
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, seperti biasanya di tempat kerja maupun di apartemen, hubungan Maira dan Gama masih begitu saja tak ada kemajuan.
Pagi ini Maira rasanya ingin sekali memasak, karena hari ini mereka libur, Gama juga tidak pergi kemana-mana. jadi mau tidak mau Maira harus berpura-pura biasa saja, melihat tampang suaminya itu satu hari ini.
Jika Maira sibuk memasak, berbeda dengan Gama, dia sedang sibuk menghubungi seseorang. yang sedari tadi mondar- mandir tidak jelas.
Dan tak berselang lama, bell berbunyi bertanda ada orang datang, Maira terpaksa membukakan pintu, saat melihat Gama tidak sedikit pun bergerak dari posisinya.
"Benar-benar, suami tidak ada perasaan, jelas-jelas lihat aku sibuk, tidak bisakah dia buka pintu" gerutu Maira sambil berlalu membuka pintu.
"Pagi non!" sapa Bagas saat Maira membuka pintu.
Maira menjawab hanya dengan anggukan dan senyum, lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Pantas saja dia biasa saja, ternyata sudah tau siapa yang bakal datang" ucap Maira membatin sambil memasak lagi.
Setelah mendengar keluhan bosnya itu, Bagas hanya bisa, mengusap dada dan mencoba sabar, karena dia harus bangun awal di hari liburnya ini dan buru-buru saat dapat telepon dari bosnya itu.
"Bos ini selalu, membuat ku kesal, untuk urusan baju kotornya aku juga yang harus repot, dia kan sudah menikah" sungut Bagas sambil membungkus baju kotor bosnya itu.
"Tunggu kak, jangan di buang kan sayang! seru Maira saat melihat Bagas ingin membawa pakaian kotor Gama yang sudah di bungkus nya dalam kresek.
"Tidak non bukan mau di buang, ini mau saya bawa ke laundry" jelas Bagas.
Karena setelah Gama memarahinya tempo hari, Maira menjadi enggan mencuci pakaian gama lagi. tapi sayangnya jasa cuci yang di tunggu itu tidak pernah Maira lihat atau tepatnya tidak datang lagi, makanya pakaian kotornya bertumpuk.
"Jangan! biar aku saja yang cuci" ucap Maira setelah memikirkan sejenak Maira rasa ini salah satu alasan menarik uang dari Gama sebagai upah cucinya.
Gama dan Bagas sama-sama keberatan , karena mengingat kondisi Maira yang sedang mengandung.
" Tidak usah" ucap Gama dengan nada seperti biasanya cuek dan dingin.
"Jangan non, biar saya antar laundry saja" ucap Bagas, jika bos dan sekretarisnya itu, menolak karena khawatir berbeda dengan Maira, melihat respon Gama dan Bagas seperti itu, Maira berpikir kalau mereka tidak percaya Maira mencuci dengan bersih.
"Aku pasti akan mencuci bersih, kalian tidak usah ragu, jika masih kotor saya tidak akan minta upahnya, tenang saja" Maira mencoba menjelaskan walau sedikit kesal tapi tetap berusaha tenang.
Gama mendengar itu, berkerut kening yang tadinya dia berpikir Maira melakukannya karena tanggungjawabnya sebagai istri. "upah, ternyata wanita ini ya, aku pikir dia ingin melakukan tugasnya sebagai istri, ternyata demi upah" sambil membatin Gama melihat wajah sekretarisnya itu yang senyum tersipu.
"Bukan tidak percaya non, bagaimana kalau non capek, ingat non harus jaga kesehatan kan" jelas Gama panjang lebar, dan membuat Maira sedikit terharu.
"Seandainya kamu yang bilang gitu kak, mungkin aku sangat senang" batin Maira sambil menatap Gama yang terlihat cuek.
"Sudahlah cepat, aku ingin hari ini juga siap, itu semua mau di pakai bukan di pajang jadi jangan lelet" Saut gama karena sejujurnya dia kesal Bagas yang mengungkapkan kata-kata yang seharusnya dia ucapkan.
