Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 33



Selesai ganti pakaian, Maira bergegas hendak turun. walau Malas sudah melanda tubuhnya. terpaksa dia harus turun ke bawah lagi untuk menjaga perasaan Mertuanya.


Karena sebelum naik tadi, Papa mertuanya mengingatkan supaya bergegas. akan ada kejutan untuk para tamu, termasuk buat suaminya Gama. jadi, akan tidak baik jika dia tidak turut di sana.


Dia buka gagang pintu kamarnya, lalu keluar berjalan pelan. tapi belum beberapa langkah..


"Dek Mai..! apa kabar mu Dek..?"


Maira tertegun melihat Randy tepat di depannya. entah sejak kapan dia sudah berada di sana.


"A_aku.. baik saja kak,," Maira menjawab dengan gugup. bagaimana tidak kata-kata umpatan yang selama ini tersusun rapi di otak. hilang seketika saat di hadapkan langsung dengan Randy seperti saat ini.


"Aku senang mendengarnya, setidaknya kau baik-baik saja sampai sekarang.."


Maira mengerutkan keningnya mendengar ucapan Randy dalam benak dia bergumam. "huft..Apa dia berpikir aku langsung mati, di tinggal nikah sama dia,,"


" Oh.. Selamat untuk kakak , maaf baru ucapin sekarang. habis nya kakak sih, nikah gak undang-undang" ucap Maira gamblang dengan sedikit nada menyindir.


"Aku yang minta maaf Dek.. kakak salah,,"


" Salah apa sih kak dan untuk apa juga kakak tuh minta maaf,,? kita kan tidak ada ikatan apa-apa kak, jadi untuk apa minta maaf.." potong Maira karena dia sudah tidak ingin membahas masa lalu yang akan membuat mood nya semakin buruk.


Melihat Randy yang terdiam, Tak ingin berlama-lama Maira pun pamit."aku duluan kak" ucapnya pelan. baru dua langkah..


"Aku tidak menyangka Dek, pelukan bahkan ciuman itu menjadi awal perpisahan kita. tapi jujur, saat itu aku berharap hal itu menjadi ikatan baru buat kita, menjalani hidup denganmu selamanya. tidak seperti sekarang kita di satu atap tapi di kamar yang berbeda itu ternyata menyakitkan.." ucap Randy miris.


Lagi-lagi langkah Maira harus terhenti, mendengar ucapan Randy. jujur, ada perasaan perih di hatinya. tapi, mau bagaimana lagi. waktu tak akan bisa di putar kembali.


Maira menatap Randy pilu, Dia bahkan tidak bisa mengucapkan apa-apa. dalam benak dia merutuki kebodohannya. Kenapa setelah tau Randy itu kakak dari suaminya. baru sadar terpampang jelas gambar keluarga pradipta tergantung rapi di dinding.


Bahkan saat gambar Randy, Gama dan Gini wisuda. bahkan Kinara juga ada bersama dengan Gama. nampak jelas wajah bahagia mereka di sana yang saling bergandengan tangan.


Melihat gambar wisuda Randy. Maira jadi teringat saat pertama masuk kuliah. Dia yang Masih lugu habis di kerjain dengan kakak senior. saat itulah Randy yang juga merupakan salah satu kakak seniornya bah pahlawan selalu membelanya. rasa nyaman dekat dengan seorang pria di dapatkan dari Randy. karena saat itu Ayahnya sudah tak ada waktu lagi buatnya.


Seiring berjalan waktu. walau tak ada status yang resmi.mereka selalu bersama dan saling terbuka. bahkan, Randy akan marah saat ada lelaki lain yang mencoba mendekati Maira.


Sampai tiba saat Randy wisuda, Maira juga hadir di sana memberi selamat untuknya. saat acara selesai, Randy langsung menghampiri Maira dan memeluknya bahkan mencium keningnya untuk pertama dan juga terakhir kali.


