
Sejak kedatangan Kinara, Maira tidak fokus lagi untuk melakukan apa-apa, bisa di bilang dia tidak percaya diri, keinginan untuk bertahan semakin sedikit peluangnya.
"Aku benar-benar pecundang, ini baru saja di mulai tetapi aku sudah menyerah" sungut Maira pada dirinya, karena beberapa hari berlalu sejak kedatangan Kinara, niat ingin memberi tahu Gama tapi tak mampu bicara terus terang.
Secara tidak langsung, menambah jarak di antara mereka, karena Maira lebih memilih menghindar setiap melihat Gama.
Gama sendiri sudah terbiasa dengan sifat Maira yang terlihat jelas menghindar darinya, seperti pagi ini, Gama yang berniat mengajak bicara Maira, istrinya itu terang-terangan menghindar dengan berlama-lama di kamar mandi.
Dan seperti biasa jika weekend Gama dan Maira hanya di rumah saja, tapi hari ini mereka kedatangan mama Violin.
"Ada apaan Mah, sampai datang kemari?" tanya Gama dengan nada dinginnya.
"Tidak ada apa-apa, Mama hanya mau lihat menantu mama" jawab mama Violin dengan melirik hangat Maira.
Maira hanya bisa tersenyum mendengar ucapan mama mertuanya itu, karena sebenarnya dia juga tau pasti ada sesuatu hal penting yang ingin di sampaikan mama mertuanya itu, sampai berkunjung di pagi hari.
"Sudahlah Mah, langsung aja"
"Baiklah Mama datang kesini, selain ingin lihat kamu sayang," ucap mama Violin tersenyum manis pada Maira. " Mama juga ingin menyampaikan, malam ini semua keluarga besar kita berkumpul"
"Aku sibuk!"
"Malam ini, kamu harus hadir Gama, ini acara untuk memperkenalkan Maira kepada semua keluarga besar kita"
Gama terdiam, dan sejenak melirik kepada Maira yang terlihat gelisah. dia tidak ingin menghadiri acara keluarga besarnya itu, tetapi saat mama Violin bilang ingin memperkenalkan istrinya itu tidak tega juga dia menolaknya.
"Dan juga, malam ini kita, menyambut kedatangan kakakmu Gama, mereka ingin memberi kabar bahagia untuk kita"
"Pantas aja!" dengus Gama cuek dengan ekspresi wajah yang malas.
Setelah mendengar ucapan mama Violin bertambah sudah ke gelisahan Maira, walau Gama terlihat tidak suka, Maira yakin suaminya itu pasti senang akan bertemu cinta pertamanya itu.
Maira hanya bisa diam, dia bingung harus bagaimana, jelas sekali dia belum siap melihat reaksi Gama nanti saat melihat Kinara.
"Ayo sayang, sebaiknya kamu beres-beres" titah mama Violin.
"Kenapa harus sekarang nanti saja kami datang" saut Gama yang keberatan dengan mama Violin.
"Terserah kamu Gama, Mama hanya ngajak Maira kok" ucap mama Violin lalu tersenyum manis pada Maira.
"Lagi-lagi selalu menduakan anaknya sendiri" protes Gama yang hanya bisa di ungkapkan dalam hati. karena bagaimana pun dia sangat sayang dan menghormati mamanya, walau suka mengambil keputusan sendiri, dan membuatnya kesal.
"Ohh.. jangan bilang kamu belum serapan"
Maira pun menjawab dengan anggukan, karena sejak bangun tadi dia hanya ingin malas-malasan dan rencananya ingin beli di luar keburu mama Violin datang.
"Aku juga belum serapan Mah, bukannya di tanya tapi malah di tatap seperti itu" sungut Gama saat mama Violin menatap tajam padanya.
"Tentu saja, untuk apa semua uang mu itu, bisa-bisanya istri mu kelaparan"
"Bukankah menyiapkan semua itu tugas istri," saut Gama lagi yang tidak mau di salahkan.
"Setidaknya kamu kan bisa mempekerjakan ART, itu kan tidak akan langsung membuat mu bangkrut Gama, apa kamu tidak kasihan melihat Maira dia terlihat lelah"
Ibu dan anak itu kini kompak menatap Maira yang memang akhir-akhir ini terlihat lelah dan pucat.
"Aku baik-baik saja Mah, hanya saja aku tidak punya _a"
"Apa sayang?" potong mama Violin yang melihat Maira gelisah dan ragu-ragu untuk mengungkapkan kejanggalan di benaknya.
Dan disini lah mereka sekarang di butik langganan mama Violin, setelah Maira jujur tidak punya baju untuk acara nanti malam, Mama mertuanya itu mengajaknya serapan dulu dan langsung ke butik dan memilih couple dengan Gama.
"Kenapa harus couple segala, Mama selalu buat keputusan sendiri" protes Gama setelah memutuskan ikut bersama dengan mamanya dan Maira tadi.
Maira yang kini membereskan baju untuk nanti malam hanya bisa menghela nafasnya, dia hanya bisa melihat dan protes dalam hati. " kalau tidak suka, kenapa pas disana ada mama tidak protes, udah di rumah baru berisik" batinnya sembari menata rapi baju-bajunya.
Gama yang sedari tadi berbaring di tempat tidur yang sudah lama di tinggalkanya. ya, karena mereka sekarang berada di rumah utama.
"Kau seharusnya bilang tidak suka dengan pilihan mama tadi, ayolah! jangan hanya diam saja, bicaralah" jika itu cara Gama mengungkapkan ke kesalannya, tapi untuk Maira itu seperti bentakkan.
"Kakak saja tak bisa berbuat apa-apa, apalagi aku, jelas-jelas beliau kan mama kakak!" ucap Maira sendu dan entah sejak kapan air matanya jatuh begitu saja.
Gama melihatnya menangis merasa bersalah tapi dia juga seperti lupa ingatan, bingung bagaimana cara untuk membujuknya.
"Jangan cengeng!"
Niat ingin membujuk malah seperti ledekkan buat Maira. " Aku tidak cengeng, lagian wajar kan kalo cewek cengeng!" saut Maira yang yang tidak suka di bilang cengeng.
Untuk menghindari perdebatan semakin panjang setelah mengucapkan itu pada suaminya, Maira menghapus air matanya dan berlalu keluar kamar.
"Kenapa kami selalu yang menjadi serba salah, dan kalian selalu seperti yang tersakiti dan selalu benar" gumam Gama sembari menatap Maira yang pergi begitu saja.