
"Kenapa kamu lelet sekali" protes Gama saat berhasil meninggalkan sekertaris nya itu jauh di belakangnya. karena saat mereka baru sampai tadi, Gama dapat kabar ada seorang wanita datang ke kantor nya, dan sudah berani masuk ke ruangannya hal itu membuatnya terusik dan buru-buru ingin mengusirnya.
"Iya Bos, ini juga sudah cepat"
Tanpa menghentikan langkahnya Gama terus mengumpat. "Ada apa dengan keamanan kantor ini, sembarangan sekali orang masuk begitu saja, ini tidak bisa di biarkan, sepertinya kita perlu melakukan peraturan baru." geramnya.
"Baik Bos,,!"
"Jangan hanya baik saja, kamu sekarang rasanya makin sepele dengan tugasmu" Lagi-lagi Gama membentak Bagas, malang sudah nasib Bagas masih pagi sudah kena semprot sama Bosnya itu.
" Aku juga yang kena, kenapa Bos ini, akhir-akhir ini cerewet saja" cicit Bagas dan pastinya tidak bisa lagi di dengar Gama karena dia terlebih dulu masuk keruangan nya.
Dan tanpa basa-basi Gama langsung mengintimidasi wanita itu."Katakan padanya, aku pasti menepati janjiku, katakan juga aku tidak akan melewati batasan ku, sekarang kau boleh pulang, dan jangan muncul lagi kemari"
"Apa anda tidak dengar, tolong keluar sekarang nona, atau kami terpaksa menyeret anda keluar" kali ini Bagas yang angkat bicara, saat melihat wanita tadi masih duduk nyamannya di sofa yang ada di sana.
"Baiklah..aku akan keluar, walau sebenarnya aku masih ingin melihat wajah tampan kalian, itu membuat ku semakin tertantang, tapi tugas sudah selesai" jawab wanita itu santai dan setelah beranjak dari tempat duduknya melenggang keluar begitu saja.
Sedangkan Gama diam dan terlihat jelas di raut wajahnya, menahan amarah dan mengetahui suasana hati Bosnya sedang buruk, dia pun ikut diam demi kebaikannya, karena dia tau bagaimana jika Bosnya itu sedang marah.
"Sampai kapan dia menekan ku seperti ini, dia pasti tau wanita itu kerja di perusahaan ini" Setelah diam beberapa menit tadi, akhirnya Gama bersuara juga, dan membuat Bagas sedikit lega.
"Wanita tadi kan bukan Karyawan kita Bos," ucap Bagas yang langsung dapat tatapan tajam dari Gama.
"I_ya Bos, aku pastikan ini tidak terulang lagi." karena dia tau wanita yang di maksud Bosnya itu adalah istrinya Maira.
"Bahkan sekarang dia berani, menyuruh wanita bayaran datang ke sini, entah apa yang akan dilakukannya lagi, apa yang aku lakukan untuk menghentikan kegilaan nya ini."
Bagas hanya bisa diam melihat Bosnya itu, karena jika menyangkut masalah satu ini Gama sangat sensitif.
masalah yang membuat seorang Gamaliel Pradipta yang berubah menjadi kejam dan mendapat julukan si pemain wanita.
*
*
*
Benar saja dengan hadirnya wanita bayaran tadi, desas desus tentang Gama yang suka bermain wanita sedikit banyak karyawan di perusahaan itu percaya.
"Ya ampun, sayang banget iya padahal tampan, tapi suka main cewek" ucap salah satu karyawan di sana.
" Iya, GPP deh, aku juga mau kok, jadi mainannya." timpal satunya lagi.
"Iya, aku juga" ucap lainya.
Dan dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan, Maira setelah dari toilet langsung kembali ke mejanya.
"Mai, tadi kamu bilang lapar mau ke kantin dulu, kenapa langsung balik?"Nisa bertanya heran karena sejak sampai pagi tadi, Maira tidak biasanya kelaparan dan bolak balik ke kamar mandi. tapi kini, duduk manis di mejanya.
"Aku tidak jadi lapar" jawabnya asal dan terlihat tidak bersemangat berbeda saat tadi pamit ke toilet, wajahnya cukup semangat.
"Mana ada Mai, tidak jadi lapar, aneh kamu"
"Udah ah, aku mau kerja, beberapa hari cuti aku jadi pusing, semua kerjaan menumpuk, apa aja sih kerja kalian."
"Beberapa hari kamu bilang , dua Minggu kamu cuti Mai, dan kenapa juga kamu akhir-akhir ini jadi suka marah-marah, kayak Makbun saja"
"Udah sana, aku mau kerja"
"Tega kamu Mai, tega kamu usir aku, apa salahku Mai, kenapa kamu jadi seperti ini." melihat suasana hati rekan kerjnya itu kurang enak Nisa mencoba menghiburnya dan bercanda seperti itu.
Dan benar saja melihat wajah Nisa yang di buat-buat sedih seperti itu, berhasil lagi dan membuat Maira tidak untuk senyum, karena wajah Nisa saat ini sangat lucu.
"Apaan sih Nisa, udah ah, kerja sana" pintanya dan kali ini raut wajahnya menampilkan keceriaan. dan sebagai teman Nisa juga merasa senang.
"Nah, gitu dong senyum Mai.."
"Iya Nisa!"
Nisa tiba-tiba saja ingat mereka ada kerjaan dari manajer mereka, untuk melaporkan keuangan perusahaan dan merevisi lalu menyerahkan pada CEO mereka.
"Aduh, aku hampir lupa Mai, tadi pak Rio kasih kerjaan buat kita." ucap Nisa.
"Buat kita, buat kamu doang kali"
"Benar loh Mai, kita disuruh merevisi keuangan lalu melaporkan ke bos"
"Kok kita Nisa yang laporin pak Rio lah,"tolak Maira terang-terangan, karena saat ini dia tidak melihat wajah suaminya itu.
"Iya sih, tapi berhubung tu pak manejer tugas di luar, jadi kamu dan aku yang disuruh."
"Iya aku kerjain, tapi kamu aja yang laporin aku males kesana."
"Kamu yang kerjain, Dan aku yang laporin, bisa mati berdiri aku di sana Mai, pokoknya kita bareng laporin titik."
"I-iya terserah lah" jawab Maira yang akhirnya mengalah.