"Baiklah non, saya pergi dulu" pamit Bagas saat menyadari kekesalan bosnya itu.
Maira mengangguki tapi tiba-tiba saja dia teringat ucapan Nisa, tentang bayangan seram dan aneh tiap melihat sekretaris suaminya itu.
"Mas! tunggu aku mau nanya, malam mas yang antar teman saya, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada apa-apa non, emang teman non bilang sesuatu?" jawab Bagas dan balik bertanya walau terlihat ragu.
Maira menjadi sedikit enggan bertanya, saat melihat Gama yang sempat ingin beranjak malah duduk manis kembali.
Mendapat tatapan dari dua orang di depannya, " Kenapa kalian melihat ku seperti itu, kalian bicara saja anggap saja aku tidak ada" ucapnya santai namun terlihat menyebalkan untuk Maira dan Bagas.
"Bos kepo" batin Bagas.
Sedangkan Maira yang beberapa hari ini tidak memiliki kesempatan bertanya langsung pada Bagas, walau enggan terpaksa bertanya di depan suaminya itu.
"A-apa mas Bagas, lakuin sesuatu sama teman saya, makanya mas dapat cakaran?" tanya Maira walau ragu dan terkesan menuduh.
"Ck, ck, ck,! sekarang ini iya, banyak pelaku bertampang seperti korban, mirisnya" ucap Gama dengan nada jengkelnya yang langsung dapat tatapan tajam dari Maira dan Bagas.
"Ya ampun, pria ini tidak bisakah dia diam dan tidak menyebalkan seperti itu" batin Maira saat melihat tingkah suaminya itu.
"A-apa kenapa kalian menatapku seperti itu, aku hanya baca berita, lanjutkan saja pembicaraan kalian"ucap Gama dengan acuh.
Dan akhirnya Maira bertanya lagi "begini mas, teman saya bilang setiap kali melihat mas Bagas dia selalu bayangin" pertanyaan Maira terpotong saat dia bingung bagaimana mengucapkannya.
"Bayangin apa non?"
"Bayangin hal aneh dan menyeramkan gitu mas"
"Hal aneh dan menyeramkan," beo Bagas.
"Iya mas Bagas, setiap melihat mas teman saya bilang, seperti terbayang mas dan dia sedang begitulah"
"Parah main nyosor aja, sampai buat anak orang ketakutan segala, gila banget kan" ucap Gama lagi, dan masih dengan nada menyebalkan dan terlihat fokus dengan henponnya.
Bagas tau maksud pertanyaan Maira, hanya saja dia juga bingung harus menjelaskan bagaimana kejadian sebenarnya.
"Bukan begitu non, sebenarnya itu hanya salah paham, aku tidak ngelakuin apa-apa, hanya saja teman non sedang mabuk, dan baru putus jadi dia pikir saya itu mantannya itu sebabnya dia, atau tepatnya terjadi seperti itu" walau ragu akhirnya Bagas menjelaskan kejadian sesungguhnya.
Mendengar penjelasan Bagas Maira pun menjadi tidak enak, karena melihat kejujuran Bagas dan dia juga tau pasti bagaimana kacaunya Nisa saat mabuk.
"Maaf iya mas, terkesan menuduh aku hanya ingin memastikan saja"
"Iya non, tidak apa-apa" ucap Bagas tulus.
Gama melihat bau kedamaian, terlihat kesal karena ini kesempatan untuk membalas kekesalannya selama ini kepada sekretarisnya itu. walau sesungguhnya dia tau pasti Bagas tidak melakukannya.
"Paling alasan, Kenapa juga orang-orang sekarang, selalu percaya begitu saja" ucap Gama lagi mencoba memperkeruh keadaan lagi.Yang langsung dapat tatapan tajam dari Maira dan Bagas.
Melihat istri dan sekretarisnya itu, menatapnya seperti itu, mau tidak mau Gama akhirnya terdiam.
"Kenapa juga aku hanya dapat gelar ceo pemain wanita dan dingin, seandainya ada gelar ceo yang kejam, mungkin mereka berdua tak akan berani menatapku seperti itu, menyebalkan" gerutu Gama kesal.