Cool Wedding

Cool Wedding
Bab 10



Setelah mereka duduk Maira mencoba memastikan apa Nisa tau sesuatu," Nisa, apa aku nampak seperti orang yang sudah nikah yah,,?" tanyanya.


"Gak.. emang kenapa, kok nanya gitu Mai."


"Kan tadi kamu yang ngomong,"


"Ya.. habisnya kamu tu lama banget cutinya, ibarat pengantin baru, lalu pergi honeymoon gitu, kan lama."


"Oh..! kirain.."


"Kirain apa mang..?" tanya Nisa curiga.


"Kirain wajah aku dah nampak tua." jawabnya asal.


"Dikit.," canda Nisa dan langsung kena cubitan Maira.


"tau ah.. gelap,"


"Ya ampun Mai, gitu aja marah, sama


lu kayak bos baru kita, suka marah-marah loh Mai,,"


"Sama dari mana, kenal juga gak tau.." kesal Maira. "lagian kenapa kamu kena marah, kamu pasti kerjanya ngasal Iya kan, pantesan aja kamu tu bilang kangen terus sama aku, ternyata biar ada aja betulin kerjaan kamu, iya kan."


"Kemana lagi kita yah,,?" tanya Nisa.


"Entah...!"


"Kenapa sih kamu Mai, dari tadi jawabnya singkat-singkat mulu, apa dua minggu kamu gk pernah ngomong sama orang, makanya kamu lupa berkata-kata,"


"Aku benar-benar gk tau lagi kemana Nisa, aku gk ada uang makanya malas, mau ngapain." sedikit alasan Maira yang jujur, benar dia sudah tidak memiliki uang cukup lagi, hampir dua minggu berada di rumah mertuanya, sebenarnya, tidak disuruh belanja, tapi tetap aja saat sesuatu yang diperlukan saat tak ada semua orang di rumah, dan hanya dia yang berstatus menantu, harus bertanggung jawab bukan, dan tidak mungkin dia meminta pada mertuanya lagi, dan alasan utamanya dia merasa bingung bagaimana menghadapi Gama, disisi lain mertuanya dia ingin bersabar, tapi kenyataannya Gama menolaknya terang-terangan.


"Ohh,,! tenang honey aku kan baru gajian, aku yang bayar, sekarang kita ke mall yuk..! seru Nisa dan hanya dituruti Maira dengan pasrah, walau sesungguhnya dia tidak enak hati telah merahasiakan pernikahannya dengan sahabatnya itu,tetapi nanti disaat yang tepat dia berjanji akan memberitahunya.dan soal traktir mentraktir sudah hal biasa untuk mereka, karena begitulah inti persahabatan saat susah harus menanggung bersama.


Tidak terasa waktu sudah malam dan langit-langit sudah menunjukkan manik-manik indahnya, bintang dan bulan serta semilir angin malam saat menyejukkan jiwa. itulah yang dirasakan Maira saat keluar dari mall tadi, dia sudah sangat lelah mengikuti sahabat itu yang tidak ada lelahnya, setelah belanja habis-habisan, nonton, bahkan makan lagi, dan lagi, memiliki rencana untuk pergi ke suatu tempat, yang berhasil membuat Maira yang sedang menikmati indahnya angin malam mendongkrak keberatan.


"Kamu masih punya rencana lagi Nisa, gila gk capek apa." gerutunya.


"Gak,, bagaimana kalau kita pergi ketempat yang tidak pernah kita jalani, melakukan sesuatu yang lain gitu Mai." serunya menggebu sontak ditanggapi Maira dengan kesalnya.


"Terbang dari atap mall gitu, maksudmu." jawab Maira yang merasa jengkel dengan rencana Nisa yang tidak ada lelahnya.


"Jangan dong Mai,.! belum rasain yang enak-enak ni loh, masih ori,apa kata neraka nanti,"


Dan bukan Nisa namanya, kalau tidak ada jawabannya yang buat Maira jengkel tapi ngangenin. "makanya udah deh, gk usah mau lakuin aneh-aneh lagi."saran Maira entah kenapa merasa sangat mudah sekali lelah belakangan ini, dan selalu pengen marah.