Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 9 Bukan liburan biasa



Beberapa hari telah berlalu, Ciel kembali ke keadaan seperti semula bahkan mungkin lebih baik dari biasanya. Beberapa orang bertanya-tanya kepada dirinya apa yang terjadi kepadanya namun mungkin karena dia telah menemukan jawaban yang dia inginkan, dia menjadi seperti itu, begitulah kesimpulan yang diambil orang-orang ketika menatap dirinya lewat.


Ciel memutuskan menghabiskan waktunya di ruangan Studentenrat untuk menyelesaikan dokumen-dokumen yang sedang menumpuk sedangkan kedua temannya mengikuti pembelajaran akademi.


"Kenapa kita tidak bisa mendapatkan liburan satu hari? Dokumen ini bahkan tidak ada habisnya," gumam Jianying dengan tatapan lelah ke arah dokumen yang masih menggunung


"Aku bisa membantu dirimu menyelesaikan semua dokumennya Jianying,"


"Tapi tentu saja, aku tidak ingin membantu dengan sukarela," ucap Wells yang duduk bersantai menikmati tehnya karena telah menyelesaikan semua pekerjaan pembendaharaan yang menumpuk


"Wells, jangan membawa bisnis kotormu ke sini," ucap Carlisle dengan tatapan tajam dan dingin


"Bisnisku tidak kotor hanya saja kamu yang tidak mengerti dengan yang aku kerjakan," ucap Wells dengan seringai dan kacamata yang di naikkan menggunakan jari tengahnya. Keduanya menjadi bertengkar di ruangan itu dengan mempertahankan argumen mereka masing-masing sampai kemudian suara pintu terbuka membuat keduanya terdiam, karena ketua dan wakil dewan kesiswaan telah masuk ke dalam ruangan yang membuat mereka berdua harus diam.


"Kenapa sunyi? Tadi dari luar terdengar teriakan dan suara tepukan meja?" tanya Ur-Atum dengan tatapan dingin menyidik kedua orang itu yang mendadak sibuk dengan kegiatan masing-masing


"Sudahlah, jangan terlalu ketat kepada mereka,"


"Apakah kamu tidak lihat hari-hari kita di isi dengan dokumen yang menggunung sekali-kali lah kita melampiaskannya?" ucap Jianying dengan melipat kedua tangannya menganggap kalau pertengkaran adalah hal yang patut dimaklumi, walaupun berasal dari timur dengan kebudayaan sopan santun yang ketat. Jianying tetap memaklumi hal yang ada di barat, namun tidak dengan Ur-Atum yang berasal dari timur tengah dimana dia sejak kecil dilatih untuk menjadi orang yang tegas dan ketat dengan peraturan kedisiplinan hingga membuat dirinya tidak bisa menutup mata apa yang terjadi. Karena hal inilah keduanya terpilih menjadi ketua dan wakil dewan kesiswaan akademi Verbrechen.


"Aku tau itu, oleh karena itu aku baru saja selesai rapat dengan kepala akademi dan dia mengatakan kalau anggota inti dewan kesiswaan akan diberikan dua hari libur," ucap Ur-Atum sambil menyeringai dingin


Semua anggota bersorak-sorai kesenangan menganggap kalau itu benar sedangkan Jianying dengan tatapan dingin seperti tau bahwa dua hari itu bukan liburan biasa.


"Sebentar, kalau Jianying tidak tersenyum ataupun berteriak kesenangan artinya liburan itu adalah pekerjaan kita di luar akademi bukan?" ucap Wells dengan menatap kedua orang yang ada di depannya dengan menyidik.


Kedua orang itu terkejut dengan perkataan Wells namun mereka berdua tidak akan heran lagi jika Wells mengetahuinya. Karena Wells adalah orang yang bisa memahami orang hanya dengan satu kali melihat sehingga tidak ada yang bisa disembunyikan oleh orang seperti mereka.


"Katakan itu bercanda? Aku baru saja selesai menjalankan pekerjaan di luar akademi," ucap seorang laki-laki yang baru saja memasuki ruangan dengan tatapan tidak percaya setelah mendengarkan kata yang ada hubungannya dengan pekerjaan


"Hah... begitulah mau bagaimana lagi ini adalah salah satu pekerjaan dewan kesiswaan ketika mendekati akhir tahun," ucap Jianying dengan tatapan dingin dan serius sambil melipat kedua tangannya menatap laki-laki berambut perak dan bermata hijau dengan pakaian yang berantakan.


