Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 23



Paginya Maira serapan sendiri, dia duduk di meja makan, sambil memandang Gama dan Bagas yang terlihat serius di sofa.


"Apa alasan menarik uangnya, belanja lengkap, masak untuknya tidak, cuci kainnya tidak, bagaimana mau mengurasnya" batin Maira karena setelah berpikir panjang dia memutuskan untuk mengumpulkan banyak materi dari suaminya itu.


Karena melihat bagaimana dingin Gama padanya, mungkin dia takkan bisa bertahan dan bagaimana nanti sikap dingin Gama juga di rasakan anaknya kelak pasti dia tidak tahan melihatnya.


Niatnya berpamitan pada suaminya itu, di urungkan manakala melihat mereka sedang serius, akhirnya, setelah serapan tadi Maira pergi begitu saja tanpa pamit pada Gama.


Gama yang melihat kepergian Maira, hanya bisa diam walau dalam benaknya tidak terima di abaikan seperti itu. "wanita ini, benar-benar iya, setidaknya dia berterimakasih udah aku kasih tau pinnya" sambil membatin Gama melirik kepergian Maira.


Setelah berselang beberapa menit kepergian Maira, Gama juga pergi begitu saja tanpa pamit pada Bagas yang terlihat serius dengan map kerjanya.


"Bos, a_apa tidak, astaga bos ini, pergi begitu saja" ucap Bagas saat menyadari Gama sudah terlebih dulu pergi, tanpa pamit padanya. "pantas jodoh dengan non Maira, pergi tidak pamit juga" gerutunya sambil memastikan apartemen bosnya itu terkunci aman.


Gama melihat Bagas sedikit berlari dan terburu-buru, dia sedikit tersenyum ada sedikit hiburan mengerjai sekretarisnya itu, yang akhir-akhir ini kadang suka ambil keputusan sendiri dan membuatnya jengkel.


"Kalo dari dulu aku tau mengerjainya, ada rasa senang seperti ini, aku pasti akan melakukannya"


"Bos ini, udah mau punya anak juga, tapi sekarang malah seperti anak-anak" batin Bagas saat melihat Gama tersenyum melihatnya berlari.


"Lelet!"


"Gimana gak lelet bos pergi gak bilang-bilang, aku kan jadi buru-buru" protes Bagas tanpa memandang siapa lagi teman bicaranya.


"Lalu sekarang mau kamu apa?" tanya Gama yang lagi-lagi tidak bisa di jawab Bagas selain diam.


Entah kebetulan Maira masih ada di sana, dan ini kesempatannya membalas bosnya itu."Non Maira belum berangkat, bareng kita aja non" tawar Bagas dan betapa puasnya dia melihat sedikit ekspresi tidak suka di wajah bosnya itu.


Dan Maira yang memang sejak tadi menunggu Gojek pesanannya tak kunjung datang, akhirnya mau ikut dan duduk di depan.


"Non ngapain pake Gojek, tiap pagi non bareng kita aja" ucap Bagas tanpa menghiraukan tatapan tajam dari bosnya yang sedari tadi menatapnya tak suka dari belakang.


"Gak usah mas, entar ada yang marah gimana, oh, iya mas bagi nomor handphone nya dong," Maira baru ingat karena lebih baik meminta pada Bagas saja dari pada Gama pasti akan membuatnya kesal.


"Nomor Tuan Gama, atau nomor handphone saya non?"


"Nomor mas aja" jawab Maira mantap.


Gama yang mendengar dan melihat istri dan sekretarisnya itu, begitu akrab membuatnya tidak suka. " kenapa lama sekali, ingat aku tidak suka telat" protesnya dengan nada yang jelas tidak suka, sehingga Maira dan Bagas pun terdiam.


Sedangkan Bagas hanya diam, sepertinya akhir-akhir ini suasana hati bosnya itu mudah berubah-ubah, kadang becanda dan bisa saja tiba-tiba marah tak jelas.


Setelah sampai Maira langsung turun, dan hanya pamitan pada Bagas, dia buru-buru karena melihat Nisa juga yang terlebih dulu ada di sana.


"Pikiran mu benar Nisa, aku di pungut di jalan tadi" seru Maira terlebih dulu, karena melihat Nisa dengan ekspresi wajah yang siap memberi beribu pertanyaan untuknya.


" Gak sia-sia iya Mai, kita ķenal lama kamu langsung tau aja, aku bakal nanya gitu"


"Iya dong Nisa, tapi tumben kamu cepat angin apa iya?"


"Mungkin angin yang membuat ku bisa melihat kamu naik mobil bos Mai"


Sambil becanda mereka masuk, tapi belum sempat masuk tiba-tiba saja Maira jatuh, ada yang sengaja menyenggolnya, untung saja Maira menahan perutnya.


Dan kebetulan juga Gama dan Bagas yang sejak tadi memang ada di belakang mereka, juga terkejut, dan lagi-lagi Gama hanya diam dan berlalu begitu saja tanpa membantunya hanya Bagas yang langsung sigap menopangnya.


Sedangkan Nisa yang juga terkejut, tidak fokus lagi melihat siapa yang berani mencelakai sahabatnya. dia lebih fokus menolong Maira yang terlihat menahan perutnya.


" Apa sakit Mai, apa perutmu?"


" Perut! sebaiknya kita langsung ke klinik saja non, langsung periksa saja non" setelah mendengar perut Bagas sedikit panik, melihat sekretaris ceo mereka segitu paniknya, dengan berkerut kening Nisa heran.


" Gak apa-apa Mas" jawab Maira jujur, dia hanya terkejut, dan refleks memegang perutnya.


"Benar non, ada baiknya di pastikan non" saran Bagas lagi, bukan tanpa alasan dia melakukannya, selain memang khawatir dengan kesehatan Maira dia juga harus bisa memberi kepastian kepada seseorang yang mungkin sudah tidak sabar untuk melayangkan banyak pertanyaan untuknya.


"Bapak tidak usah repot, saya juga bisa antar" protes Nisa.


" Aku tidak percaya padamu, buktinya di dekat mu saja nona bisa jatuh"


"Maksud bapak apa!"seru Nisa tidak terima. dan begitulah selanjutnya Bagas juga membalasnya.


Selagi mereka berdua masih berdebat Maira yang sedari tadi menahan sakit di hatinya, bukan karena jatuh tapi karena Gama sama sekali tidak peduli dengannya, memutuskan meninggalkan mereka yang masih berdebat dan duduk di ruang kerjanya.


" Benarkah sedikit pun dia tidak peduli padaku" gerutu Maira dengan perasaan sendu.