
Maira terbangun dari tidurnya, setelah merasa ada yang aneh tidurnya kali ini, tidak biasanya dia kedinginan seolah- oleh tubuhnya diguyur air es, dingin, kaku itu yang dirasakannya saat ini sehingga mau tidak mau dia harus bangun dan melihat apa yang terjadi, dan betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh polosnya tanpa sehelai pun.
Setelah memastikan Gama masih terlelap di sofa, Maira bergegas memakai bajunya dan seketika pandangannya mengarah ke darah yang ada seprei Maira buru-buru menggulungnya, dan berniat mencucinya dia melihat jam dinding bertanda jam 03:25 yang artinya jam segini semua orang pasti enak- enak tidur.tidak mungkin dia membangunkan ART yang di rumah ini hanya untuk bertanya deterjen atau menyelusuri rumah sebesar ini hanya mencari deterjen dan ember, itu semua hanya ada di kost nya, di kamar mandi seorang CEO itu tidak mungkin ditemukan. jika sudah begini Maira benar-benar merindukan kamar kost nya itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, semuanya ini membuat otakku tidak berjalan lagi, sepertinya aku ingin tidur saja selamanya," gumam Maira dan duduk lusuh di bawah ranjang.
Dan tak lama, Maira merasa semangat lagi, dia membawa sprei itu ke kamar mandi dan mengucek noda darahnya, dan itu berhasil membuat Maira sedikit lega, setidaknya jangan sampai orang lain mencuci darahnya Maira merasa hal demikian lumayan memalukan, dan yang menjadi beban pikirannya sekarang bagaimana dia harus bersikap pada suaminya itu besok ataupun seterusnya.
Pagi ini juga cukup membuat Maira lagi-lagi harus menahan malu, dia yang sudah bertekad tidak akan bangun kesiangan seperti cerita-cerita rekan kerjanya, pagi pertama setelah menjadi istri, kebanyakan telat bangun entah apapun alasannya hanya mereka yang tau, beda dengan Maira, setelah kejadian semalam dia susah tidur entah jam berapa lagi dia bisa terlelap dan berujung bangun kesiangan.
"Siang kakak ipar," sapa Gempita Pradipta adik bungsu Gama, walau dengan nada jengkelnya, Maira tetap menanggapinya dengan senyuman.
"Kakak ipar sepertinya, tidak suka serapan pagi yah, makanya telat, pantesan kurusan," ucap Gempita.
Maira memilih untuk diam, karena masih canggung dengan keluarga barunya sepertinya juga dia merasa tak pantas duduk bersama keluarga ini. dengan suami yang dingin dengannya dan jelas-jelas tidak mengharapkannya, beda dari tadi malam Gama mau bicara dengannya walau hanya menghinanya, tapi pagi ini dia merasa Gama lebih beda lagi, sejak dari tadi dia hanya diam dan tidak melihatnya. benarkah setelah pria mendapatkan keinginannya pasti berubah.
"Gempita bicara yang sopan dengan kakak Ipar mu," tegur Mama mertuanya.
"Apa yang salah benarkan!, lagian kira-kira dong mah, kalau jodohkan anak, setidaknya kalau tidak bisa seperti kak Kinara, yang pasti jangan dibawah standar," ucap Gempita lagi dan berhasil mengusik hati Maira.
"Kinara,, siapa dia,?" batin Maira bertanya-tanya.