
Maira terlihat sendu, dia berusaha untuk menutupi kesedihannya. tetapi tetap saja tidak bisa. karena semenjak jadi bumil, dia tidak bisa lagi, mengontrol suasana hatinya.
Jika dulu, saat dia sedih, marah, sakit. takkan ada yang tau, dia selalu bisa menutupinya. dia akan menahan rasa sakitnya sendiri dan selalu bisa senyum saat hatinya menangis.
"Yang sabar iya, Gama memang seperti itu. jika dia tidak suka, langsung saja bilang tidak. dan dia juga akan bersifat dingin pada siapa saja, jika belum kenal. jadi kamu harus berusaha keras,, ok..!" ucap Kinara dengan gaya manisnya.
"Iya betul sekali. karena tidak ada yang kenal kak Gama, sedalam kak Kinara. ada baiknya kakak tuh, banyak belajar darinya." saut Gempita menimpali ucapan Kinara.
Mendengar kata-kata mereka. bukan membuatnya menjadi semangat. tetapi seolah-olah, menekankan bahwa dia belum cukup dekat dengan Gama dan masih menjadi orang asing buatnya.
Dari pada semakin sakit hati. dia lebih memilih pergi dari sana. "Mah,, aku ke belakang dulu yah." pamitnya.
"Iya sayang, Nanti malam dandan yang cantik iya,,!"
" Hmm.." hanya itu yang mampu di ucapkannya. dan pergi berlalu dari sana.
Dia bingung harus kemana. jika ke kamar pastinya akan ada Gama di sana. dia masih kesal melihat suaminya itu.
Dan lagi, tempat ternyamannya di rumah mertuanya ini, ada di taman belakang.Dia duduk sambil menghayal. sehingga tidak menyadari kedatangan Gini.
"Selamat iya,, !" ucap Gini. membuat Maira sadar dari lamunannya.
" Untuk,,?" ucapnya bingung.
"Untuk calon keponakan ku" jawab Gini sembari mengelus perut Maira.
Sontak membuat Maira kaku dan terharu.Walau terbilang jarang bertemu dan komunikasi. tapi, melihat reaksi iparnya itu seperti itu. membuatnya sangat senang.
"Terima kasih..!" ucapnya tulus.
"Sudah periksa,,? sehat kan dia,!" tanyanya antusias.
Maira yang belum periksa, jadi tidak enak. "sebenarnya, aku belum periksa. masih bingung harus bagaimana. Aku tidak tau, harus bilang apa pada kak Gama. bagaimana kalau dia tidak mengakuinya,,?"
"Kenapa harus takut, yang unboxing kamu kan Gama." jawab Gini gamblang. sedangkan Maira entah bagaimana lagi merah wajahnya.
"Aku tau ini mungkin sulit buatmu. tapi percayalah, tidak akan mungkin kalian di satukan dan Tuhan menghadirkannya. jika tidak ada rencana indah buat kalian. hanya saja mungkin tidak mudah buatmu melaluinya. tapi kamu terus berjuang iya,, demi keponakanku"
Maira benar-benar terharu. Gini yang irit bicara, bisa banyak bicara, demi memberi semangat untuknya. dan sekali lagi mengelus perutnya.
"Jangan sedih-sedih, aku tidak mau. nanti dia bad mood kayak papanya. ganteng nya saja kalau cowok, kalau cewek seperti kamu cantiknya."
"Aku,, "
"Iya, siapa lagi. kamu mau mirip Gempita."
"Tidak.. tidak. maksudnya,, aku kan Mamanya. mau nya mirip aku saja." cicit Maira pelan.
Gini merasa gemes melihat reaksi Maira.
"pantasan,, seorang Gama bisa celingukan gara-gara kamu. ada ketertarikan tertentu yang kamu miliki." batin Gini sambil memperhatikan Maira, yang sedari tadi salah tingkah.
"Baiklah,, tapi bisakah aku minta bantuan mu." Maira tampak ragu. "Aku tau kamu sibuk, tapi bantu aku untuk acara nanti malam, aku tidak terlalu bisa berdandan. untuk acara pesta seperti ini." pintanya.
Gini mengangguk dengan senyuman. "Aku tunggu di kamar ku iya." ucapnya dan berlalu. yang di ikuti Maira dari belakang.
*
*
*
Maira masuk ke kamarnya dan mendapati Gama, yang juga di kamar dengan posisi duduk di kasur nya, sambil main hape.
Maira cepat-cepat mengambil bajunya, dia akan, bersiap dari kamar Gini.
Gama yang melihat Maira menyiapkan bajunya sedikit penasaran. " mau kemana dia,,?" batin Gama.
Selesai mengemas bajunya. Maira hendak keluar, tapi terpaksa terhenti. karena Gama bertanya padanya.
" Mau kemana kamu,,? kabur,,!"
Maira menatap tak suka padanya. "Kabur,, untuk apa aku kabur. jangan asal deh kak."
"Trus,, beresin baju gitu, mau kemana,,?"
"Aku mau ke kamar kak Gini. Aku akan bersiap dari sana" jelasnya dan pergi begitu saja.
Gama yang terkejut. " apa, ke kamar Gini, ada angin apa dia, bolehin orang lain masuk ke kamarnya. Mama dan Gempita saja, susah sekali ijin masuk ke kamar nya." ucapnya tidak percaya.
Gama masih penasaran. dan beranjak dari kasur nya untuk memastikan, kemana pergi istrinya itu. dan benar saja, Maira masuk ke kamar Gini.
" Masuk benaran dia" gumamnya heran.
"Tentu saja, emang kenapa,?" tanya Gini tiba-tiba. saat melihat Gama memperhatikan Maira dari pintu kamarnya. dia yang habis dari dapur hendak ke kamarnya.
"Tumben,, Mama aja susah sekali masuk kamarmu. kenapa dia gampang sekali."
"Bukan hanya dia, tapi calon keponakan aku juga dungu,," batin Gini.
"Karena aku tidak seperti kamu, kalau tidak suka, Iya tidak."
"Gak nyambung,," ucap Gama malas.
" Iyalah. bilangnya gak suka, tapi di unboxing segala juga. dah tuh,, Gak bertanggung jawab lagi. pengecut kamu" setelah mengucapkan itu, Gini pergi begitu saja.
Gama diam mematung di pintunya. " Benar aku memang pengecut." ucapnya dan kembali masuk ke kamarnya.
Dia melihat sofa tempat Maira istirahat. hatinya sebenarnya miris, tapi entah demi kebaikan siapa. dia harus tega melakukannya.
"Sampai kapan ini berakhir, bagaimana cara menyelesaikan semua ini, tanpa melukaimu dan orang lain." ucapnya putus asa.