Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 20 Pilar akademi oleh para siswa-siswi



Beberapa hari kemudian Ciel bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa untuk mengurai perasaan curiga orang-orang kepadanya dan apalagi perasaan curiga dari Wells yang dia yakini kalau Wells akan merusak isi persidangan. Walaupun tidak mengetahui apa yang akan terjadi saat sidang, Ciel sebaik mungkin menyiapkan argumen dan kemampuannya dalam menggunakan sihir supaya dia nantinya bisa menghadapi berbagai macam masalah yang menghampiri.


Ur-Atum yang mendengarkan berita yang begitu panas mengenai Ciel di akademi, memutuskan untuk menyelidikinya secara langsung. Banyak siswi yang mengatakan kalau dia sangat tampan dan keren sedangkan para siswa mengatakan kalau dia adalah siswa cukup berbakat, karena bisa menggunakan sihir tingkat tinggi beberapa kali dalam satu hari, bahkan mungkin hanya siswa terbaik yang bisa setara dengan Ciel dalam menggunakan sihir tinggi beberapa kali sehari.


"Kamu kenapa berada di sini dan terus berlatih? Bukankah tidak ada ujian praktek yang menggunakan sihir nanti?" tanya Ur-Atum dengan tatapan penasaran berjalan ke arah tengah ruangan yang dua kali luasnya seperti lapangan bola. Ciel yang sedang berlatih tiba-tiba menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Ur-Atum yang datang datang.


"Aku hanya merasa harus bekerja keras lagi, aku masih belum cukup kuat," ucap Ciel dengan menggelengkan kepalanya dengan senyuman pahit karena kecewa dengan kemampuan yang dia miliki tidak sehebat dengan Studentenrat yang lain.


"Apa kamu yakin dengan ucapan yang kamu katakan?" tanya Ur-Atum dengan salah satu alis yang terangkat


"Tentu saja," ucap Ciel dengan anggukan dan tatapan pasti


Dengan senyuman dan tatapan yang lelah, Ur-Atum menghela nafasnya.


"Ciel, kamu sama sekali tidak lemah,"


"Hanya sedikit orang yang bisa mengeluarkan sihir tingkat tinggi tujuh kali dalam sehari."


"Sedikit itu berarti bukan tidak ada bukan? Dan bisa saja Nalendra memiliki orang yang lebih kuat dari aku," ucap Ciel yang menatap genggaman tangannya, perasaan kesal, sedih dan marah terlihat menjadi satu karena belum bisa banyak membantu Studentenrat. Akan tetapi tiba-tiba suara tawa terdengar dari Ur-Atum, karena Ciel tidak pernah melihat hasil kerja kerasnya sendiri.


"Kenapa ketua tertawa?" tanya Ciel dengan menyipitkan matanya ke arah Ur-Atum yang tertawa begitu lantang mungkin seluruh tempat itu bisa terdengar hanya suara tawanya


"Ciel, kamu hanya tidak pernah melihat hasil kerja kerasmu,"


"Kamu banyak mengabaikan hal-hal yang ada di sekitarmu dan hanya melihat musuhmu yang lebih kuat,"


"Tapi kamu selalu membantu tanpa kamu sadari, dan mereka juga berterima kasih tanpa kamu sadari,"


"Ciel, ikut denganku sebentar," ucap Ur-Atum dengan senyuman tipis ke arah Ciel yang kemudian dijawab anggukan setuju.


Ur-Atum membawa Ciel ke tempat dimana beberapa siswa-siswi akademi menjalani rehabilitasi karena Magische Explosion yang terjadi beberapa hari yang lalu.


Beberapa para pembimbing takdir di akademi diminta untuk membantu proses rehabilitasi ini. Tapi karena mereka terbatas, dan para dewan kesiswaan diberikan hak lebih dulu jika mereka mengalami Magische Explosion karena mereka garda terdepan dalam pertahanan dan keamanan akademi.


