
Maira dan Mama Violin, akhirnya masuk juga, tak ada yang berbeda dengan kamar Gama, Masih bernuansa gelap, tapi dominan ke biru.
"Sebentar lagi barang mu akan nyampe ya nak," ucap Mama Violin, yang kini duduk manis di sofa yang ada di sana.
Maira menjawabnya dengan anggukan, walau terlihat jelas di wajahnya keengganan dan Mama Violin menyadarinya.
"Jangan berkecil hati sayang, Mama ngantar kamu kesini bukan karena Mama, gk senang kamu tinggal di rumah."
"Lalu apa Ma, Mama tau jelas Kak Gama.." Maira berusaha mengutarakan isi hatinya walau terbata. "Kak Gama, tidak suka sama Mai,, gimana kalau dia marah, lalu aku harus apa ma, apa aku bisa melawannya," dengan wajah polosnya, Maira melantunkan pertanyaan itu, yang berhasil membuat Mama Violin tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Ternyata Mama Violin, bisa juga tertawa, tapi apa yang lucu ya," batin Maira.
"Sayang, saat dimana kamu menerima pernikahan ini, saat itu juga kamu harus siap, dengan semua kisah pahit atau manis dalam hubungan ini, kamu harus mengubah sifat lemah menjadi kekuatanmu, karena tidak ada buku panduan dalam membina suatu pernikahan, semua berjalan seiring waktu, ingat Mai,, kuncinya ada pada kesabaran." Mama Violin menjelaskan dengan panjang yang cukup membuat Maira sedikit memiliki harapan untuk pernikahannya.
"Ma,, bisakah aku bertanya, apa sebenarnya hubungan, kak Gama dengan Kinara, sepertinya dia sangat penting untuk kak Gama.?"
Walau sedikit enggan, akhirnya Mama Violin, menceritakan semuanya. Gama dan Kinara, sahabat sejak kecil, walau mereka mengaku tidak pacaran, tapi jelas dimata Gama ada cinta untuk Kinara, hingga Revan meminta pada Mama Violin untuk melamar Kinara untuknya.
flash back on.
"Apa benar Mama, tulus sayang sama Revan?"
"Kenapa bertanya seperti itu nak, tentu saja.."
"Bisakah Mama membuktikannya,"
"Iya bisakah Mama melamar Kinara untukku, aku ingin menikahinya.,"
"Aku tau hubungan Gama dengannya, tapi kali ini saja aku ingin sesuatu yang dimilikinya menjadi milikku.
Dengan perasaan dilema Mama Violin mengiyakannya, tapi sebelum benar-benar melamar Kinara untuk Revan, Mama Violin terlebih dulu bertanya pada Kinara, dan ternyata Kinara bersedia, dan bukankah semua pilihan ada di tangan Kinara. yang lebih memilih Revan dari pada Gama. dan Mama Violin juga belum tau kenapa Kinara lebih memilih Revan.
flash back off
Maira masih penasaran, apa Gama tau Kinara bersedia menerima kak Revan,"apa kak Gama tau Ma, kalo Kinara juga mau menikah dengan Kak Revan?" tanya Maira.
"Tidak sayang, biarlah ini menjadi rahasia kita ya,"
Maira menjawabnya dengan anggukan, walau masih banyak pertanyaan yang bercabang di otaknya.
sekarang dia sendiri, setelah barangnya sampai Mama Violin juga ikut pulang. Maira masih duduk termenung di tempatnya sedari tadi, dia masih bingung harus bagaimana. bagaimana dia menghadapi suaminya itu nanti.
hingga suara perutnya menyadarkan ingin diisi karena ternyata banyak pikiran bisa membuatnya cepat kelaparan. untung saja di apartemen ini lengkap semua, jadi dia tidak kesulitan saat kelaparan seperti saat ini.
"Apa dia memasak sendiri, apa dulu cinta pertamanya itu juga sering masak disini,," Maira menggerutu sendiri entah kenapa dia selalu kesal mengingat masa lalu suaminya itu."wajah dingin tapi budak cinta"
Maira memutuskan untuk beres-beres, walau sebenarnya apartemen suaminya itu masih terlihat rapi. dan setelah selesai Maira juga membersihkan diri dan istirahat karena kedepannya mungkin akan sulit untuk dilaluinya.