Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 6



Beberapa hari ini, Maira merasa seperti masa gadis dulu, dia terbiasa lagi dengan kesendiriannya, dia tidak ambil pusing lagi dengan urusan Gama. toh, kehidupannya tak ada yang berubah, walau nyatanya sekarang dia tidak gadis lagi. dan seperti biasa setelah semua keluarga Pradipta pergi, dengan kesibukan masing-masing, Maira lebih memilih bersantai di taman belakang rumah mertuanya, banyak bunga yang indah di sana, dan menjadi tempat favoritnya di rumah mertuanya itu.


"Non Maira, maaf mengganggu, tapi tadi nyonya besar telpon, agar non Maira segera, beres-beres non." ucap bi Rum.


Maira sedikit kaget, dengan kedatangan bi Rum yang tiba-tiba. tapi lebih penasaran dengan perintah yang didengarnya. "beres-beres bi, maksudnya?" tanya Maira.


"Tidak tau non, nyonya cuman bilang non Maira, siap-siap karena, sebentar lagi supir jemput non, gitu aja katanya non," jelas bi Rum.


"Ohh,, ya udah makasih ya bi."


Dan disinilah Maira sekarang, di kawasan apartemen elit. yang masih membuat Maira bertanya-tanya. "Kenapa Mama Violin, nyuruh aku kesini yah?".


" Disini apartemennya Gama sayang,!"seru Mama Violin, entah dari mana datangnya mertuanya itu."ayo.. ikut Mama, kita beri kejutan buat suamimu itu,"ajak Mama Violin, dan Maira hanya bisa mengekornya dari belakang.


Sampailah di depan apartemen Gama, Mama Violin, berkali-kali pencet bel nya, tapi nihil itu artinya tak orang di dalamnya."kemana sebenarnya anak ini,"gerutu Mama Violin, lalu beralih mengotak atik hpnya yang jelas pasti menghubungi Gama.


Di sisi lain, Gama yang sibuk beberapa minggu ini, untuk mengurus perusahaan baru yang yang dirintisnya sendiri. tidak ada waktu sama sekali pulang ke rumah atau apartemennya. dia selalu menginap di kantornya, yang memang fasilitasnya semua lengkap. dia sengaja tidak mengabari keluarganya, terlebih mamanya sebagai bentuk protesnya karena memaksanya menikah. dan Maira dia bahkan tidak tau harus bagaimana dengan wanita yang berstatus istrinya itu, karena niat hanya mengerjainya, Gama malah benar-benar mengambil haknya. dan walau nyatanya Maira lah, yang pertama juga untuknya, Gama memang sengaja membiarkan rumor buruk tentangnya, yang suka dunia malam bahkan gonta-ganti pasangan, itu bentuk kemarahannya, karena Mama Violin menjodohkan wanita yang dicintainya, dengan kakaknya sendiri.


"Tuan,, nyonya besar!" seru Bagas sekretaris Gama, saat ada panggilan di handphonenya.


"Mau ngapain lagi ni Mama,"


"Angkatlah..! kenapa harus bertanya.." Gama menjawab dengan nada kesalnya, entah kenapa kejadian malam itu selalu terngiang di kepalanya, dan membuat moodnya berubah-ubah, ada sesuatu yang tak bisa di jelaskan.


"Tuh.. kan, salah lagi, kalau aku tidak bertanya dulu salah, bertanya salah juga," batin Bagas.


"Iya halo mah,. ada apa?"


"Nak, Mama didepan apartemen kamu, mau nanya sandinya apa?" tanya Mama violin dari seberang sana.


"Habislah kau Tuan,," batin Bagas. karena Bagas tau semua tentang Tuannya itu, tak ada rahasia Gama yang tidak dia tau.


Sedikit ragu, Gama akhirnya memberitahu Mamanya. "Kinara...!" dan setelah mengucapkan itu, Mama violin memutuskan telponnya.


"Sebaiknya nanti, cepat kamu ganti sandinya, Mama sudah bawa istri kamu kesini ."pesan dari Mama Violin


"Mama selalu membuat, keputusan sendiri." gumam Gama saat membaca pesan dari Mama nya.


Perasaan Maira sangat kacau, dia tidak tau harus berbuat apa, jelas-jelas dia tidak dianggap suaminya itu, kenapa Mama Violin, malah membawanya kesini. dan tambah kacau lagi, setelah tau nama siapa yang di pakai Gama untuk sandinya. itu artinya sampai detik ini juga Gama pasti belum move on dari cinta pertamanya. walau tadi Mama Violin, berusaha menutupi, tapi dia terlanjur mendengar semua pembicaraan mereka, dan lagi-lagi Maira tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.