
Maira kini merasa tenang, dia mencoba lagi untuk terbiasa dengan sikap dingin suaminya itu. dan mulai fokus bekerja tapi sebelum mulai berkerja, tiba-tiba saja dia teringat dengan Nisa.
"Apa mereka masih berdebat iya?" Maira bertanya sendiri mengingat Nisa tak kunjung datang juga.
Dan setelah tak berselang lama Nisa datang dengan wajah ditekuk." dasar pria gila" umpatnya dengan raut wajah yang masih kesal.
"Lama iya, siapa yang menang Nis?" tanya Maira setelah melihat kedatangannya.
"Tau ahk, kamu juga Mai, kenapa ninggalin aku segala"
"Aku liat kalian lagi serius adu kekuatan, jadi aku tidak mau mengganggu, makanya aku pergi begitu saja" jelas Maira.
"Adu kekuatan apaan, aku bosan adu kekuatan seperti itu, aku ingin sekarang adu kekuatan itu di tempat nyaman gitu Mai, di ranjang gitu"
Lagi- lagi Nisa selalu memberi jawaban konyol, dan Maira hanya bisa geleng kepala melihat tingkah aneh sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
Disini Maira sudah bisa menenangkan hati dan pikirannya, berbeda di tempat lain yang sedari tadi tidak sabar menunggu penjelasan.
Siapa lagi kalau bukan Gama, karena suatu alasan tertentu dia menjadi sosok yang tak punya hati.
Dia juga manusia biasa, bagaimana mana mungkin hatinya tidak terketuk melihat wanita terjatuh, apalagi wanita itu berstatus istri yang kemungkinan besar mengandung benihnya.
"Aku benar-benar gila, bagaimana bisa aku terjebak dengan janji seperti itu, aku tidak berpikir dulu, kalau keadaan seperti ini akan hadir dalam hidupku" umpat Gama kesal yang tidak tau harus berbuat apa.
Sedangkan Bagas yang memang sejak kedatanganya dari tadi sudah habis kena amukan bosnya itu kini hanya bisa melihat dan duduk diam.
"Apa kau sudah memastikan kalau ini bukan salah satu rencananya bukan?" mendengar pertanyaan itu Bagas hanya bisa mengangguk lagi, karena ini sudah pertanyaan kesekian kali.
"Aku bahkan tak bisa berbuat apa-apa, bahkan kejadian itu tepat di depan ku " sesal Gama lagi.
"Aku pastikan bos Non Maira baik-baik saja" ucap Bagas setelah mulai melihat sedikit raut tenang di wajah Gama.
"Hal seperti ini yang aku takut kan, itu sebabnya aku terpaksa harus menjadi pria brengsek, agar tidak ada yang terluka, tapi aku sudah melakukan kesalahan bahkan aku sendiri tak bisa memikirkan jalan keluarnya" sesalnya lagi.
"Aku yakin bos pasti bisa keluar dari masalah ini, bos harus kuat" ucap Bagas mencoba memberi semangat pada Gama.
Karena sudah bertahun-tahun dia ikut merasakan masalah yang tak kunjung selesai, lebih tepatnya belum menemukan solusi dari masalah masa lalu bosnya itu.
Dengan perasaan yang sedikit tenang, Gama bertanya lagi "jadi bagaimana apa benar kondisinya benar baik, kau sudah pastikan kan?"
" Sudah bos" jawab Bagas mantap.
"Baguslah kalau begitu, sebaiknya lain kali urusan seperti ini kau harus lebih sigap memberitahu aku, kau malah asyik berdebat" sindir Gama saat ingat kembali cukup lama menunggu laporan dari Bagas karena sempat berdebat dengan Nisa tadi.
"Iya maaf bos" cicit Bagas nyaring tak terdengar.
"Sampai kapan ini berakhir, aku benar-benar muak dengan semua ini" umpat Gama kesal setelah Bagas pamit keluar tadi, tiba-tiba saja dia ingat kembali dengan sebuah janji yang mengikatnya dan membuatnya menjadi pria yang di kenal dengan keburukan dan dingin.
