Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 18



Disisi lain di sebuah ruangan yang cukup luas."Bagaimana apa semua sudah kau tangani dengan benar" tanya Gama.


"Sudah Tuan, aku sudah memanggil Nona dan temannya kemari, biar langsung berhadapan dengan Tuan saja"


" CK.. kau ini, kenapa ikut-ikutan jadi lemot, yang aku maksud apa hasil pemeriksaan Dokter itu" ya, yang tiba-tiba menelepon tadi itu Bagas, dan atas perintah Gama yang sedari sibuk tak jelas membuat Bagas harus mengusap dada, karena sangat menguji kesabarannya.


"Kalau segitu penasaran kenapa tidak Tuan sendiri yang bertanya, aneh sekali," batin Bagas.


"Kenapa diam saja!" seru Gama yang terlihat mulai kesal karena Bagas hanya diam tidak merespon ucapannya yang malah terdiam melamun.


"Eh.. iya Tuan, Dokter bilang Nona itu," Bagas terlihat bimbang memberitahu pada Gama, apa ini kabar baik atau buruk buat bosnya itu."Nona itu sedang mengandung atau tepatnya hamil Tuan." ucap Bagas mantap.


Dan bertepatan juga bel ruangan itu berbunyi, dan menunjukkan wajah entah kenapa sejak dari membuatnya uring-uringan tidak jelas.


"Permisi Bos! eh.. Pak" sapa Nisa keceplosan karena terbiasa dengan CEO lama mereka sering memanggilnya bos, yang membuat Bagas sedikit senyum kecut dan terlihat seperi ejekan buat Nisa.


"Kenapa denganku, sedari tadi aku tidak ingin melihat wajahnya, tetapi sekarang perasaan makian itu hilang begitu saja" batin Maira dengan perasaan yang tiba-tiba menghangat saat melihat Gama.


"Duduk!" perintah Gama, yang kini sudah bisa mengendalikan perasaannya lagi, dan kembali dengan sifat dingin dan datarnya.


*


*


*


"Bos aneh, mana ada hukuman kantor seperti ini, membersihkan ruangan rapat segala" protes Nisa sedari tadi setelah keluar dari ruangan Gama, dan mendapat hukuman merapikan ruangan rapat karena mereka terlambat, entah apa maksud Gama malah menghukum mereka seperti itu, yang pasti masih terlihat bersih, karena ada OB yang selalu merapikannya, tetapi tetap saja membuat Nisa mengomel sedari tadi sedangkan Maira lebih memilih diam.


"Aduh Mai, gak bisa gitu dong, kenapa pake hukum segala, udah gaji terpotong, kerajinan ludes, dapat omelan lagi, apes dah Mai," keluh Nisa.


"Siapa suruh kamu mabuk segala, kan telat jadinya kamu, aku juga kena imbasnya iya kan," talaknya yang hanya dijawab Nisa dengan senyuman.


"Maaf deh Mai, aku salah," seru Nisa dengan wajah yang dibuatnya sok imut gitu, yang berhasil membuat Maira tersenyum kembali.


"Kamu itu ya Nisa, selalu aja ada alasan" dengan melempari Nisa dengan kain lap di tangannya kearah Nisa dan berhasil menjadi candaan mereka.


"Kenapa mereka malah main-main seperti itu" gerutu Gama saat melihat cctv-nya yang ada di layar, saat berniat tadi ingin melihat hasil kerja karyawannya itu.


"Benar juga, kenapa Nona dan temannya seperti anak-anak," ucap Bagas lagi.


"Seharusnya aku memberi hukuman yang lebih berat tadi" cicit Gama dan menutup layarnya itu.


"Kenapa dihukum si Bos, bukannya itu tidak ada di aturan kantor kita." pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Bagas. karena sudah terbiasa Bagas saat tidak sedang membicarakan pekerjaan, dia lebih santai bicara dengan Gama.


"Entahlah, aku hanya ingin menghukum mereka saja."


"Ingat Bos, Nona itu sedang hamil,"


"Tidak usah diingatkan, kenapa jadi kau yang repot, tugasmu hanya menjelaskan Dokter itu untuk tidak buka suara lagi" Gama kembali lagi dengan perasaan yang sulit diartikan nya, apa yang harus dilakukan dengan nasib anaknya itu. karena sampai saat ini hatinya masih belum bisa menerima statusnya sekarang, yang tiba-tiba menjadi suami bahkan sebentar lagi menjadi seorang Ayah.


"Aku benar-benar bingung, bagaimana dengannya apa merasa bingung juga, tidak dia pasti senang, dia memiliki alasan untuk terus mengikat pernikahan ini, aku yakin itu, dia pasti menginginkan sesuatu lebih dari menolong perusahaan Ayahnya, wanita sama saja, pasti hanya mencintai materi saja" batin Gama.


"Aku ingin tau, bagaimana caramu memberi tahu kabar ini pada semua orang, terlebih kepadaku" gumam Gama yang pasti yang hanya bisa didengar olehnya.