Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 35



Puas melampiaskan amarah pada Bagas. Gama kini bergabung dengan teman-temannya. Dan Bagas pun ikut duduk bersama. karena, kemana pun Gama pergi selalu ada Bagas. itu sebabnya, Bagas sudah terbiasa dengan teman-teman Gama.


Kini mereka berempat duduk bersama, diam dengan pikiran masing-masing.


"Selamat iya Bro, perusahaan baru dan.. istri baru.." seloroh Jodi memecah keheningan.


"Iya Gama, selamat iya.. kamu benar-benar main cantik. nikah diam-diam, punya perusahaan sendiri juga diam-diam. mantap bro.." saut Dion.


Gama merespon dengan senyum kecil yang hampir tidak terlihat. tatapan nya kini tertuju dengan Maira yang terlihat senang bercengkrama dengan temannya Nisa.


"Senang sekali dia.. entah kenapa ada rasa tak nyaman saat dia senang dengan orang lain." Dalam hati Gama bergumam tak suka.


Sedangkan Maira, yang sedari tadi makan rasanya sangat kenyang. tapi, entah kenapa ada perasaan tak puas di benaknya. dia ingin sekali mencium wangi Gama. tapi ketakutan dan enggan di hati menguasainya.


"Ya ampun.. jangan sekarang Nak, Mommy malu mendatangi Papa mu itu. dia lagi sama teman-temannya gak enak Mommy nyusul kesana Nak, nanti malam saja ok..." sambil mengusap perutnya Maira membatin untuk anaknya.


Lama menahan, Maira akhirnya menyerah. rasa ingin mencium wangi Gama terus melayang-layang di benaknya. sampai saat bicara dengan Nisa pun tak bisa fokus lagi.


"Mai.. dengar gak sih aku cerita apa tadi..? kamu kenapa dari tadi gelisah saja.." protes Nisa saat menyadari Maira sedari tadi tak fokus dengannya.


Dengan menarik nafas yang dalam Maira jujur pada Nisa. ingin sekali mencium wangi Gama tapi rasa enggan melingkupi pikirannya.


"Oh.. ya ampun.. ampun.." pekik Nisa sembari mengatupkan kedua tangannya pada mulut.


"Kenapa sih Nisa..?"


"Kamu udah.."


"Udah apa..?" tanya Maira tak sabar memotong ucapan Nisa.


"Aku.. gak terima.. pokoknya aku gak rela Mai..."


"Gak jelas kamu Nis, gak rela kenapa juga.." dengus Maira yang mulai kesal.


"Aku yang kebelet. kenapa kamu duluan yang rasain enak-enak Mai.." ucap Nisa dengan nada merengeknya. sontak membuat Maira kaget dan menutup mulut Nisa.


"Huft.. suaramu loh Nisa.. pelanin banyak orang tau.."


"Bodoh ah.. aku yang Gatal, kamu yang udah garuk-garuk duluan, udah rasain enak duluan. entar,, pengalamanku gak heboh lagi kalau aku ceritain sama kamu Mai, kamukan udah tau.."


Maira hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah sahabatnya itu. bisa-bisanya dia berpikir ingin berbagi pengalaman seperti itu.


"Nisa.. Nisa.. ngapain juga berbagi pengalaman gituan sama orang. itu hal pribadi bukan di umbar-umbar. lagian sok tau enak, belum pernah juga."


"Tau Lah.. buktinya banyak kan.."


"Udah.. gak usah di bahas panjang. entar penasaran mau ngebet ke siapa kamu. ngerocos aja soal gituan.." ucap Maira lagi-lagi memotong ucapan Nisa.


"Iya.. aku juga sepertinya akan bekerja keras, untuk lebih dewasa dan mulai menabung Mai.." ucap Nisa dengan ekspresi seriusnya.


Maira mengerutkan kening bingung, tidak paham dengan maksud ucapan Nisa.


"Gagal paham.." ucap Maira pelan.


"Entahlah.. heboh aja sendiri. aku udah gak tahan Nisa. dah..gak sabar mau nyium wangi Kak Gama.." rengek Maira yang terlihat lesu.