"Aku tidak pernah merasakan kesal berkepanjangan seperti ini, apa yang terjadi padaku, seperti inikah jika sudah menjadi istri, aku ingin sekali mengumpat tapi entah kepada siapa" gerutu Maira tapi yang pasti hanya bisa di dengarnya.
Semua gerak-gerik Maira tak luput dari pandangan Nisa. "Mai, kenapa apa perutnya masih sakit?" Nisa bertanya lagi saat melihat sedari tadi Maira yang terlihat gelisah dan tak bersemangat.
"Gak apa-apa Nis, oke kok!"
"Benar Mai, atau kamu lapar, atau mau ke toilet gitu" tawar Nisa lagi.
"Iya benar gak ada apa-apa Nisa sayang!
"Mai, aneh gak, kenapa setiap melihat sekretaris menyebalkan itu, aku seperti membayangkan hal aneh gitu?" tanya Nisa bingung.
"Hal aneh apa Nis, yang jelaslah, perasaan wajah mas Bagas kan lumayan, gak seram amat"
"Bukan aneh karena seram Mai, tapi bayangan aku yang seram, masa tiap lihat tampangnya tu cowok aku selalu bayangin adu mulut dengannya" jelas Nisa yang masih belum di pahami Maira artinya.
"Kan tadi aja kalian baru adu mulut Nisa"
"Bukan Mai, tapi kiss mengerti gak!" jelas Nisa lagi yang mulai kesal dengan kepolosan Maira.
Maira yang mendengar itu, teringat kembali beberapa hari yang lalu. " Apa mungkin mas Bagas melakukan seperti itu" batin Maira.
"Aneh kan Mai, rasanya aku mulai tidak waras, sama mantan aja aku tidak kepikiran melakukan seperti itu, ini hanya melihat sekretaris sialan itu saja, bayangan seram seperti selalu muncul gila bukan Mai"
"Iya gila" jawab Maira spontan karena sedari tadi dia berpikir apa bos dan sekretaris itu sama-sama brengseknya. itu sebabnya mereka sangat dekat.
"Mai, bukan aku loh yang gila, tapi bayangan aku" protes Nisa.
"Sama aja yang bayangin kan kamu, jadi gila nya dari kamu" ledek Maira sambil tertawa puas dan sedikit mengurangi beban dan rasa sesak di dadanya karena selalu memikirkan sikap dingin Gama padanya.
" Kenapalah Mai, akhir-akhir ini kamu punya sifat menyebalkan"
Maira sedikit terhibur melihat wajah kesal sahabatnya itu, karena jarang sekali dia bisa membuatnya seperti hari ini, rekan kerjanya itu benar-benar terlihat sangat kesal.
Nisa yang melihat Maira terlihat senang, ikut senang juga karena baru kali ini juga dia melihat Maira tampak puas karena telah berhasil membuatnya kesal.
"Aku senang deh, lihat kamu senang Mai, bersenang-senang lah sampai kau puas" ucap Nisa tulus. tapi ditanggapi berbeda oleh Maira.
"Kamu marah?," tanya Maira dengan nada seriusnya. "padahal kalau kamu becanda aku selalu terima, tidak pernah protes, sekarang apa! gitu aja kamu udah keberatan Nis"
Nisa yang merasa kalau ucapannya tidak ada yang salah menjadi bingung mau bilang apa lagi. Dia tidak tau bagaimana menghadapi Maira sekarang, yang terlihat mudah terbawa emosi.
"Jangan gitu Mai, masa segitu marahnya" bujuk Nisa.
Maira hanya diam dan terlihat serius kembali pada kerjaannya. dia tau maksud tulus Nisa, tapi entah kenapa rasa kesalnya selalu tiba-tiba datang di waktu tak di undang, bahkan Maira bingung, dia terlihat seperti adik iparnya Gempita yang selalu terlihat kesal.