Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 17



Seperti yang di ajukan Dokter tadi, di sinilah Maira sekarang, di ruangan yang berhasil membuat jantung beberapa orang berdebar kencang, tanpa melakukan apapun, begitulah yang di rasakan Maira saat ini, saat Dokter yang memeriksanya tadi, Beberapa kali menghela nafasnya, semakin menambah ke khawatiran di benaknya.


"Apa sebenarnya yang ingin di sampaikan ya, kenapa kelihatannya sangat serius, apa setelah semua yang ku alami ini, apa masih ada lagi kabar yang paling buruk," batin Maira.


"Mbak Maira kan."


"Iya Dok," saut Maira dengan cepat, karena memang sedari tadi menunggu penjelasan dari Dokter itu.


"Sebenarnya saya bingung Mbak mau bilang gimana, Mbak pasti tau kan, saya sudah lama jadi Dokter klinik di perusahaan ini, jadi sedikit banyaknya saya tau status karyawan di sini."


"Iya Dok,"


"Mbak Maira setelah saya periksa, saya pastikan mbak itu, menunjukkan gejala," penjelasan Dokter itu terpotong saat telepon tiba-tiba berbunyi, dan menjawabnya.


"Astaga, kenapa seperti sinetron saja, saat genting ada saja halangan, dan kenapa Dokter nya bilang gejala, benarkah ada hal buruk lagi, ah,, seperti nya setelah semua yang ku alami saat ini, dapat kabar memiliki penyakit mematikan mungkin tidak terlalu buruk" Batin Maira.


"Maaf ya Mbak, saya lanjutkan lagi, dari pemeriksaan saya tadi, Mbak Maira itu menunjukkan gejala awal kehamilan, aku tidak tidak tau ini kabar baik apa buruk buat Mbak Maira, tapi bagaimana lagi saya harus memberitahunya Mbak"


Deg..


Setelah mendengar penjelasan Dokter itu, Maira merasa jantungnya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi, berdetak kencang lebih cepat lagi, membuatnya susah bernafas.


"Tapi saya, tidak mual Dok setiap pagi, saya juga tidak ingin makan yang asam, saya juga makan seperti biasa, saya dengar orang hamil kan kebalikannya Dok"


"Ada yang mengalami seperti itu, ada juga tidak Mbak, mungkin Mbak belum sekarang, bisa jadi akhir kehamilan Mbak mengalami semua itu."


"Apa yang harus kulakukan sekarang, jelas sekali bagaimana hubunganku dengan Gama, apa anakku juga nanti mengalami seperti ku tidak di harapkan,". batin Maira.


"Tapi belum pastikan Dok, ini masih prediksi saja kan" Maira mencoba memastikan bahwa pemeriksaan Dokter itu salah. karena sekarang perasaannya benar-benar bingung harus senang atau sedih.


" Ah.. iya, terimakasih Dok, saya pamit dulu" Maira tidak terlalu fokus dengan apa yang dipikirkan Dokter itu padanya, karena tidak semua yang tau statusnya yang sudah menikah. yang ada pada benaknya Sekarang apa dia harus memberi kabar ini pada suaminya itu, bagaimana kalau dia marah dan menyuruh untuk melakukan yang tidak-tidak. dan bagaimana kalau dia tidak mengakuinya.


*


*


*


"Apa yang terjadi dengan kehidupan ku, kenapa jadi serumit ini," gumam Maira.


"Iya akan tambah rumit lagi Mai, karena sekarang kita harus, menghadapi amukan CEO tampan itu" ucap Nisa tiba-tiba entah sejak kapan dia ada di samping Maira. sehingga membuat Maira sedikit kaget dibuatnya.


"Nisa, buat kaget deh kamu," protesnya.


" Habisnya kamu Mai, baru nyampe tadi melamun Mulu, dari tadi aku perhatiin loh Mai, apa emang kata Dokter nya, jangan bilang tu Dokter, diagnosis kamu hamil iya kan gak lucu Mai"


"Bukan kok," jawab Maira gugup.


"Iya aku tau pasti tidak honey, kita kan belum buat pesta lajang Maira sayang."


"Ah.. sudahlah Nisa, kamu tadi bilang apa" Maira mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, karena dia tidak pintar berbohong akan semakin menyulitkan dirinya nanti.


" Oh, iya kita dipanggil CEO tampan itu Mai, entah kenapa, apa mungkin karena kita telat tadi kali yah,"


" Entahlah," jawab Maira singkat. karena dia benar-benar saat ini tidak ingin melihat wajah suaminya itu yang pasti akan berhasil membuat pikirannya semakin kacau.