
Hari yang di tentukan tiba, kini Maira menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada dikamar Gama yang kini berstatus suaminya setelah selesai acara, tidak seperti pertemuan pertamanya Gama langsung pergi begitu saja tetapi kali ini ikut serta dengannya pulang kerumah mertuanya itupun setelah Mamanya memohon padanya entah masalah yang terjadi sampai-sampai Gama enggan sekali pulang ke rumah, yang pasti banyak kejutan yang Maira baru tau, seperti Mama mertuanya bilang Gama jarang pulang ke rumah dia lebih betah di apartemennya sendiri, dan ternyata Gama memiliki dua saudara perempuan dan satu saudara kakak laki-laki.
"Bagaimana aku harus bersikap padanya, selama acara tadi dia tidak bicara sama sekali." gumam Maira sedikit frustasi.
"Apa kau akan duduk selamanya disitu.. dengan pakaianmu itu apa kau pikir menarik, merusak pandangan saja." Gama mengucapkan itu setelah keluar dari kamar mandi.
Maira tidak berniat membalas kritikan Gama, rasanya dia ingin sekali tidur dan berharap bangun- bangun ini semua mimpi.dia berlalu begitu saja dan masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian karena semua memang sudah disiapkannya.
"Baju apa itu?" tanya Gama dan pertanyaan yang konyol menurut Maira.
"Jelas-jelas ini baju tidur masih aja bertanya, aneh sekali." batin Maira.
"Apa kau tidak pernah liat, ini baju tidur cewek.. aneh," Maira menjawabnya dengan nada sedikit kesal.
"Wajarlah aku tidak tau, karena setiap cewek yang tidur denganku tidak pernah pakai baju seperti itu atau tepatnya tidak pakai baju,"
Kata- kata Gama berhasil membuat Maira sedikit terkejut, dan tidak ingin menutup lagi perasan ingin kejelasan ucapan suaminya itu, karena Maira paham maksud tidur yang diucapkan Gama.
"Sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri?" tanya Maira langsung dan anehnya pertanyaan Maira, tidak membuat Gama sedikitpun merasa canggung dia menjawab dengan santainya.
"Entah lah..aku pun sudah lupa,"
"Oh God.. bisakah aku memakinya" batin Maira.
"Apa menurut mu itu menyenangkan, sepertinya kau senang sekali dengan keburukan seperti itu."
"Biasa aja tak ada menyenangkan,."
"Ah.. sudahlah aku ingin istirahat,"sela Maira karena mungkin semakin panjang cerita akan semakin beda ceritanya.
"Apa lagi maksudnya," batin Maira
Lagi-lagi Maira lebih memilih diam dan
membiarkan Gama bicara sesukanya.
"Jangan bilang kau tidak tau tugas Istri!"
"Mana aku tau, aku baru jadi seorang Istri dari beberapa jam lalu, jadi maaf tentu saja aku tidak tau."Maira menjawab Gama dengan cueknya dan berhasil membuat Gama sedikit geram.
"Benarkah kau tidak tau,, baiklah akan ku beri tau apa yang harus kau lakukan, apa lagi ini malam pertama kita bukan," Gama mengucapkannya, dengan aura yang cukup membuat Maira sedikit ngeri, karena kali ini Gama sepertinya serius, dan cukup membuat akal sehat Maira waspada, karena memang Maira dia tau jika sudah Suami Istri itu seperti apa, karena rekan-rekan kerjanya juga ada yang sudah menikah dan ada kalanya mereka berbincang tentang seputar rumah tangga mereka. tapi hal ini kan beda mereka belum saling kenal, dan pastinya jauh dari kata cinta dan apalagi Maira, belum rela dia yang masih virgin sedangkan Gama, ah,, sudahlah Maira rasanya kini sibuk berperang dengan hati dan pikirannya.
"A..aku tau maksudmu, tentu saja tau hanya saja, kitakan baru kenal," Maira berusaha mencari alasan agar tidak melakukan kewajibannya walau sedikit gugup melandanya bagaimana tidak, Gama kini mulai mendekatinya.
"Apa kau pikir, aku mengenal semua wanita yang tidur denganku, mereka dengan suka rela datang padaku, bukankah kau juga sama seperti mereka, bedanya kau Papaku yang membayarnya," Gama mengucapkan kata-kata yang berhasil membuat hati Maira seperti tertusuk duri.
"Aku terpaksa menikah denganmu, ternyata kau lebih terpaksa menikah denganku," batin Maira.
"Tidak akan lama-lama, aku tidak suka pemanasan, aku rasa tidak akan susah melakukannya denganmu, kau juga pasti sudah,"
"Kalau begitu, cepatlah aku juga tidak suka berlama-lama, ayo kita lakukan," ingin rasanya Maira menangis mengucapkan kata-kata itu, dia berusaha seperti wanita yang dipikirkan Suaminya itu, karena sesungguhnya dekat dengan pria pun dia tidak pernah, dia pernah jatuh cinta pada Kakak seniornya di kampus dan menjalin hubungan tanpa status, dan itu pun tidak berjalan mulus karena Kakak seniornya menikah dengan wanita lain.
Gama melakukan penyatuan mereka jauh dari kelembutan, dia benar-benar melakukannya, entahlah,, yang Maira rasakan sekarang sakit, sedih, semua rasa berkecamuk di otaknya, dia bukan gadis lagi, bagaimana kedepannya dia tidak tau. dan anehnya Gama melakukannya berulang kali, Maira bahkan tak sanggup lagi mengatakan apa-apa.
Gama menghentikan penyatuan mereka, karena merasa tubuh Maira sudah lelah, dia bergegas ke kamar mandi tanpa menoleh kearah Maira, karena selama penyatuan mereka Gama sesekali melihat wajah Maira dan entah kenapa Gama terus menginginkannya.
Selesai dari kamar mandi, Gama melihat Maira sudah terlelap dengan berbalut selimut dan memunggunginya. dan tanpa sengaja Gama melihat bercak darah yang ada di ranjangnya, Gama melihat dengan ekspresi yang sulit diartikan. dan setelah itu berbaring di sofa membiarkan Maira lelap sendiri dan ikut terlelap.