Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 26



"Sudah siang, apa dia tidak lapar," sungut Maira karena sejak tadi pagi dia tidak melihat Gama makan apa-apa. "Apa sebaiknya aku tawari saja iya, baiklah aku tawari saja, terserah gimana responnya nanti" ucap Maira pada diri sendiri.


Kebetulan sekali Gama keluar dari kamar, dengan berpakaian yang terlihat rapi dengan pakaian santainya.


Maira pun berhenti tepat di depan kamar Gama, dengan berkerut kening Maira penasaran mau pergi kemana suaminya itu.


"Kakak mau kemana?"


Ditanyai seperti itu, Gama heran karena tumben sekali, istrinya itu mau tau urusannya. karena biasanya mereka tak pernah saling bicara.


"Aku mau keluar" ucap Gama masih seperti biasa, walau sesungguhnya dalam hati Gama merasa senang, Maira bertanya seperti itu, tapi entah kenapa hati dan sikapnya bisa berbalik.


"Apa kakak mau makan di luar" mengingat Gama belum makan apa-apa sejak tadi pagi, Maira berpikir mungkin suaminya itu, makan di luar. "Aku sudah masak, kakak bisa makan" tawar Maira.


"Aku makan di luar saja, aku ada janji" tolak Gama karena memang dia ingin menemui seseorang.


Maira hanya bisa menghela nafas, lagi-lagi Gama selalu menolak, sehingga dia tidak memiliki alasan untuk mengumpulkan uang dari suaminya itu. dan lagi-lagi sedikit meruntuhkan pertahanannya untuk tetap bersama Gama.


"Lagi aku gagal cara dapat uang darinya" gerutu Maira dan berdiam mematung melihat kepergian Gama, yang berlalu begitu saja.


"Apa kakak akan pulang cepat?" tanya Maira saat Gama hampir keluar tadi.


Dengan heran Gama menoleh kebelakang lagi, dan melihat Maira yang masih berdiri diam di posisinya sejak dari tadi.


"Aku tidak tau pasti" jawab Gama sedikit bingung melihat sikap Maira yang biasanya cuek tapi kini tiba- tiba peduli padanya.


Jangankan Gama, bahkan Maira saja bingung kenapa dia bertanya seperti itu. "Ada apa denganku, aku kenapa tiba-tiba tidak ingin melihatnya pergi" batin Maira.


"Aku pergi!" pamit Gama, yang di Iya kan Maira dengan anggukan, walaupun tidak bisa di lihat oleh Gama yang sudah berlalu pergi.


Di sepanjang jalan Gama terus, memikirkan sikap Maira tadi. " ada apa dengannya kenapa tiba-tiba sok peduli" gerutu Gama sambil menyetir mobilnya.


"Aku benar-benar tidak ingin melihatnya saat ini" ucap Gama sedikit gusar saat ingat telepon dari orang yang selama ini, yang membuatnya menjadi pria tidak punya hati.


Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, Gama sampai juga di tujuannya, dengan langkah yang berat dia terpaksa menemui orang itu.


"Di mana dia?" tanya Gama to the point saat mendapati orang lain bukan orang yang membuat janji dengannya.


"Aku tidak tau, aku hanya di bayar untuk ini, berdiam duduk manis di sini" saut wanita entah siapa pun dia Gama tidak ingin tau.


"Gila! apa sebenarnya maunya" Setelah mengucapkan itu Gama pergi begitu saja dan terlihat sibuk menelepon seseorang.


Sedangkan Maira sejak Gama pergi merasa tidak semangat. " Ayolah Nak, belum apa-apa kamu sudah belajar menjadi penghianat" sambil mengelus perutnya yang masih rata, Maira berbicara pada perutnya mengingat sekarang dia merasa rindu pada suaminya itu.


Dia terus bicara mengajak cabang bayinya, Maira terdiam saat bell berbunyi, dia sangat senang dia pikir itu Gama berubah pikiran pulang kembali lagi, dan entah dari mana juga harapan saat suaminya itu pulang akan membawa bingkisan untuknya.


"Siang!" sapa wanita yang menurut Maira sangat cantik dan sempurna. "Apa aku boleh masuk" ucap wanita itu lagi, karena sedari tadi Maira hanya menatapnya.


"Kak Gama lagi kaluar"


"Benarkah, Kalau begitu aku pulang saja"


"Loh, Kenapa pulang tidak jadi masuk" tawar Maira setelah menyadari sedari tadi dia masih tidak membukakan pintu karena terlalu kagum dengan kecantikan wanita itu.


" Tidak usah, bilang saja tadi aku datang"


Penasaran dengan tamu suaminya. "dengan siapa iya?"


"Kinara!, bilang saja Kinara" dan setelah menyebut namanya Wanita itu, iya Kinara pun pergi meninggalkan Maira yang terdiam.


"Dia kembali, apa dia kembali untuknya" gumam Maira dengan pikiran dan hati yang gusar setelah melihat betapa cantiknya cinta pertama suaminya itu.