
Setelah lama menunggu akhirnya Gama muncul juga, ya, sejak pulang kerja tadi Maira langsung pulang ke apartemen Gama, yang kini menjadi tempat tinggal mereka.
Sesaat mereka hanya saling menatap, sama seperti sebelumnya tidak saling bicara, mereka hanya bisa protes dalam benak masing-masing.
"Kenapa dia lama sekali" batin Maira yang kini mengikuti Gama masuk saat pintu di buka.
"Apa dia tidak punya handphone, kenapa tidak ada usaha untuk bertanya, lebih memilih capek seperti itu, apa ini salah satu triknya agar aku bersimpati padanya, dasar wanita" batin Gama sesaat baru sampai tadi melihat Maira duduk didepan pintu sembari menunggunya dan terlihat jelas lelah di wajahnya.
Setelah memastikan Gama masuk kamar, Maira kini merasa lega, dia bersandar di sofa, selain lelah menunggu tadi, entah kenapa melihat wajah suaminya itu hatinya capek karena berdetak lebih cepat dan tidak berjalan dengan sewajarnya.
"Hanya memikirkan untuk memberitahu saja rasanya jantungku mau copot, gimana lagi mengutarakannya, entah apa lagi yang terjadi" gumam Maira saat berniat untuk mengatakan hasil dari Dokter tadi.
*
*
*
Malam pun terlewati begitu saja dan masih dengan seperti sebelumnya Maira tidur di sofa, dan masih saja Gama tidak mau tau dengannya.
"Aku harus cepat, aku tidak ingin terlambat lagi cukup di rumah saja aku melihat wajah menyebalkan nya" gerutu Maira yang memang pagi ini bangun lebih awal.
Setelah selesai bersiap untuk berangkat kerja, tiba-tiba saja dia ingin terlebih dahulu melihat wajah Gama, dan kebetulan sekali Gama juga sudah bangun dan kini baru selesai mandi, keluar dengan aroma khas sabun nya yang berhasil membuat Maira sejenak berdiri kaku di tempatnya.
Melihat Maira berdiri kaku seperti itu, Gama sedikit risih apalagi dia kini hanya memakai handuk mandi."kenapa dengannya, bukan kah seharusnya adegan seperti ini pria yang melakukan nya, terpesona melihat wanitanya saat selesai mandi dan hanya terbalut handuk," lagi-lagi Gama hanya bisa protes dalam benaknya.
Gama keluar dari kami kamar, dia sudah rapi dengan pakaian untuk ke kantornya, dia tidak melihat Maira ada di sana. dia melangkah ke arah meja tempat biasa dia serapan, tidak apa-apa bahkan baju kotornya pun masih utuh di sana.
"Wanita itu benar-benar tidak menyiapkan apapun, seharusnya dia berusaha."
"Berusaha ngapain sih Bos, serius amat!" seru Bagas tiba-tiba, yang memang sudah datang tapi tidak di perhatikan Gama.
"Bukan urusanmu" Bentaknya tapi jelas untuk menutupi ke terkejutnya.
"Bos berharap Non Maira buat serapan iya bos" ledek Bagas yang langsung dapat tatapan tajam dari Gama.
"ok,, maaf Bos ku," seru Bagas lagi tak luput mengangkat kedua tangannya.
"Kenapa kamu lama sekali"
"Seperti biasa kok Bos," bantah Bagas.
"Semakin hari kamu makin berani iya, kalo emang seperti biasa kenapa wanita itu duluan."
"Kenapa, mungkin Nona takut terlambat lagi, kapok di hukum sama Bos," ucap Bagas santai tidak melihat bagaimana wajah kesal Gama saat ini.
"Bagas sialan ini, semakin hari semakin berani" batin Gama yang berlalu begitu saja keluar dari apartemen tanpa menghiraukan panggilan dari Bagas yang kebingungan ditinggal tuan rumah sendirian.
"Tuan ini, benar-benar Bos yang menyebalkan dan tidak bisa di ajak bercanda" gerutu Bagas saat Gama meninggalkan dia sendiri, dan setelah memastikan apartemen Bosnya tertutup aman, Bagas bergegas mengikuti Gama.