"Ucup..ucup.. keponakan Aunty.. udah gak sabar iya dekat Daddy mu.. ayo semangatin Mommy mu biar berani dekatin Daddy mu.. "ucap Nisa sembari mengelus lembut perut Maira.


Sontak membuat Maira kaget. membuat nya dirinya terpaku diam. melihat antusias Nisa dan menjadi haru kembali saat ingat, iparnya Gini juga bereaksi yang sama. mengelus perutnya dengan lembut.


"Terimakasih.. " ucap Maira senang dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hmmm.." dengan senyum tulus Nisa menjawabnya.


"Terimakasih gak keberatan, untuk bocil yang akan menyusahkanmu, berlari memanggilmu Aunty, dan minta kado dari mu."


"Sudahlah.. temui sana Daddynya. aku gak mau iya, ponakanku ngileran karena permintaan nya gak di turuti." pinta Nisa.


Maira mengangguk sambil beranjak berdiri dari duduknya. berjalan pelan menuju Gama dan teman-temannya.


Gama yang menyadari kehadiran Maira. tiba-tiba merasa Gugup, benar di luar pikirannya. Ini bukan pertama sekali dia di hampiri wanita. tapi baru kali ini ada yang berbeda, dia seperti remaja yang baru kasmaran malu-malu tapi mau.


"Eh.. bini mu, nyamperin kesini Bro.." bisik Jodi saat melihat Maira.


Maira yang juga gugup setengah mati, karena saat ini dia menjadi pusat perhatian Empat orang itu. dia yang kebingungan alasan bicara apa sama Gama jadi beralih pada Bagas.


"Hmm.. Mas Bagas.. bisa bicara sebentar..!"


Kecewa tentu saja. karena Istrinya itu bukan ingin menjumpainya tapi Bagas. tapi bukan Gama namanya jika tidak bisa menutupi perasaannya dengan ekspresi datar dan cueknya.


"A_aku Non..? tiba-tiba di mintai istri Bosnya seperti itu membuat Bagas gugup.


"Iya Mas, sebentar saja." biarlah nanti dia cari alasan apa, yang jelas sekarang dia puas mencium wangi Gama. yang memang duduk dekat dengan Bagas.


Bagas mengangguk tanda setuju dan berdiri mengikuti istri Bosnya itu. dalam hati dia membatin. " Aduh.. kena lagi aku ini, pasti si bos marah gara-gara ini, bersiaplah.."


Maira senang sekali bisa mencium wangi suaminya itu. tak sadar Bagas sedari tadi berjalan mengikutinya dari belakang.


Dari jauh Nisa yang melihat itu berkerut kening tak mengerti. " kenapa Maira malah bawa sekretaris menyebalkan itu..? kesini pula, mau ngapain mereka." ucapnya bingung.


Setelah sadar Bagas di belakangnya. Maira pusing mencari alasan bicara apa dengannya.


" Maaf Mas Bagas, terkesan memanfaatkan. tapi, aku bingung gimana cara mencium wangi bos menyebalkan mu itu." gumam Maira pelan yang hanya bisa di dengar olehnya.


Dan.. saat Maira melihat Nisa yang kebetulan juga menatap kedatangan mereka. dengan tatapan tak ramah, yang tertuju pada Bagas menimbulkan senyum di wajah Maira.


"Nak.. belum juga brojol kamu udah repotin Aunty mu itu iya. kita serahkan saja pada Aunty mu itu ok..!" sembari mengelus perutnya, Maira tersenyum dengan isi pikirannya. kesempatan mengerjai sekretaris dan sahabat usilnya itu.


"Mas Bagas.. Nih, teman aku Nisa. dia mau bicara penting dengan Mas Bagas." dengan enteng Maira mengucapkannya. tak peduli dengan tatapan tajam dari sahabatnya itu.


"Apa-apaan ni Maira. siapa juga mau ngomong sama dia.. " dalam batin Nisa berucap tak suka.


"Kenapa aku di hadapkan lagi dengan wanita ini..?" ucap Bagas dalam hati sambil menatap jengah pada Nisa.


Maira setelah keinginannya terpenuhi, untuk mencium wangi Gama. memutuskan istirahat meninggalkan beberapa orang yang sengaja dan tak sengaja di buat nya kesal.