Karena, setelah hari itu. Randy menghilang bak di telan bumi. tak ada kabar sama sekali, boong jika Maira tidak bertanya- tanya apa kesalahan yang di perbuat. sehingga Randy pergi begitu saja. setelah beberapa bulan berlalu berhembuslah kabar di telinga Maira. jika Randy lelaki yang di cintainya telah menikah dengan wanita pilihannya.


"Sakit,, tapi tidak berdarah. itulah yang kurasakan saat itu kak. dimana kakak pergi tanpa sepatah kata, aku ingin marah tapi tidak tau marah untuk apa. kakak selalu baik padaku, bahkan selalu menemani saat aku sedih karena masalah keluarga ku. tapi bodohnya aku, menganggap semua perlakuan manis itu sebagai cinta, dasar payah bukan.." ucap Maira miris saat teringat masa lalunya dengan Randy.


Dulu, karena rasa egois dan cemburu pada Adiknya Gama. yang di anggapnya selalu mendapatkan apa yang di inginkan sedangkan dia tidak.


Timbul rasa ingin merebut semua yang ada pada Gama. dan keegoisan terfatalnya menikahi wanita yang paling di cintai Gama yaitu Kinara.


Sekarang, takdir seolah mengolok-olok dia. Maira wanita yang sangat di cintainya menikah dengan Gama adiknya yang ingin selalu di hancurkannya.


"Kenapa.. tapi kenapa harus dia Dek,,? tak ada kah yang lain di dunia ini. Kenapa kau harus menikah dengan Gama sialan itu."


Maira terhenyak mendengar umpatan Randy, yang terlihat sangat marah. "ya ampun,, dia persis seperti Kinara, manis-manis mematikan" gumam Maira pelan yang hanya bisa di dengar nya sendiri.


"Maaf jika mengagetkanmu Dek. kakak hanya tidak rela jika kau menderita di buatnya."


"Aku tidak menderita kakak, aku bahagia. walau dingin tapi suamiku,, sangat baik." ucap Maira tegas. ada penekanan saat mengucapkan suamiku. agar Randy tidak mengatai Gama lagi dan mengganggu nya.


"Tetap saja aku tidak rela Mai."


" Sudahi kak, tak ada lagi yang harus di ingat, sekarang kakak fokus saja pada Kinara. kalian akan menjadi orang tua. begitu juga aku,, aku akan.."


"Ehemm.." Gama sengaja memotong ucapan Maira. Entah apa yang akan di ucapkan istrinya itu, tapi yang pasti dia tidak ingin orang lain tau, jika Maira sedang mengandung.


"Huft.. ternyata selain perebut hak orang, kau suka menguping juga." sindir Randy yang tak niat di ladenin Gama. Gama hanya diam menatap Maira yang tertunduk malu seperti orang tertangkap basah melakukan kesalahan.


Gama berpaling dari sana. tak lupa dia mengingatkan Maira untuk segera turun.


"Cepat turun,, Mama dari tadi menunggu.!"ucap Gama dingin.


Kali ini Maira kembali menjadi si penurut, dia mengikuti langkah Gama yang terlebih dulu. meninggalkan Randy yang tak bergeming menatap kepergian Maira.


"Sejak kapan dia di sana,,? apa dia mendengar semua yang kami bicarakan tadi, apa dia akan berpikir, ke arah yang salah ucapan kak Randy, soal pelukan tadi." Gumam Maira yang masih berjalan mengikuti langkah Gama.


Gama yang ingin ke kamarnya tadi, tidak sengaja mendengar semua pembicaraan Kakak dan istrinya itu. mencoba menahan amarah yang bergejolak di hatinya.


"Aku saja yang, bertahun-tahun bahkan sejak dini bersama Kinara tidak pernah lebih dari pegangan tangan. kalian lebih maju di depan kami ternyata. shitt.. wanita munafik." umpat Gama saat ingat ucapan Randy tadi. seperti ada api di hatinya yang sangat panas, setiap cerita masa lalu istrinya itu berdengung di telinganya.


"Semoga Papa mu,, tidak berpikir yang aneh-aneh iya sayang.., bantu Mommy mu kuat ok,, " semangat Maira pada dirinya,


sembari mengelus perutnya yang masih rata


"