Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 32



"Maira.." beo pria itu, yang tak lain adalah Randy. lelaki pertama yang membuat Maira penasaran dengan arti cinta. sekaligus sakitnya di beri harapan palsu.


Saat ini, mereka menjadi pusat perhatian. selain karena kelopak bunga mawar yang berhamburan kemana-mana. posisi mereka juga menjadi sorotan, Randy menopang Maira yang hampir terjatuh dengan melingkarkan tangannya di pinggang Maira.


"Kau tidak apa-apa sayang,,?" tanya Kinara pada Randy, yang sigap datang menghampiri mereka. membuat mereka berdua sadar dan membenarkan posisi. Perlahan Randy pun melepaskan pegangannya dari pinggang Maira.


Dari kejauhan Gama hanya diam. ucapan-ucapan dari kedua temannya sedikit memprovokasi pikirannya.


"Wihh.. menang banyak Abang mu bro,, kita yang sedari tadi rebutan mau kenalan sama tu cewek. eh.. jadi dia yang dapat pelukan."


"Betul sekali, Abang mu memang selalu terdepan iya." saut Dion menimpali ucapan Jodi.


"Kamu sih bro pelit, mau kenalin aja susah. padahal sepertinya tu cewek dekat sama tante Violin."


"Entah ini si Gama.. pelit..!" seru Dion yang semakin membuat Gama geram.


"Diamlah,,! lagian tumben sekali kalian berdua meski pakai perantara. bukannya biasa kalian langsung nyosor." kesal Gama pada mereka."Lagian dia itu kan.."


"Apa,, dia itu siapa kamu sih Gama..?"tanya Mereka penasaran.


" Apa mereka belum tau dia istriku, pasti mata dan kuping mereka jelalatan saat Mama kenalin wanita itu tadi." batin Gama.


"Tau ahk.." kesal Gama membuat kedua temannya mendengus pelan.


Sedangkan Maira yang masih syok, dengan kejadian tadi yang hampir terjatuh. dan bertemu kembali dengan lelaki yang membuat nya merasa kan cinta sekaligus patah hati.


Dia yang menahan Mual sejak tadi tak bisa lagi menahannya. akhirnya cairan itu di muntahkannya tepat mengenai pakaian Randy.


"Oh.. ya ampun...!" seru sebagian orang-orang di sana yang semakin menambah kericuhan.


"Mai,, kamu gak apa-apa,,?"


Suara itu, akhirnya setelah beberapa tahun berlalu tidak menyangka Maira akan mendengarnya kembali. suara yang hampir setiap saat menemani hari-harinya dulu.


"Kamu yang gak apa-apa sayang..? tanya Kinara yang memang sedari tadi berdiri di samping Randy.


"Sayang...?" dalam benaknya Maira bertanya-tanya, apa mungkin..


"Ah.. Randy. maaf iya Nak jadi kacau seperti ini. dia ini Maira istri Gama." jelas Mama Violin yang kental dengan nada khawatirnya.


Randy yang baru tau bahwa istri Gama itu adalah Maira. diam tak bergeming dengan sorot mata yang sendu. menatap lekat wajah wanita yang di sia-sia kan hanya karena egois.


"Iya sayang, jangan marah iya, dia adik iparmu." saut Kinara.


Maira mengerutkan keningnya tak suka. "Wanita ini, benar-benar punya kepribadian ganda. entah yang mana watak aslinya. saat bicara pada ku tadi, mulutnya setajam pisau. tapi kepada yang lain manis, semanis gulali.."batin Maira.


"Kakak ini, bengong aja. minta maaf kek,," protes Gempita orang kedua setelah Gama. yang membuat Maira kesal berada di rumah ini.


Melihat suasana semakin riuh, Gama pun beranjak dari duduknya yang di ikuti kedua temannya dari belakang. Dia masih diam dengan wajah datarnya melihat istrinya itu di salahkan.


"Maaf kak..." ucap Maira pelan.


"Sudah Maira, suamiku tidak apa-apa kok, hanya tinggal ganti baju saja. Kamu yang bagaimana, apa kamu sehat, Kamu terlihat pucat, bagaimana jika kita periksa. mumpung dokter pribadi ku di sini." tawar Kinara dengan nada lembut. tapi, entah kenapa membuat rasa mual Maira kembali lagi.


