Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 30



Maira benar-benar kagum dengan isi kamar Gini. nuansa putih tetapi sangat elegan. cocok sekali untuk seorang putri. banyak buku yang tertata rapi, di rak yang sepertinya di desain khusus. di lengkapi dengan meja kerja.


"Pantasan jarang keluar kamar. kalau aku juga punya kamar seperti ini. Gak akan pernah keluar lagi deh." batin Maira kagum.


"Istirahat aja dulu. acaranya kan masih lama,,! seru Gini saat melihat Maira hanya berdiri saja.


"Hah.. Iya kak,, " ucap Maira dan duduk di sofa yang ada disana.


"Kamu mau ngapain,, ? tanya Gini heran. saat melihat Maira hendak berbaring.


"Selain ingin makan terus. Aku juga selalu ingin tidur. bisakan,, aku tidur di sini, sebentar saja."


" Tentu saja bisa, tapi bukan di sofa juga. ayo,, tidurlah di kasur."


" Di sini saja kak,, aku hanya sebentar kok,, " tolak Maira karena enggannya.


"Jangan bilang kamu,,"


"Iya,, baiklah.! aku akan tidur di kasur." sela Maira. dan berpindah ke kasur Gini.


"Gama.., Gama. bisa-bisanya kamu abaikan istri se gemes ini." batin Gini. dan melanjutkan pekerjaannya.


Sudah pukul lima lewat. Tapi Maira masih terlelap. rasanya Gini, enggan sekali membangunkannya. "sepertinya dia lelah sekali, kalau tidur seperti ini, nampak jelas sekali beban pikiran mu. sepertinya kau juga, bukan orang yang terbuka. dan selalu menyimpan semua di hati mu. bantu Mommy mu ya,, keponakan aunty.." ucap Gini pelan dan sekali lagi mengelus perut Maira yang masih terlihat datar.


Merasa ada yang menyentuhnya. Maira bangun dan mendapati Gini. yang terlihat sudah segar karena baru selesai mandi.


"Apa sudah malam,,? terimakasih ya,untuk hari ini. rasanya aku tidur sangat nyaman." ucap Maira dan bersiap mandi.


Gini menjawab dengan senyum tulusnya. dan kembali berdandan. setelah Maira selesai mandi, dia langsung di rias oleh Gini.


" Mama dan Papa, gak salah milih Gama. Istri mu cantik sekali, ngegemesin pula. sayang kamu sok cuek seperti ini." batin Gini saat selesai merias Maira yang terlihat lebih cantik.


"Malasnya." gerutu Maira. kini dia duduk sendiri di kursi yang tertata rapi disana. karena, selesai bersiap tadi, Gini menyuruhnya turun duluan.


Sedangkan Maira rasanya malas untuk turun. Jika di beri pilihan, tidur atau pesta. dia lebih baik tidur sepanjang hari dari pada menghadiri pesta.


Acara belum di mulai, Tamu-tamu masih baru berdatangan. terlihat Mama Violin dan Papa mertuanya menyambut para tamu. sedangkan, Maira lebih memilih duduk di kursi pojokan sambil makan cemilan.


Dia juga belum melihat, Gama turun. tidak bisa di pungkiri. walau suaminya itu selalu membuatnya kesal dan tak peduli denganya. Tapi, entah kenapa jika tidak melihatnya bisa membuatnya gusar.


Sedangkan di kamar nya, Gama yang sedang bersiap-siap di kejutkan Kinara. yang masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kenapa, kan aku sudah biasa masuk ke sini Gama."


"Iya dulu, tapi sekarang sudah beda Nara,,"


"Tidak ada yang beda Gama,,! aku tidak mau." sela Kinara.


"Mari kita jalani hidup kita Nara. kita tidak bisa melawan takdir, walau kita sekarang masih bisa berdiri bersama di sini. Tapi, ada jarak yang tak bisa lagi kita dekat kan. karena kita sudah saling memiliki pasangan. mari kita berdamai dengan masa depan, tolong lah jangan membuat ku semakin rumit."ucap Gama dan kali ini terlihat jelas gurat putus asa di wajahnya.


"Bagaimana bisa kau mengatakan itu. bahkan, kau saja masih menyebut namaku seperti itu Gama. Nara..! bukankah itu panggilan sayangmu untukku,,?"


Mendengar itu, Gama diam membisu. nyatanya cinta yang telah di kuburnya dalam-dalam dan setiap harinya di pupuk dengan kebencian. ternyata masih bisa muncul saat bertemu dan saling memandang seperti sekarang.


Gama akui, rasa kecewa dan marah kepada Kinara. yang lebih memilih kakaknya Randy.sedikit memudar saat menatap wajah yang sedari dulu menemani hari-harinya.


"Aku merindukan mu Gama.." ucap Kinara dengan gamblang.


"Tidak,, ini tidak baik di biarkan." batin Gama saat melihat tas Maira yang ada di sofa. " Aku sudah memiliki istri sedangkan kinara sekarang juga istri Randy. Aku tidak boleh lemah." batin Gama mantap.


"Tentu saja kau merindukan ku, selain sekarang kau menjadi ipar ku, dulu kita sahabat. jadi itu wajar. dan sebaiknya keluarlah, tidak baik kalau ada yang melihat. sangat tidak pantas buat kita untuk berada di kamar yang sama seperti ini, keluarlah..! ucap Gama sembari memunggungi Kinara.


Dengan geram kinara keluar. " Aku tidak terima ini Gama. tidak ada yang boleh menggantikan aku di hatimu. tunggu saja apa yang bisa ku lakukan" gerutunya sambil keluar dari kamar Gama dan menarik pintu keras.


"Maaf kan aku..! gumam Gama yang kini sedang menatap sofa. "Aku hampir larut lagi dengan masa lalu ku" ucapnya dan keluar dari kamarnya.


Maira masih duduk di tempatnya. rasa bosannya semakin menjadi, karena sedari tadi dia tidak melihat Gama turun.


Saat Kinara turun dengan anggun nya, Semua mata tertuju ke arah tangga, mereka kagum dengan kecantikan nya. Maira yang juga ikut melihat keatas, tiba-tiba hatinya berderu panas. karena bertepatan Gama juga turun di belakangnya.


Di tambah lagi, dia mendengar bisik-bisik para tamu. yang terang-terangan memuji ke serasian mereka.


"Sayang ya,, mereka tidak jodoh" ucap satu tamu.


"Iya,, dengar-dengar sih, istri Gama sekarang tuh di bawah standar gitu" ucap satunya lagi.


Mendengar itu Maira ingin sekali mecakar wajah mereka. Tapi melihat kenyataan, emang benar betapa serasinya mereka. Gama yang gagah dan tampan. sedangkan Kinara, anggun dan cantik. membuat hatinya kembali ciut.


" Jika yang tampan untuk yang cantik. trus buat ku yang standar ini apa dong. Bagaimana pun kamu sudah di takdirkan buatku Gama, aku tidak mau cengeng lagi. tidak masalah cinta pertama mu itu, lebih cantik dari ku. Tapi,, yang pasti kau suamiku sekarang dan Ayah dari anakku. Aku akan berjuang, Suamiku" Gumam Maira saat menatap kagum pada Gama. Tiba-tiba saja rasa optimis nya datang melihat wajah tampan suami nya itu. dan rasa takut kehilangan mendorong nya untuk tidak menyerah.