
Seminggu sudah, Maira sudah tidak melihat Gama dan hal itu bukan masalah lagi bagi Maira, yang menjadi masalahnya, dia selalu mengutuk dirinya, kenapa ambil cuti lama-lama saat melihat, anggota keluarga pergi kerja, mulailah jiwanya meronta-meronta cepat masuk kerja dan bertemu Nisa, satu-satunya teman Maira, yang selalu membuat handphonenya berbunyi. yang lebih tepatnya seperti wartawan perusahaan,yang selalu memberi kabar yang terjadi di tempat kerjanya itu, seperti saat CEO mereka baru, semua hal pasti akan dikabarin itu salah satu alasan Maira, ingin cepat masuk kerja selain bosan, dia juga tak sabar melihat ekspresi hebohnya Nisa. yang mungkin bisa mengurangi beban pikirannya saat ini. karena Maira cenderung pendiam, hanya Nisa saja yang membuatnya nyaman berteman. karena seorang pendiam, akan sangat heboh saat mendapati yang teman yang tepat.
"Apa yang harus lakukan, ah.. bosan sekali," gerutu Maira saat keluar dari kamar. dan mulai menyelusuri rumah mertuanya. kini dia berakhir di dapur" apa sebaiknya aku buat kue saja ya" gumamnya pada diri sendiri.
"Non,.. Maira, apa ada yang mau di bantu non?" tanya Bi Rum, saat menyadari kedatangan Maira.
" Tidak Bi, aku bosan saja tidak tau berbuat apa, seharian berbaring di kamar buat badan sakit saja, aku ingin bantu- bantu Bibi bisa" pinta Maira.
"Jangan non, bisa kena ngamuk kami sama tuan," tolak Bi Rum.
"Gapapa,kan saya yang mau.."
"Jangan non, kita belajar dari pengalaman saja non Kinara juga, dulu suka bantu di dapur, eh kami juga yang kena semprot sama tuan muda," jawab salah satu art yang lain.
"Kinara lagi, ya ampun kenapa jadi pengen kepo ya," batin Maira.
"Kenapa kan cuma bantu doang Bi?"
"Iya non, dulu sebelum tuan muda Revan dan non Kinara pindah ke singapura, mereka tinggal disini, non Kinara juga suka bantu kami, tapi tangan non Kinara terluka, kena iris pisau, ehhhh.. habis kami non, kena bentak tuan Revan!" seru bi Rum.
" Nama itu, seperti tidak asing," batin Maira.
"Itu lebih baik non, dari pada tuan Gama nanti sakit hati terus."
"Gama.."
"Astaga..keceplosan non, maaf ya non, Bi Rum salah ngomong kok," jawab Bi Rum.
"Ada rahasia apa ini, jadi penasaran." batin Maira.
"Enggak papa Bi, cerita aja, aku juga belum terlalu kenal sama keluarga ini, pasti bibi udah tau gimana aku sama Gama nikah, jadi enggak usah enggak enakan gitu Bi," Maira berusaha bersikap biasa saja.
"Benar nih, non gak papa?" tanya Bi Rum."ntar non sakit hati lagi," Bi Rum mencoba untuk memastikan lagi.
"Enggak papa loh Bi, cerita aja,"
Disinilah Maira sekarang, duduk sendiri di taman belakang rumah mertuanya, setelah Bi Rum bercerita tadi, entah kenapa mood nya berubah, ada perasaan aneh di hatinya. setelah baru tau kalau Mama mertuanya itu, ternyata istri kedua Pak Pradipta, dan Revan itu dari istri pertama, Dan selain Gama dan Gini itu ternyata kembar, dan parahnya lagi kalau Kinara sebenarnya cinta pertama Gama, dulu mereka selalu bersama, tapi malah menikah dengan Revan Kakaknya, dan itu juga membuat Gama berubah menjadi seperti sekarang, suka bermain wanita. Maira jadi penasaran, kenapa Kinara malah menikah dengan Revan, bukan dengan Gama.
"Masalah pa ya mereka?" gumam Maira pada diri sendiri. "ah.., kenapa dengan ku, sadar..mai..sadar, jangan bilang kamu suka duluan sama tu cowok."gerutu Maira dengan kedua tangan menepuk wajahnya.