
Maira merasa terusik dalam tidurnya, saat mendengar langkah kaki. karena selesai beres-beres tadi dia tertidur di sofa. nalurinya mulai mengingatkannya untuk bersiaga seperti di kostnya dulu, karena sekarang dia masih berpikir berada di kostnya.
"Apa yang harus aku lakukan, kemana kayu pemukul ku," gumamnya pada diri sendiri dengan mata yang terpejam dan saat membuka matanya, dia melihat seseorang dekat pintu tapi membelakanginya sehingga dia tidak bisa melihat wajah pria itu, dia merasa memiliki kesempatan, dia langsung memukulnya tanpa ampun.
"Siapa kau,, berani sekali kau masuk ke kost ku, ini rasain!" geram Maira tak lupa masih memukulnya dengan sisir yang saat itu ada ditangannya. dia tidak kasih ampun walau sejak tadi pria itu minta ampun. dia baru berhenti dan kaget saat suara seseorang berteriak untuk menghentikannya.
"Berhenti..! hentikan itu, apa yang kau lakukan" seru Gama. "Apa kau tidak waras, kenapa kau memukuli Bagas."
"Astaga., Mas Bagas ternyata, maaf mas aku tidak tau,tapi kenapa kalian disini." Maira bertanya karena dia masih berpikir berada di kostnya dulu.
"Apa kau masih bermimpi, kenapa aku disini, jelas-jelas ini apartemen ku,"
"Oh iya," Maira baru menyadari bahwa sekarang dia ada di apartemen suaminya itu. "lagian kenapa aku tidak dibangunkan tadi,"
"Bangunin gimana, non Maira saja tidurnya seperti,. ehh.. maksud saya sepertinya sangat nyenyak." Bagas sekretaris suaminya itu menjawab, sedangkan Gama kembali lagi dengan mode diamnya.
"Pakai ini,," Maira menyodorkan baby oil pada Bagas, karena niatnya tadi hendak pulang diurungkan saat Maira yang tak enak hati, memaksanya untuk duduk sebentar.
"Buat apa?"
"Pake nanya deh mas, buat itu wajah yang merah-merah tu loh mas."
"Tapi inikan untuk bayi, aku lebih baik pulang saja ya non, saya benar-benar tidak apa-apa."
"Oleskan aja dulu."
Mau tidak mau, Bagas terpaksa melakukan apa yang dibilang istri bosnya itu, sedangkan Gama hanya diam dan duduk di sana dengan ekspresi datarnya.
"Kakak sudah makan?" akhirnya Maira berusaha untuk memulai bicara, karena dia ingat nasihat Mama Violin, tak ada salahnya kita mengalah duluan karena untuk menjalin hubungan harus ada yang mengalah.
"mmm.." hanya itu balasannya.
"Kamu yang nyuci baju aku?" Gama bertanya tapi tidak merubah pandangannya, dia masih memainkan handphonenya.
"Iya kak!"
"Itu artinya kau membuatku lagi-lagi, harus melakukan sesuatu yang tak ingin lakukan."
"Maksudnya?"
"Kau selalu melakukan tanpa berpikir dulu, seandainya kau tidak setuju untuk pernikahan ini, mungkin tidak akan pernah terjadi."
"Tapi aku.. hanya.."
"Hanya untuk membantu masalah Ayahmu, dan tidak memikirkan perasaanmu, hebat sekali kau, kau pasti sudah dengarkan tentang aku, itu artinya tidak lagi yang harus aku tutupi, aku tidak bisa berjanji dalam hubungan ini akan seperti apa nantinya, jadi stop untuk menarik perhatian dari aku." Gama mengucapkan dengan penekanan.
"Aku tidak tau kalau membantu orang tua kita itu salah bagimu, tapi untukku itu kewajiban."
"Aku tidak bilang salah, tapi setidaknya pikirkan hidupmu, dan orang lain seperti saat ini kau sudah mencuci bajuku kan, itu artinya aku tidak membutuhkan jasa cuci lagi, lagian kita tidak harus pedulikan dengan hidupnya, kenapa dia harus rela jadi pekerja seperti itu, apa yang dialami keluarganya, jadi baiklah kau saja yang pecat dia besok,"
"Jasa cuci, aku benar-benar bosan tadi, itu sebabnya aku membereskan semuanya, aku tidak bermaksud apa-apa, aku tidak mau memecatnya," Maira mengucapkannya dengan nada lantang anehnya seperti rengekan di telinga Gama.