Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 14



Maira terbangun saat menghirup aroma kopi yang khas, dan masih dengan tubuh polosnya, yang hanya terbalut selimut. dia melihat seisi ruangan mencari sosok yang semalaman membuatnya lelah.


"Kemana dia?" dengan langkah yang perlahan dan berbalut selimut, dia mendekati pintu. "kenapa aku yang selalu kesiangan, pakaianku entah kemana lagi, apa dia membuangnya."


Dengan perlahan dia mengintip dari balik pintu yang memang sedikit terbuka.


"Jam berapa emang ini, kenapa dia sudah sangat rapi, ada Mas Bagas lagi" gerutunya saat melihat Gama dan sekretarisnya terlihat rapi.dan duduk di sofa, yang beberapa hari ini seperti kamar buatnya. sambil melirik jam dinding yang ada di sana, dan telah menunjukkan pukul tujuh lewat barulah dia sadar. "Ya ampun.. inikan hari senin, hari aku masuk kerja bagaimana ini," paniknya. "Lagian kenapa juga apartemen elit seperti ini, tidak ada toilet dalam kamar." Umpatnya dan bertambah sudah kepanikannya. saat mendengar langkah kaki menuju kamar yang dimana saat ini dia sedang berdiri.


Saat pintu itu terbuka, Maira hanya bisa diam, dan dengan canggung Maira pertama bertanya "Apa kalian masih lama.?"


Gama tidak langsung menjawabnya, dia sibuk mencari sesuatu. "Kami akan berangkat," jawabnya dan dengan posisi membelakangi Maira.


"Aku harap segera." gumamnya pelan tapi masih bisa didengar oleh Gama.


Setelah selesai, akhirnya Gama keluar dan seperti biasa dia pergi seperti angin lalu, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Hari ini aku masuk kerja, bisakah Kakak pinjam kan aku uang, gajian nanti aku bayar." dengan terpaksa dia meminta pada Gama saat hendak keluar tadi.walau dia merasa sekarang terlihat seperti wanita bayaran, yang meminta bayarannya setelah bekerja. tapi karena dia belum tau jarak antara, apartemen sekarang dengan tempat kerjanya. kalau jauh, bisa pusing dia tidak bisa membayar ongkos.


"Ini..! Gunakan sesukamu, ini bayaran, karena sudah membantuku semalam" Gama menyodorkan sebuah kartu padanya.


Deg,,


Mendengar ucapan Gama, seperti ada sesuatu yang menusuk jantungnya, tega sekali Suaminya itu mengucapkan kata-kata seperti itu. bayaran, apa dia memang terlihat seperti wanita bayaran. Apa salah dia melakukan yang menurutnya sudah menjadi kewajibannya sebagai istri.


"Baiklah...!" dan kenapa juga dari semua umpatan yang tersedia di pikirannya. hanya kata-kata itu yang mampu dia ucapkan dan masih berdiri kaku di sana. hingga tersadar tidak ada lagi bunyi suara di luar, sepi diluar sana menandakan tidak ada lagi orang lain selain dirinya.


*


*


Dengan tergesah-gesah dan sedikit berlari dia masuk kedalam. bagaimana tidak, dia sudah sangat lega, karena berpikir tidak telat. tapi saat satpam tadi memberitahu, kalau jam masuk dipercepat menjadi jam delapan kurang.


karena memang satpam di sana selalu rajin menyapanya, Walau kadang dijawabnya hanya dengan senyum dan anggukan. tidak henti-hentinya dia mengumpat kepada Nisa. kenapa hal sepenting ini, tidak memberitahunya.


Dan kebetulan sekali, orang yang di umpatinya muncul di hadapannya. bahkan terlihat sama berantakan dengannya. Nisa juga terlihat buru-buru.


"Mai..!" seru Nisa.


"Apaan sih kamu Nisa, dari hal terpenting di kantor ini, kamu tidak bilang kalau masuknya dipercepat."


"Maaf deh Mai, kan biasanya juga kamu gk pernah telat, setengah tujuh udah datang, tumben sekali kamu telat hari ini, apa semalam kamu mabuk juga.?"


"Ih.. kamu selalu pintar mengelak ya, pokoknya kamu berutang banyak maaf sama aku."


"Iya deh.. iya, jangan marah gitu dong Mai, tungguin napa." dengan sedikit berlari mengikuti langkah Maira, yang terlebih dahulu menuju lift. yang sebentar saja telat mereka pasti akan ketinggalan.


Dan saat Maira berhasil menghentikan tombol lift nya, mereka buru-buru masuk, dan tanpa sengaja Nisa mendorong Maira, sehingga menabrak seseorang di sana. Dan untung saja orang itu dengan sigap menahannya, kalau tidak pasti dia terjatuh. Dan betapa terkejutnya dia saat menatap mata orang menahannya.


"Kak Gama.." Gumamnya dalam hati.