
"Akhirnya selesai juga," ucap Nisa lega. sembari merenggangkan badannya yang sedari tadi tidak bisa berkutik. karena sedikit saja bergerak, Maira langsung melotot nya.
"Nih, kamu aja ya Nisa, yang antar aku lapar, mau makan" pinta Maira sembari menyerahkan map hasil kerja mereka kepada Nisa.
Rekannya sedikit mengernyitkan keningnya, tanda heran dan sekaligus bingung dengan sikap Maira, yang akhir-akhir yang sering bilang lapar.
"Mai, kamu lapar lagi, bukannya tadi udah makan" tanya Nisa tak bisa lagi menahan rasa ke ingin tahuannya.
"Kemarin-kemarin juga kita makan, tapi tetap aja sekarang juga harus makan kan, bahkan kita kerja untuk makan," jawab Maira.
"Tapi GK segitu juga kali Mai, aku lihatnya kamu kayak kelaparan aja terus"
"Ya udahlah, antar aja sana Nis, entar kelamaan kena marah pula kita"
"Kamu aja Mai, tiba-tiba aku kebelet ni, iya!" mohon Nisa.
"Alasan aja kamu" protes Maira, sebenarnya ini hal sudah biasa buatnya menghadap bahkan presentasi di depan Bos, tapi itu dulu sebelum CEO mereka berganti, dan kebetulan sekali CEO baru sekarang itu adalah suaminya.
"Ayolah Mai, ini kan dah biasa buat kamu, lagian bisa mati berdiri aku di sana melihat ketampanan mereka, kamu aja yah" mohon Nisa.
Sebenarnya Maira enggan sekali, tapi apa mau di kata, ini sudah kewajiban nya sebagai karyawan bukan.
"Baiklah!, aku saja." jawabnya pasrah.
*
*
Hening itu pastinya, setelah Maira menyerahkan pekerjaan mereka kepada Bosnya itu. dia berusaha tampak setenang mungkin, walau sebenarnya mati-matian menahan kegugupan di hatinya.
Berbeda dengan Gama, terlihat jelas hawa kemarahan di wajahnya. dia merasa peraturan di kantor perlu di rombak, semua tidak sesuai dengan aturannya.
Tidak akan pernah lagi orang sembarangan masuk ke ruangannya, kedatangan wanita bayaran itu, cukup membuat moodnya buruk. di tambah lagi, yang sedari tadi menunggu laporan yang di kerjakan dari divisi Maira yang berstatus istrinya itu tak kunjung selesai.
"Hanya, melakukan pekerjaan seperti ini sangat lama," ucap Gama. " Apa saja yang kalian lakukan." bentak Gama.
"Maaf pak"ucap Maira.
"Maaf, maaf, itu aja yang bisa kalian ucapkan, keasikan makan gaji buta kalian" bisa-bisanya Gama meluapkan kemarahannya pada Maira.
Melihat Maira menjadi pelampiasan kemarahan Bos nya, Bagas juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia tau bagaimana kalau seorang Gamaliel Pradipta marah pasti tidak pandang bulu.
"Keluar sana!" Bentaknya.
Maira keluar dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan, hatinya perih sekali, untung saja air mata nya bisa di ajak kerja sama, yang ditahan sejak tadi agar tidak menangis di depan Gama.
"Suami sialan, ingin sekali aku menjambak rambutnya, membungkam mulutnya" sambil menangis sesenggukan, Maira mengumpat suaminya itu.
Dengan perasaan yang sedikit lega, Maira keluar dan kembali ke tempat kerjanya. dan mendapati Nisa yang celingak-celinguk gelisah.
"Ya ampun Mai, akhirnya kembali juga kamu!" seru Nisa tak luput mengusap dadanya.
"Kenapa mang?"
"Kamu nanya, nanya kenapa" jawab Nisa dengan gaya bercandanya.
"Jangan becanda, aku lagi kesal"
Melihat Maira tampaknya serius. "apa ada masalah Mai, apa kamu di marahi atau di hukum lagi, atau gimana cerita dong Mai"
"I_iya aku kena marah sama CEO tampan mu itu" kesal Maira yang akhirnya ada juga tempat pelampiasan marahnya.
"Kok, marah sama aku juga Mai"
"Masih mending aku yang marahin kamu, tadi aku habis di bentak sama Bos sialan itu"
"Iya deh maaf Mai, tadi aku benar-benar kebelet loh." sesal Nisa, yang baru pertama kali melihat kemarahan sahabatnya itu.
Kemarahan Maira sedikit redah, sesuatu yang tadi mengganjal di hatinya, akhirnya bisa di luapkan, walau salah sasaran kepada Nisa.
"Ya udahlah, GK usah di bahas lagi, kerja, kerja, kerja aja yuk' ajak Maira yang berusaha untuk terlihat biasa saja. yang merasa tak enak juga melihat Nisa jadi sasaran kemarahannya.
"Apa mungkin, gara-gara cewek seksi tadi kali Mai, bos kita jadi marah" ucap Nisa lagi dan membuat Maira mendongkrak tidak suka.
" GK urus ah, jangan bahas lagi deh Nis, malas ingat tu suami sialan" Maira keceplosan bilang suami, untung saja Nisa tidak menyadarinya dan mereka pun kerja kembali.
*
*
Setelah pulang kerja, seperti biasa Maira menunggu di depan apartemen Gama, dia terpaksa menunggu karena sebelumnya dia sudah mencoba memasukkan sandi dengan nama cinta pertama suaminya itu, tapi sayangnya sudah berganti.
Mau minta langsung enggan, mengingat jarangnya mereka saling bicara, minta kepada Bagas sekretaris suaminya itu, selalu kelupaan, mau tidak mau dia pun terpaksa menunggu sampai Gama pulang.
Akhirnya yang di tunggu pun muncul, melihat Gama datang, yang tadinya Maira duduk di lantai, mengubah posisinya dengan berdiri. seperti biasanya mereka hanya sekilas saling tatap, dan kembali lagi dengan mode saling diamnya.
Maira yang masih kesal dengan kejadian tadi, berusaha untuk tidak melihat wajah suaminya itu. dan sama halnya dengan Gama yang terlihat cuek juga.
Ini kah namanya bahwasanya kenyataan jauh dari kita harapkan, dulu Maira ingin melancong ke Negara kutub, dan memiliki pasangan yang dapat menghangatkannya di sana, tapi kini, malah kebalikannya dia mendapat pasangan yang dingin di musim panas saat ini.