik pikirannya lagi, karena menurutnya, wajar saja ada perbandingan. dia cukup tau diri dan jelas-jelas tau alasan bisa jadi menantu di keluarga Pradipta.
Selesai dari dapur, Maira lebih memilih kembali ke kamar, disini dia ingat kembali, kejadian semalam yang membuat wajahnya merah merona.
"Sepertinya ada yang aneh dengan otakku ini, aku terus mengingatnya, jika terus seperti ini bisa gila aku," Maira menggerutu sendiri. sambil menyelusuri kamar suaminya itu. yang sangat tertata rapi dengan nuansa serba gelap.
"Foto siapa ni, cantik sekali," tanya Maira saat mengotak- atik meja Gama tadi. difoto itu dia melihat suaminya dengan seorang wanita tertawa dan menurut Maira Gama sangat tampan di foto itu.
Maira memutuskan berhenti, mengotak-atik kamar Gama dia tidak ingin semakin dalam, karena tidak tau apa lagi yang ditemukannya yang mampu membuat hatinya menimbulkan rasa aneh yang belum pernah dirasakannya.
Sudah berapa hari berlalu sejak pernikahan mereka Gama tidak pulang ke rumah, Maira benar-benar merasa ada yang aneh dengan perasaannya, kenapa dia sedih, padahal tau jelas Gama tidak mengharapkannya. dan berapa hari ini juga, Mama mertuanya cukup membuatnya sedikit memiliki alasan untuk semangat kembali, Mama mertuanya selalu menemaninya dan membelanya saat adik ipar yang bungsu habis-habisan meledaknya. seperti sekarang di meja makan juga Maira lagi-lagi harus dihadapkan dengan adik iparnya itu.
"Kak Maira tidak ada kerjaan ya, makan tidur saja aku nampak?"tanya Gempita dan tidak lupa dengan nada meledaknya.
"Aku masih cuti," jawab Maira singkat dia rasanya malas berdebat dengan adik iparnya itu.
"Wah,,! enak dong gak da suami yang mau diurus, makan tidur di rumah mertua," Sindirnya lagi.
Dan entah sejak kapan jiwa mengumpat Maira muncul, dia mengumpat adik iparnya itu segera menikah dan merasakan apa dia rasa sekarang, setelah sah jadi seorang istri, suaminya meninggalkannya seperti sampah, tidak ada kata-kata manis atau menyakitkan, dan membuat Maira, bertanya-tanya apa salahnya saat malam pertama mereka, adakah yang salah padanya malam itu, hingga membuat Gama Pradipta tidak ingat bahwa dia sudah memiliki istri.
"Kau terlalu sibuk dengan urusan orang, bukankah kau seharusnya masih di Singapura, kenapa kau bolak balik kesini, apa kau memiliki masalah di sana?" kali ini Gini Pradipta yang menegurnya.
"Kakak, aku hanya,."
"Sudahlah, jangan banyak alasan, selesaikan urusanmu, jangan membuat Gama kecewa, dia sekarang sangat sibuk, perusahaan baru ini hasil usahanya sendiri, jadi jangan membebaninya dengan masalahmu lagi," ucap Gini dan sengaja atau tidaknya, Maira kini tau alasan Gama tidak pulang dia harus merintis perusahaan barunya dan hal itu membuat hatinya sedikit lega, dan pikiran- pikiran buruknya pun lenyap seketika.