Ciel yang baru melihat laki-laki itu entah kenapa merasakan perasaan pernah bertemu dan tidak asing seolah-olah mereka pernah saling dekat dan mengenal. Namun dia memutuskan untuk mengurungkan pikiran itu jauh-jauh karena bagaimanapun ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan laki-laki yang ada di depannya.


"Karena tugas kita selain menjaga semua siswa-siswi akademi, kita juga bertugas untuk menjaga kekaisaran,"


"Dan dia adalah orang yang paling sering kami andalkan namanya El Sharawiy, ketua divisi keamanan akademi," ucap Jianying ke arah El Sharawiy


"Salam kenal, Ciel Idris Aryasatya Kawindra,"


"Aku telah mendengarkan banyak tentang dirimu dari surat yang dikirim oleh Ur-Atum dan tolong panggil aku dengan El," ucap El sambil memberikan hormat seperti orang-orang kalangan bawah yang memberikan hormatnya kepada orang yang di hormatinya atau terpandang, sedangkan Ciel yang tidak terlalu paham hal peraturan semacam itu dengan cepat menyambutnya dengan uluran tangan karena menurutnya semua orang itu setara selama di akademi. El yang disambut dengan uluran tangan langsung itu terkejut kemudian tersenyum tipis karena merasa kalau Ciel orang yang berbeda dengan para pembawa takdir lainnya.


Setelah perkenalan yang singkat, seluruh anggota inti itu merapatkan hal yang akan mereka lakukan dalam perjalanan yang dianggap sebagai liburan oleh sang ketua. Mereka semua sangat serius menanggapi masalah besar yang akan mereka hadapi kali ini sampai membawa seluruh anggota inti akademi untuk menyelesaikannya, ditambah lagi kalau beberapa akademi akan ikut andil dalam hal ini hingga terbayang musuh seperti apa yang akan mereka hadapi kali ini mungkin sangat berbahaya.


Hal yang akan mereka hadapi kali ini adalah perang besar melawan seorang bangsawan yang memiliki bisnis gelap yaitu penjualan budak besar-besaran di negeri Minunilor ini dan katanya juga memiliki banyak cabang. Oleh karena itu mereka diminta untuk bekerja sama dengan 4 akademi dari 13 akademi yang ada di Minunilor. Untuk mengurangi waktu yang mereka butuhkan dalam penjualan budak yang akan dilakukan dalam waktu yang bersamaan.


Beberapa jam kemudian rapat mereka selesai dan mereka kembali ke mansion atau asrama mereka masing-masing untuk beristirahat untuk keberangkatan mereka besok yaitu liburan dari dokumen-dokumen yang ada di meja. Menuju ke pekerjaan perjalanan panjang yang akan menghabiskan tenaga dan mana mereka.


Ciel yang kembali ke mansion itu langsung membereskan barang-barang yang diperlukan untuk keberangkatannya besok tanpa bantuan para pelayan, karena dia tau para pelayannya akan menyiapkan hal-hal yang banyak untuk keselamatan tuannya. Setelah beres-beres Ciel dipanggil makan malam dan berkumpul dengan kedua temannya yang sudah duduk manis menunggu Ciel.


"Ciel, aku dengar-dengar kalau kamu akan mendapatkan izin liburan karena kerja kerasmu di akademi,"


"Enaknya, aku juga ingin ikutan," ucap Listina dengan tatapan iri


"Kamu iri seperti itu, memangnya apa kontribusi yang kamu berikan untuk akademi ini,"


"Bisa tinggal dan melanjutkan pendidikan saja untung," ucap Solahudin dengan tatapan dinginnya ke arah Listina


"Laki-laki mana tau perasaan perempuan," ucap Listina dengan tatapan kesal sedangkan Ciel hanya melanjutkan makannya tanpa menyela pertengkaran kedua orang itu sampai dia selesai makan dan melerai keduanya. Setelah itu keduanya melanjutkan makan malam mereka yang tidak selesai-selesai karena pertengkaran. Sedangkan Ciel memutuskan untuk tidur awal karena jadwal perjalanan yang akan sangat panjang.


"Arabella, kakak harap dimana pun kamu sekarang,"


"Kakak harap kamu selalu hidup dengan baik,"


Ciel The Guide Of Destiny