Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 28



Setelah keluar kamar, niat ingin menenangkan pikirannya, suasana hatinya makin kacàu karena melihat adik ipar bungsunya Gempita begitu antusias mendekor ruangan untuk acara nanti malam.


"Apanya untuk acara perkenalan ku, ini penyambutan untuk menantu tercinta di rumah ini" gerutu Maira saat Gempita tadi mendekor semua dengan warna kesukaan Kirana.


Disana juga dia melihat Gini Pradipta, hanya saja dia tidak sesibuk si bungsu, dia terlihat fokus pada layar laptop nya.


"Dia sungguh wanita karier sejati, dimana pun selalu fokus pada pekerjaan" batin Maira sambil menatap kagum padanya.


"Dari pada kakak bengong aja, mending ikut bantuin tuh beresin kursi-kursinya" perintah Gempita sembari menunjuk kursi yang menurut Maira sudah tertata rapi disana.


"Sumpah nak, Mama bukan orang yang suka mengumpat, tapi kenapa setiap melihat bibimu yang satu ini, Mama ingin sekali mengumpatnya, selalu seenaknya sama Mama" lagi Maira hanya bisa membatin sambil mengusap perutnya.


Maira lebih memilih tidak menghiraukan adik iparnya itu, dia pergi melongos begitu saja menuju dapur "Lebih baik aku isi perut ku saja, dari pada ladenin kamu"


Tak berselang lama Gama turun dari atas, dia terlihat seperti mencari seseorang, yang sebenarnya ingin melihat apa yang di lakukan istrinya itu.


"Dia di dapur" ucap Gini yang dari tadi memperhatikan Gama.


"Aku tidak mencarinya"


Melihat Gama seperti itu, Gini tersenyum karena jelas kali sifat saudaranya itu, seperti yang lagi kasmaran cuek- cuek malu."lalu cari siapa?" tanya nya lagi.


"Aku tau kakak Gama cari siapa, bentar lagi nyampe kok kak" saut Gempita.


Maira kebetulan sekali datang dari dapur, dengan membawa satu toples makanan ringan di tangannya. karena niat mau bantu di dapur, tapi para Art disana enggan menerimanya, takut kena marah sama Nyonya besar mereka.


Karena saat ini ketiga saudara itu sedang menatapnya, Maira hanya bisa tersenyum kaku sambil menawarkan makanan di tangannya." Pada mau" ucap nya.


Hanya Gini yang menanggapiny."tidak makan saja" balas nya dengan tersenyum tidak dengan Gama yang hanya diam.


"Tuh dia yang kita tunggu, sudah datang!"seru Gempita heboh sambil berlari kecil ke arah pintu.


Sontak semua mata tertuju kesana, dan melihat Kinara yang sambil menarik koper kecil di tangannya, yang langsung di ambil alih para pelayan disana.


"Kakak gak ikut?" tanya Gini tanpa membalas sapaan Kinara.


"Dia masih ada urusan, nanti malam baru datang, dia nyuruh aku duluan, agar bisa istirahat"


"Oh..!" seru Gini singkat, yang membuat Maira sedikit heran dengan mereka.


"Irit sekali bicara mereka" batin Maira.


Sejenak suasana menjadi hening, dan tiba-tiba saja Mama Violin muncul, sedikit membantu suasana menjadi normal tidak canggung lagi.


"Kamu udah sampai sayang" sambut mama Violin sama lembutnya saat bicara dengan Maira.


"Iya Ma, tapi Mas Randy ada urusan yang ingin di selesaikan dulu"


Sedangkan Maira dari tadi tidak bisa memalingkan pandangannya dari Gama, dia benar-benar penasaran bagaimana reaksi suaminya itu, tapi nyatanya terlihat seperti biasa saja. dan itu cukup membuatnya bingung.


"Kenapa dia terlihat biasa saja, tapi aku tau dia pasti berusaha nati-matian menjaga sikapnya" batin Maira sambil memakan cemilannya.


"Kak Kinara, selamat yah atas kabar bahagianya!" seru Gempita heboh yang di ikuti mama Violin dengan mengelus perut Kinara.


Maira melihat itu merasa sedih, "bagaimana jika mereka tau, aku juga sedang mengandung, apa akan ada seperti ini sambutan mereka apa akan ada yang senang" batin Maira.


"Mama juga berharap Mai, dapat kabar bahagia dari kamu," ucap Mama Violin sembari menarik tangan Maira lembut dan memperkenalkan nya pada Kinara."Kinara, ini Maira istri Gama"


Mendengar ucapan mama mertuanya seperti itu, membuat Maira senang" ternyata ada juga yang berharap Nak" batinnya.


"Pasti secepatnya iya kan Gama" saut Gini yang terlihat antusias. karena saat tadi sempat melihat Maira mengelus lembut perutnya dan jika melihat nafsu makan Maira dia yakin, istri saudara kembarnya itu pasti sedang hamil.


"Tidak! tidak ada kabar seperti itu" ucap Gama dingin dan pergi begitu saja. tidak peduli dengan mengucapkan seperti itu, membuat hati Maira perih.


"Astaga, segitu tidak sukanya dia padaku" batin Maira sambil menahan bulir-bulir air yang siap membasahi pipinya.