'Iya sayang, apa kamu sakit..?" Mama Violin bertanya sembari menepuk lembut punggung Maira.


Maira menjawab dengan gelengan. Dia belum siap di periksa, bisa-bisa semua tau jika dia sedang mengandung. karena dia masih ingin memastikan apa Gama tidak akan marah jika tau nanti. tidak apa jika dia tidak menginginkan nya, asal tidak menyuruhnya untuk aneh-aneh.


Terserah jika di bilang korban sinetron atau Novel yang ala-ala Ceo kejam. yang pasti Maira hanya bersiaga saja. bisa saja suami dinginnya itu memiliki pikiran jahat tak kala jika bertemu terus dengan Kinara.


"Sudah.. Sudah..! Sebaiknya kalian ganti pakaian dulu Nak, baru turun lagi iya.." pinta Pak Pradipta.


Yang langsung di turuti Randy dengan beranjak dari sana. tapi, sesaat netranya melihat Gama yang berdiri diam dengan ekspresi wajah datarnya.


"Bagaimana bisa Maira menikah dengan pria yang cinta mati dengan orang lain. kasihan kamu Mai.." batin Randy menatap wajah Maira yang beberapa tahun ini diam-diam di rindukannya.


"Jaga Maira Gama.." tekan Randy lalu berlalu dari sana yang di gandeng Kinara manja.


Maira pun ikut pergi dari sana dan melewati Suaminya sejenak saling tatap, tanpa saling menyapa.


Sedangkan di belakang Gama, ada dua orang yang terkejut dan melongo. setelah tau wanita yang sedari tadi mereka rebutkan itu, adalah istri Gama. siapa lagi kalau bukan Dion dan Jodi.


"Sial.. ternyata istri Gama bro.." bisik Jodi yang memang lebih heboh sejak tadi. " kenapa dia gak bilang dari tadi, kita kan gak mati kutu kayak gini."protes nya lagi.


Dion hanya mengangkat bahunya tidak tau mau bilang apa. mereka juga bingung melihat Gama hanya diam, saat semua orang menggunjing istrinya.


"Aku rela tunggu jandamu Gama.." gumam Jodi pelan yang hanya bisa di dengar Dion.


" Beraninya kalau orangnya sudah pergi, coba tadi Gama masih di sini, mati kamu.." umpat Dion sambil melihat Gama yang terlebih dulu pergi dari sana dan pergi entah kemana.


Suasana hati Gama saat ini benar-benar tak baik. Dia ingin marah pada dirinya yang menjadi patung. saat orang yang seharusnya di jaga kehormatannya di salahkan.


"Pengecut kamu Gama.. Sial.. Sial.." umpatnya geram. kini dia berada di taman belakang tempat biasa Maira duduk.


Dia mengutak atik henponnya, dia akan menelepon orang yang tau semua masalahnya ini. dan yang selama ini sabar kena amukannya.


Drrrrrt..


Panggilan pertama tak di angkat. "Sial..! udah gak mau datang, di telpon gak di angkat. ngapain sih Bagas ini." kesalnya bukan main.


"Pecundang..! taunya mengumpat saja. Maira yang malang.." entah dari mana, Tiba-tiba saja Gini datang dan menyindirnya.


Gama mendengus kesal dan masih berusaha menelepon Sekretaris nya Bagas.


"Cepat kemari.." pintanya tanpa basa basi saat telponnya terhubung dan langsung mematikannya.


"Kasihan sekretaris mu Gama, selalu pelampiasan marahmu."


Gama mengernyit heran. tidak biasanya saudara kembarnya itu, merasa iba pada orang lain. Dia selalu jutek pada orang apalagi seperti Bagas yang hanya seorang sekretaris.


"Bukan urusanmu,, Bagas itu sekretaris ku jadi suka-suka ku lah" ucap Gama jutek meninggalkan Gini yang diam mematung di sana.


"Hufftt... Sudah mau punya anak juga, tapi masih kekanakan. Gama.. Gama.." dengus Gini sambil geleng kepala.