Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 34



Dengan pikiran kacau, Maira mengikuti langkah Gama. tanpa menyadari kemana Gama membawanya. Dia tertegun dan merasa bingung. tiba-tiba sudah berada di ruangan yang belum pernah di lihat nya selama di rumah ini. yang lumayan luas walau tak seluas rumah utama.


"Ya ampun, kenapa sepi iya. kemana para tamu, apa sudah pada pulang,,?" tanya Maira dalam hati, saat sadar tak ada siapapun selain dia dengan Gama."Tidak.. tidak.. ini kan bukan tempat acara tadi, lalu tempat apa ini, kenapa juga dia membawaku kesini..?"


Maira ingin bertanya tapi sungkan. melihat raut wajah Gama, lebih dingin dari biasanya. jelas sekali suasana hatinya sedang buruk. Jadi dia memutuskan diam saja, menunggu sang suami bicara terlebih dulu.


Lama senyap, Maira akhirnya tidak tahan untuk diam saja.dia pun bertanya terlebih dulu. "Ini tempat apa kak, kok aku belum pernah kesini iya..?"


Gama hanya diam tidak menggubris pertanyaan Maira sama sekali. Dia berdiri dengan posisi memunggungi Maira.


Tak di respon dengan Gama. Maira benar-benar kesal."Menyebalkan, untuk apa dia membawa ku ke sini. kalau hanya untuk diam saja." cicitnya pelan.


"Kemarilah,," pinta Gama tanpa menoleh padanya.


Walau kesal Maira menurut, dan melangkah lebih dekat dengan Gama. ikut menatap apa yang menjadi perhatian suaminya itu.


"Siapa mereka..?" tanya Maira saat melihat sebuah foto keluarga yang memiliki dua anak.satu lelaki dan satu perempuan. sebuah foto yang sepertinya sudah sangat lama.


"Kau lihat kedua orang tua itu. mereka Papa dan Mama Kinara dan kedua anak itu Kinara dan.. Aku.." ucap Gama dengan nada yang berat.


Maira mengerutkan keningnya bingung.untuk apa dia bercerita semua ini padanya. toh, udah tau juga kalau Kinara itu cinta pertamanya.


"Orang tua Kinara adalah sahabat Papa dan Mama. aku besar bersama Kinara, dan masa kecil ku lebih banyak bersama keluarga mereka. Bahkan, pada saat kejadian naas menimpa orang tuanya, aku turut menyaksikan nya. aku masih ingat, waktu itu kami hendak liburan, tapi di perjalanan kecelakaan maut menimpa kami, Orang tua Kinara tewas di tempat demi menyelamatkan kami. sejak itu, Dia tinggal bersama kami dan di tempat inilah kami tumbuh besar bersama. setiap hari ruangan ini menjadi tempat bermain kami dulu." jelas Gama panjang.


Maira yang mendengar cerita Gama, terkejut saat baru tau kalau Kinara ternyata sudah yatim piatu. jujur dalam hati timbul rasa simpati untuknya. lalu, untuk apa Gama menjelaskan semua ini padanya. "mungkin kah dia akan bilang sampai kapan pun, tak akan bisa melupakan Kinara, dan meminta aku menyerah..?" dalam hati Maira bertanya-tanya tujuan Gama.


"Malam ini kau pasti melihat, wajah aslinya bukan..?"


"Hmmm..!" jawab Maira pelan.


"Jangan mengusiknya, dan jangan membuatnya marah, jika bisa jauhi dia.."


"Bagaimana jika dia yang mengusik ku, apa aku harus diam saja. tidak akan..!" tolak Maira.


Dengan helaan nafas yang berat. Gama menoleh pada Maira melihat wajah kesal istrinya itu, dan entah kenapa tiba-tiba hatinya menghangat, melihat raut wajah Maira yang manyum seperti itu.


"Masih banyak hal yang belum bisa ku beritahu padamu. Jadi, untuk kali ini menurutlah. dan yang paling penting, jangan pernah mengumbar kebahagian mu di depannya.." pinta Gama dan kali ini dengan nada yang sedikit tegas. Maira mau tak mau terpaksa menurutinya.


