
Hampir setengah jam mereka berempat terjebak dalam lift, entah apa masalahnya, tiba-tiba saja berhenti. Dan sudah berapa kali juga Gama mengumpat dalam hatinya. Walau masih dengan wajah datarnya.Dan Bagas hanya diam, dia benar-benar paham, pasti Bosnya itu sudah sangat marah.
Berbeda dengan Maira dan Nisa, yang masih sempat-sempatnya ngegibah.Kebetulan sekali, seperti K-drama. pake acara lift macet iya kan.
"Wah Mai,, seru yah, kayak drama favorit kamu nih, Ceo tampan terjebak dengan karyawannya, lalu mereka.."
"Hentikan deh Nisa, masih sempat-sempatnya ya mikirin yang aneh,gak takut apa." Maira mengucapkannya dengan nada jengkel, karena situasi mereka saat ini, jauh berbeda dari drama di tonton Maira, jika di drama situasi seperti ini sangat romantis menurutnya. Tapi saat langsung mengalaminya, percayalah sangat menakutkan.
"Kenapa harus takut, lagian disini kita kan, berempat jadi kalaupun, ni lift jatuh kita matinya gak berdua aja Mai, dan siapa tau juga mereka jodoh akhirat,"
" Ngasal deh kamu Nisa, segitunya ya, putus cinta buat otak kamu oleng,"
"Kamu tau Mai..?"
"Tau lah, kamu kan kalau mabuk bocor," Ucapnya mantap. "Udah deh, gak usah sedih lagi, masih banyak juga yang ngantri ya kan,"
"Benar Mai, untung aku masih ori, kalau gak, gimana jadinya ya,"
"Benar Nisa, aku aja yang udah sah, masih belum pasti nasibku gimana, punya Suami yang sangat dingin, yang masih dibayangi cinta pertamanya." Batin Maira.
"Mai,.! Kenapa sih kamu, ujung-ujungnya menghayal mulu,"
"Kenapa mereka berisik sekali," Gerutu Gama.
"Em...!" Bagas mencoba untuk memberi kode kepada Istri dan teman Bosnya agar tidak berisik lagi.
"Kenapa dengannya," Bisik Nisa yang ditanggapi Maira dengan diam, karena perasaanya sekarang mendadak tidak enak, sesak dan pusing. Rasanya semuanya berputar-putar di kepalanya dan detik berikutnya semua terasa gelap diiringi dengan jatuhnya tubuhnya, untung saja Bagas yang memang lebih dekat dengan Maira, dengan sigap menopangnya, dan entah kebetulan lift itu terbuka.
*
*
*
"Syukur deh Mai, bangun juga kamu," Ucap Nisa saat Maira siuman.
Maira menjawabnya dengan senyuman dan menggeleng kepalanya,"Cara kamu ngomong, aku sepertinya baru mati aja deh Nisa"
"Kamu nyariin siapa, jangan bilang sekretaris tampan dan menyebalkan itu, dia dah pergi," Jelas Nisa saat melihat Maira seperti mencari seseorang. Dia jadi teringat sebelum Bagas keluar tadi, mengatainya dengan terang-terangan.
"Putus sih putus, tapi kan harus tetap waras, jagain tu Nona jangan sampai lengah" Jika dia ingat kata itu dia pasti mengumpat. "Sialan emang,, untung ganteng jadi masih aku tolerir dah tu mulut sekretaris,"
"Hanya Mas Bagas yang antar aku Nisa,?" Tanya Maira untuk memastikan. Benarkah Suaminya itu sama sekali tidak peduli dengannya.
"Iya loh Mai,, Kamu ngarep Ceo baru itu ikut, gak usah deh Mai, tampan sih, tapi dia itu pemain wanita tau gak."
"Aku tau,," Jawab Maira yang kini jelas menunjukan raut wajah kecewa. Bohong sekali jika dia tidak berharap Gama sedikit khawatir padanya. Karena sejak dia sah jadi seorang istri dia sudah memantapkan hatinya untuk suaminya itu, bagaimana pun akhirnya, dia akan bertahan sampai di titik terlemahnya.
"Aku tau Mai kamu pasti punya rahasia, kamu pasti belum siap untuk bercerita sekarang, dan aku akan selalu menanti kejujuran itu," Batin Nisa. karena sejak Maira cuti mendadak dan berapa kali dia mendatangi kost Maira, yang dia diberitahu sudah pindah, dia tau pasti sahabatnya itu menutupi sesuatu darinya.
"Mbak Maira, kalau sudah lumayan nanti aku tunggu di ruangan ya," Pinta Dokter di sana.
"Ok bu dokter,! Seru Nisa dan Maira hanya bisa geleng- geleng melihat tingkah sahabatnya itu sekaligus rekan kerjanya.