Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 1



Maira Atasya gadis berumur 25 tahun, yang memiliki kehidupan biasa aja jauh dari kata jaman now, dan tidak juga kuno hanya saja menjalani hidupnya sesuai dengan perkembangan jaman walau tidak terlalu mencolok. tidak ada yang spesial darinya setiap hari dilalui dengan kerja,. kerja,,. itu saja yang ada dalam pikirannya. hingga dimana semua itu terhenti saat Ayahnya menjodohkan hanya untuk membantu suntikan dana untuk bisnis yang dijalani Ayahnya. bisa dikatakan keluarganya kaya, tetapi Maira lebih memilih bekerja di perusahaan yang lain dan hidup mandiri karena sepeninggal Ibunya, Ayah Maira menikah lagi dan Ibu sambungnya itu sama sekali jauh dari kata ramah untuknya, bahkan didepan Ayahnya saja Ibu sambungnya itu tidak segan menunjukan ketidaksukaan untuk Maira itu sebabnya dia memilih ngekost, dia pulang ke rumah Ayahnya hanya untuk bertemu dengan


Adik satu-satunya dari Ibu sambungnya itu. dan disinilah Maira sekarang di rumah Ayahnya, niat hanya melihat Adiknya Maira malah mendapat kejutan yang menyakitkan dia harus menikah dengan anak dari klien Ayahnya agar bisa menopang keuangan bisnis Ayahnya kalau tidak bisnis Ayahnya akan bangkrut.


"Kenapa harus menikah yah,, bagaimana kalo anak klien Ayah itu sakit, gila atau semacamnya, apa Ayah tidak memikirkan nasib Maira yah," keluh Maira saat Ayahnya memberitahukan niat perjodohan itu.


"Jangan berlebihan kamu, mana mungkin anak terkaya di kota ini sakit dan seperti yang ada di pikiranmu itu," Serli Ibu sambung Maira yang menanggapi ucapan Maira karena Ayahnya hanya diam.


"Lalu kenapa harus dijodohkan bukankah kalo anaknya itu sehat, tampan dan,,"


"Ah... sudah.. sudah.., kalian tidak usah berdebat pokoknya ini sudah keputusan Ayah, Maira tolonglah bantu Ayah kali ini," mohon Ayah Maira setelah memotong kata- kata Maira tadi.


"Kamu iyakan saja, kalo kamu tidak memikirkan Ayahmu setidaknya pikirkan Adikmu, bagaimana sekolahnya nanti. dia akan hidup susah," Ucap serli lagi.


"Bilang saja kamu yang tidak bisa hidup susah," Batin Maira.


"Bagaimana nak?"Tanya Ayah Maira lagi kali ini dengan wajah melasnya yang berhasil membuat Maira tidak tega menolaknya.


"Terserah Ayah aja, menolaknya tidak mungkinkan.. jadi terserah Ayah saja," jawab Maira dan berlalu begitu saja menuju kamar Adiknya mengakhiri perbincangan mereka, tetapi sebelum dia masuk ke kamar Adiknya Ayahnya sempat meneriaki nama calon suaminya itu.


Gamaliel Pradipta.... itu namanya.


Gamaliel Pradipta.


Disinilah mereka sekarang, setelah 1 minggu berlalu pembicaraan Maira dengan Ayahnya. bukan keluarga pria yang mendatangi calon pengantin wanita tetapi sebaliknya tetapi keluarga Maira yang datang ke rumah calon suaminya itu, dan apa yang diharapkan Gama akan menyambutnya tentu saja tidak. dipertemuan pertama ini yang menyambutnya hanya Ayah dan Mama Gama saja bahkan batang hidung calon pengantin pria saja tidak nampak sejak 1 jam lalu mereka sampai tadi.


bahkan calon Mertuanya itu, juga irit bicara,


dari tadi yang ngoceh hanya Ibu sambung Maira saja, yang itulah, inilah,entah apa lagi yang di bicarakanya yang hanya dijawab Mama Gama dengan senyuman. dan tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang menandakan seseorang datang dan berhasil membuat jantung Maira berdetak kencang bagaimanapun ini pertemuan pertamanya dengan calon suaminya itu, yang mungkin akan memberi kisah tersendiri untuknya.untuk pertemuan pertama, Maira akui calon suaminya itu jauh dari perkiraan yang mungkin sudah tua atau buruk rupa atau semacamnya lagi tetapi nyatanya sangat tampan dan menurutnya sempurna.


"Kenapa lama sekali Nak?" tanya Mama Gama


"Ah.. tidak apa-apa jeng, namanya juga CEO pasti sibukkan, tidak apa-apa kami tidak masalah menunggu lama!" yang menjawab Serli sedangkan yang ditanya hanya diam dan cuek.


"Apa., sempurna aku tarik ucapan, tampan tapi jauh dari sempurna, sombong sekali dia, udah lama datangnya bukan minta maaf malah,astaga ekspresi wajahnya itu,, ah,, sombong sekali," batin Maira.


"Ya, karena yang ditunggu sudah datang, kita mulai saja." baru saja Pak Pradipta bicara tetapi Gama langsung memotong pembicaraan itu.


"Maaf Pa! aku masih ada urusan aku tidak bisa lama, bukankah ini semua kemauan kalian, jadi buat apa aku lama- lama disini. Papa chat aja kapan pernikahannya," setelah mengucapkan itu Gama pergi begitu saja tanpa perkenalan bahkan sapaan dengan Maira.dan itu berhasil membuat Maira merasa sedikit dongkol.


"Apa-apaan ini, bagaimana bisa aku menikah


dengan pria seperti itu,, tidak..tidak ini tidak boleh terjadi aku tidak mau," batin Maira.


Tetapi belum sempat mengutarakan inginnya Maira harus menelan pahit untuk, keputusan para orang tua, kalau pernikahan akan dilangsungkan 1 minggu lagi.