
Setelah masuk Maira, bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih, selain gerah dia juga ingin menghindar dari Gama yang kini duduk di sofa.
Dia tidak tahan untuk tidak mengumpat suaminya itu, rasa kesalnya belum juga redah tiap melihat wajah suaminya itu. dan bertambah juga kesalnya, saat dia mengingat kejadian pulang kerja tadi.
Dimana tiba-tiba saja dalam benaknya untuk menguras isi kartu kredit Gama. niat yang sudah menggebu, akhirnya dia urungkan, manakala dia tidak tahu nomor PIN nya.
"Menyebalkan, sial.. sial..!"umpat Maira saat menyadari, saking kesalnya tadi, sampai lupa membawa baju gantinya."sekarang bagaimana lagi, aku tidak mungkin keluar hanya pakai handuk di depannya, bisa-bisa dia berpikir aku ingin menggodanya"
Gama memang sedari tadi ingin ke toilet juga, tidak sabar lagi menunggu." Lama sekali wanita ini, dia mandi apa tidur" dengan langkah penasaran Gama mengetok pintu toilet, yang dimana Maira memang sejak tadi berharap Gama masuk ke kamarnya tapi malah menggedor nya.
"Apa yang kau lakukan, cepatlah aku juga ingin mandi!" seru Gama dengan mengetuk pintu.
"Aku lupa bawa baju ganti, sebaiknya kakak masuk kamar saja dulu"
"Wanita ini, begitu saja malu" gerutunya yang pastinya hanya bisa di dengar olehnya.
" Keluar saja, lagian kenapa harus malu, sudah pernah liat juga" entah ada angin apa Gama mengucapkan kata-kata seperti itu.,
"Benarkan, keluar juga aslinya, pria sama saja"gerutu Maira.
"Apa yang baru ku ucapkan, apa aku sudah tidak waras, aku tidak ingin dia mengira aku ingin menggodanya."cicit Gama saat menyadari atas ucapannya.
Dengan terpaksa Maira keluar, hanya berbalut handuk saja, saat keluar tatapan mereka sejenak bertemu, terputus saat Gama buru-buru masuk.
Selesai berpakaian, Maira langsung mengisi perutnya yang memang sedari tadi sudah kelaparan. dan kebetulan sekali Gama siap mandi juga lapar, dia sekilas melihat Maira makan dengan lahapnya.
Maira berusaha untuk tidak memperhatikan, apa ingin di lakukan Gama, tapi tetap saja matanya tak bisa di ajak kompromi, dia melihat setiap gerakan suaminya itu, bagaimana cekatannya cara Gama memasak.
"Ya ampun, keren," tanpa di sadari ucapannya bisa di dengar oleh Gama, dan kini berbalik melihatnya, dengan senyum kecutnya yang jelas terlihat seperti ledekan buat Maira. "kenapa dia tersenyum seperti itu, apa dia ingin meledekku karena beli makanan, sedangkan dia bisa masak, biasa aja " batin Maira.
Hening, lagi-lagi keheningan terjadi, dan selesai makan pun belum ada yang bersuara. walau sebenarnya Gama ingin sekali mengucap maaf atas kejadian tadi di kantor, tapi rasa egois nya lebih tinggi.
Begitupun dengan Maira yang masih mengingat kejadian tadi siang, yang niatnya ingin mengalah di urungkan karena masih kesal dengan Gama.
Akhirnya tak ada yang mau bicara duluan, mereka hanya asik dengan pikiran mereka masing-masing. suasana pun semakin dingin. tapi, tiba-tiba saja Maira, kepikiran sandi apartemen nya, tidak mungkin kak, selamanya dia harus menunggu suaminya pulang dulu baru boleh masuk.
Belum sempat bicara, Gama terlebih dulu, menyodorkan sebuah kertas yang berisikan angka, Maira berpikir itu pasti sandi apartemen tempat tinggal mereka sekarang. tapi nyatanya..
"Pakailah sesukamu, beli semua keperluan mu, jangan sampai ada yang bilang aku tidak menafkahi mu, jaga dirimu dan.." mengingat kemungkinan Maira sedang hamil, Gama tidak ingin terjadi hal buruk pada mereka. tapi tiba-tiba saja dia ingat bahwa Maira belum memberitahu nya.
"Dan,, apa kak?" tanya Maira penasaran.
"Dan belilah pakaian yang baru, dan layak" jawabnya asal tapi entah kenapa lagi-lagi membuat Maira kesal.
"Benar-benar sialan, tak bisa kah dia tidak mengejek cara berpakaian ku, apa dia pikir dengan uangnya aku akan merubah cara berpakaian ku seperti wanita-wanitanya itu, tidak akan! batin Maira dan beranjak dari duduknya meninggalkan gama sendiri yang kebingungan.
"Apa aku salah ngomong, benar-benar tidak sopan, pergi begitu saja, wanita memang selalu membuat pusing"
Sedangkan Maira kini yang merasa lelah, berbaring di sofa yang menjadi tempat tidurnya semenjak tinggal di apartemen Gama itu.
Melihat Maira terbaring di sofa seperti itu, sebenarnya Gama tidak tega tapi bagaimana lagi, hanya ada satu kamar di apartemen nya ini, tidak mungkin sekali dia meminta Maira untuk tidur di kamarnya karena mau di taruh di mana harga dirinya. dia tidak ingin mengalah duluan. karena menurutnya ini semua akibat memaksa dia menikah.
"Biarkan saja seperti ini, aku ingin melihat sampai dimana kau bertahan"ucap Gama dan berlalu ke kamarnya. dan tanpa disadari masih di dengar Maira.
" Aku akan bertahan, walau kamu hadir di saat situasi seperti ini, aku akan bertahan demi kamu, dan jika memang tidak mungkin untuk bertahan, aku pastikan kamu tidak akan kesulitan" gumam Maira sambil mengusap perutnya yang masih rata.