
Sesampai di apartemen, sekretaris Suaminya itu, menyerahkan semua masalah Gama untuknya. Bagas berpesan akan sangat bahaya jika tidak segera dituntaskan.
"Dituntaskan, maksudnya..? tanya Maira.!"seperti pekerjaan saja," batinnya.
"Segera dibantu, itu maksud saya Non," jawab Bagas."maaf Non jika terkesan menjebak, lagian sudah sewajarnya bukan Nona kan Istrinya, sekali lagi maaf Non," Batin Bagas.
"Oh..!" walau dalam dilema dan bingung, dan mau tak mau dia harus mempercayakan Nisa juga kepada Bagas, sebenarnya dia tidak terlalu khawatir dengan Nisa, tapi sebaliknya dia merasa tidak enak merepotkan Bagas, karena Maira tau bagaimana menyebalkan Nisa saat mabuk, karena ini yang kedua kalinya Nisa mabuk, kejadiannya sudah sangat lama saat mereka menang tender, dan merayakannya secara tidak sengaja, sahabatnya itu meminum minuman keras dan berakhir cakar-cakaran dengan salah seorang cewek yang berada di sana.
*
*
"Keluarlah..! sebaiknya kamu keluar, atau nanti akan menyesal." dengan keringat yang bercucuran, dan wajah yang terlihat menahan sesuatu, Gama mengingatkan Maira.
Bukannya keluar Maira malah merapikan tempat tidur, yang terlihat sedikit berantakan." berbaringlah aku akan mencoba mengompres," dia memutuskan merawat Gama, memutuskan untuk mengabaikan ocehannya, Maira masih berpikir, kalau Gama benar-benar sakit biasa yang jika dikompres mungkin akan mendingan.
"Percuma.. tidak akan ada gunanya,"
Dan detik berikutnya, "jangan salahkan aku, karena sudah mengingatkanmu" dengan seringai yang cukup aneh Gama mendekati lalu menghempaskan Maira ke kasur, mendapat serangan tiba-tiba seperti itu, Maira hanya bisa diam.
Dan merasa tidak ada penolakan Gama mencium dan meraup leher jenjang Maira, yang berhasil menyadarkan Maira.dan dengan cepat mendorong Suaminya, Walau sedikit pun tidak mengubah posisi Gama, hanya saja menghentikan aksinya.
"Apa-apaan ini Kak,"
"Sepertinya ada yang menjebak ku, dan memasukkan sesuatu ke minumanku, dan sekarang kau pasti tau maksudnya kan, dengan cara apa ini berakhir, aku benar-benar tidak tahan."Gama menjelaskannya dengan mata yang memelas dan mendamba.
Maira mungkin tidak terlalu paham, tetapi berbekal dari novel dan drama yang pernah dibaca dan ditontonnya, dia tau harus bagaimana dan akibatnya jika tidak dituntaskan.
Bahkan dia masih mengingat kata Bagas tadi, harus segera dituntaskan. "benar-benar dah tu sekretaris, kenapa tidak bilang tadi, aku kan tidak seperti orang bodoh sekarang, setidaknya aku bisa lebih siap."batinnya.
"Apa bisa.."
Maira menjawabnya dengan anggukan, yang langsung diserang Gama, dan sekejap kini tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun, dan sedikit berbeda dari malam pertama mereka, saat itu Gama melakukannya dengan cukup kasar dan dengan kemarahan, tapi kali ini dengan lembut dia mengabsen setiap anggota tubuh Istrinya itu, dan Maira hanya pasrah saat Gama melakukan aksinya, dan anehnya seketika moodnya juga sedikit membaik, munafik jika dia tidak menikmati, disaat Gama mengisap dan meremas benda kenyalnya. dia merasakan tubuhnya panas dan merasakan sesuatu ingin keluar darinya tapi menggantung karena Gama belum juga mencapai ke intinya, dia hanya bisa menahan dan detik gama menyatukan tubuh mereka dan memompa dibawah sana, dengan ritme perlahan tapi pasti, Gama melakukannya berungkali dan sama-sama mencapai puncaknya.