"Baiklah.." ucap Maira pasrah.


"Sekarang giliranmu,,! sepertinya kau juga memiliki masa lalu yang manis dan romantis yang masih tergantung." ucap Gama dengan nada menyindirnya.


"Tidak ada,.!"


"Kau tidak ingin memberitahu ku,,? baiklah aku tidak akan bertanya lagi. lagian juga itu bukan urusan ku.." ujar Gama sambil beranjak dan melewati Maira begitu saja.


"Maaf,, aku tak tau cerita dari mana. yang jelas sekarang masa lalu tak mempengaruhi ku lagi. Sekarang pikiran dan fokus ku hanya untuk mu." gumam Maira pelan sambil mengikuti langkah Gama.


Baru sampai di tempat acara. Gama dan Maira terkejut, saat melihat beberapa karyawan dari perusahaan Gama, tak terkecuali Bagas dan Nisa turut hadir di sana.


Karena acara pesta malam ini, di adakan Pak Pradipta untuk kabar bahagia dari anak pertamanya. Randy yang akan memiliki penerus sekaligus cucu pertama dari keluarga Pradipta.


Selain itu juga, untuk memperkenalkan Maira sebagai menantu Keluarga Pradipta. dan juga merayakan perusahaan baru Gama.


"Papa dan Mama selalu membuat kejutan yang yang fantastis. untung aku tidak ada sakit jantung, bisa mati cepat aku, gara-gara kejutan dari mereka" bisik Gama ke telinga Maira yang saat ini berada di sampingnya.


"Bagaimana ini Kak..?"


"Bagaimana apanya, untuk apa lagi di tutupi. bukannya kekasihmu juga sudah tau. apa salahnya orang kantor juga tau, kau itu istri Ceo yang mereka kagumi." Gama mengucapkan dengan percaya diri dan sedikit sindiran.


"Kekasih apalah maksud suami menyebalkan ini. tak bisa kah, dia tidak menyindir di saat situasi seperti ini." ucap Maira dalam hati.


Saat Maira mengalihkan tatapan nya dari Gama. dia langsung ditujukan dengan sorotan kecewa seseorang yang berada di deretan para tamu.


Siapa lagi kalau bukan sahabat dan rekan kerjanya, Nisa.


Nisa menatapnya tak percaya. Maira sahabatnya itu ternyata sudah menikah. selain Nisa, para karyawan wanita yang mengagumi Gama juga kecewa. saat tau dia sudah menikah di tambah dengan kenyataan Mairalah yang menjadi istrinya.


Usai di kenalkan Pak Pradipta. Maira langsung menghampiri Nisa. dia tau sahabatnya itu sedang marah. itu sebabnya dia sabar duduk di sampingnya, menunggu sampai redanya marah Nisa.


"Maaf,, aku tidak cerita." mohon Maira saat dia rasa mood Nisa mulai membaik.


"Tega kamu Mai,, nikah gak bilang-bilang."


"Maaf..!" ucap Maira lagi sambil memegang kupingnya. seperti adegan drama korea yang sering mereka tonton.


"Jujur aku kecewa Mai, kamu bohongi aku. tapi lebih kecewa lagi, aku tidak ikut serta acara nikah mu. dan.. tak bisa ikut acara lempar bunga."


"Lempar bunga.." beo Maira bingung.


"Iya.. lempar bunga Mai.. Siapa tau aku yang dapat dan langsung nyusul nikah juga.."


Mendengar ucapan Nisa. lagi-lagi bisa membuat Maira tersenyum. selalu saja bisa menghibur hatinya.


Sedangkan di tempat lain.


Bagas yang meringis kesakitan, saat Gama menendang kakinya tadi. tetap berdiri sabar mendengar ocehan Gama. karena tidak memberitahunya akan ada acara kejutan seperti ini.di tambah masalahnya dengan Kinara. dan juga rasa panas di hatinya, saat tau Maira ternyata dulu memilki hubungan. dengan Kakak yang selama ini selalu menjadi saingannya dan pengganggu buatnya.