
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, seperti masa gadis dulu, tidak akan ada yang menanyainya, dimana, sedang apa, kenapa belum pulang, sama siapa, dan memerintahkan untuk cepat pulang, karena memang sejak kepergian Ibunya, Maira sudah tidak dekat lagi dengan Ayahnya, begitu juga dengan Nisa yang memiliki keluarga broken home. itu sebabnya sejak pertama kenal mereka langsung cocok.
"Sudah menikah pun, aku masih tetap terabaikan Bu," gumamnya dengan tetes air mata, karena memang yang akhir-akhir ini yang moodnya suka berubah-ubah tak jelas. dia pun terdiam dan buru-buru mengusap air matanya, saat sebuah mobil plat hitam tiba-tiba berhenti didepan mereka.
"Ada apa denganmu, apa kau mau mati,.! bentak Gama saat Bagas berhenti tiba-tiba tadi. ya, mobil itu mobil Gama yang juga setelah tidak berselang beberapa menit ikut keluar dari dalam klub malam.
Gama merasa ada yang aneh, dia seperti dijebak dengan sesuatu, dan Bagas sekretarisnya itu langsung bisa tau apa terjadi itu sebabnya dia, dia langsung membawa pulang Bosnya atau tuan mudanya itu.
Bukannya menjawab Bosnya itu, Bagas malah menawari Maira masuk dan pulang bersama, karena memang sejak tadi Gama diam-diam menyuruh untuk mengawasi mereka." masuk Non,!"
Maira berpikir sejenak dan melirik Gama yang terlihat sedikit gelisah, walau masih dengan ekspresi datarnya.
"Baiklah..! tapi bisakah tolong bantu aku, memasukkan temanku."
"Ah..iya Non,"jawab Bagas yang sambil turun dan hendak membuka pintu belakang yang langsung dapat tatapan tajam dari Gama.
"Kenapa,.?" tanya Maira yang merasa bingung dengan sikap Bagas.
"Sebaiknya teman Nona didepan saja, nanti jika terjadi sesuatu akan sangat rumit jadinya."jawab Bagas. karena jika teman istri Bosnya itu duduk dibelakang dan muntah, maka habislah dia.
Dan walau berat hati, Maira terpaksa duduk dibelakang dengan suaminya itu, yang sedikit aneh menurutnya.
"Dimana alamat teman Non" Bagas bertanya dan memecahkan keheningan sejak mobil mereka jalan tadi.
"Kami,, apa Non tidak ikut Bos,"
"Apa maksud Bagas sialan ni, sudah seenaknya ngambil keputusan, sudah tau aku seperti ini, akan lebih baik wanita ini pulang ke rumah temannya." batin Gama.
"Temanku bagaimana,?"tanya Maira yang khawatir dengan Nisa yang sejak tadi sudah tertidur walau sekali-kali mengigau tak jelas.
"Tenang Non, aku yang ngurus, Non urus Bos saja, Bos itu lagi kurang sehat," saran Bagas dan langsung dapat tatapan tajam dari Gama tapi kali ini tidak mempengaruhinya.
"Apa dia sakit, pantesan saja dari tadi dia keringat dingin dan gelisah, makanya jangan suka minum sirup haram, sakit kan." batin Maira yang memang sejak tadi diam- diam melirik Gama yang terlihat gelisah.
"Apa tidak lebih baik dibawa ke Dokter saja," saran Maira.
"Tidak Non, Non saja yang ngobatin pasti sembuh,"
"Aku..! baiklah." walau ragu Maira pun mengiyakannya.
"Diam lah, kalian berisik sekali," Gama mengucapkan dengan lantang dan kesal karena sedari tadi dia berusaha mati-matian menahan sesuatu yang harus dituntaskan, dan entah kenapa setiap mendengar suara Maira malah menambah gelegar panas dalam dirinya.
"Sudah sakit, masih tetap menyebalkan, benar-benar pria arogan, untung tampan," batin Maira, karena entah sejak kapan Maira melihat suaminya semakin menarik perhatiannya dan tidak bisa benar-benar membencinya. walaupun kata-kata yang keluar dari mulut suaminya pedas semua.