Namun Carlisle yang pernah mengalami Magische Explosion menolak untuk menggunakan bantuan para pembimbing takdir karena langka dan banyak yang membutuhkan dibandingkan dirinya sendiri, oleh karena itu dia melakukan rehabilitasi secara mandiri dengan pantauan berkala dan di awasi langsung oleh Wells setiap hari karena tidak ada yang tau kapan itu akan kembali terjadi.


Pada saat Ciel dan Ur-Atum, semua siswa-siswi yang pernah terkena Magische Explosion berkumpul di satu tempat setelah mereka melihat ketua dan sang pembimbing takdir masuk ke dalam ruangan rehabilitasi hanya untuk menyambut mereka yang telah membantu.


Ciel dan Ur-Atum tentu terkejut mendengarkan ucapan selamat datang secara kompak di ucapkan oleh para siswa-siswi di ruangan rehabilitasi. Namun Ur-Atum yang sering mengunjungi ruangan ini sudah jelas tersenyum setiap kali mendengarkan ucapan selamat datang ini.


Hal itu membuat Ur-Atum yakin kalau Studentenrat artinya dipercaya sebagai pilar akademi oleh para siswa-siswi.


"Mereka menyambut kita yang artinya mereka menerima dan berterima kasih dengan kita yang telah selalu menolong mereka tanpa pamrih sedikitpun,"


"Coba kamu lihat dengan baik tatapan ketulusan mereka," bisik Ur-Atum ke arah Ciel yang membuat Ciel melihat setiap senyum orang-orang yang ditolong oleh dirinya begitu tulus tanpa ada kebohongan sedikitpun.


Akan tetapi hal itu membuat Ciel sadar kalau dia harus berusaha yang terbaik untuk melindungi akademi yang menjadi rumah kedua untuknya setelah dia datang di Minunilor. Entah itu Nalendra yang ingin menghalanginya ataupun orang-orang jahat yang ingin menghancurkan rumah berharganya, tidak akan dilepaskan oleh Ciel dengan mudah.


"Ciel!!"


"Ciel..." panggil Ur-Atum sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ciel, tiba-tiba Ciel tersadar


"Ya? apa?" tanyanya dengan kebingungan membuat Ur-Atum hanya bisa menggelengkan kepala yakin kalau Ciel sama sekali tidak mendengarkan ucapan para siswa-siswi lain yang senang dengan kehadirannya karena melamun.


"Mereka semua bilang ingin memberikan hadiah terima kasih kepada dirimu," ucap Ur-Atum yang menatap semua siswa-siswi berbaris panjang kemudian di ikuti oleh Ciel yang menatap seluruh orang di ruangan itu.


"Kami berterima kasih kepada pembimbing takdir yang rela menjadi garda terdepan dalam membantu kami pulih saat kami mengalami Magische Explosion,"


"Bahkan sampai anda sering hingga terluka saat mengembalikan kami,"


"Oleh karena itu saya ingin berterima kasih dengan memberikan ini," ucap salah seorang siswa yang mewakili semua siswa-siswi dalam memberikan sebuah hadiah yang merupakan bingkisan berisikan artefak-artefak berharga, siapa yang tidak terkejut karena harga artefak sangat mahal hingga hanya orang kalangan atas saja yang mampu membeli artefak semacam ini, tapi mereka menghadiahkan bingkisan artefak yang harganya kalau dirupiahkan bisa miliaran rupiah.


"Ciel, tidak baik tidak mengatakan terima kasih setelah kamu menerima sesuatu bukan?" ucap Ur-Atum sambil tersenyum memberikan isyarat untuk menerimanya karena kalau ditolak akan membuat orang yang memberikan merasa kalau hadiahnya tidak seberapa, jadi Ciel memutuskan untuk menerimanya


"Terima kasih, atas hadiahnya,"


"Akan aku gunakan sebaik-baiknya," ucap Ciel sambil menerima bingkisan itu dengan senyuman


"Kalian melupakan aku?" ucap Ur-Atum dengan tatapan dingin ke arah para siswa-siswi


"Ah, hadiah untuk ketua Studentenrat,"


"Itu... Jadi... ka-"


"Tidak apa-apa, aku hanya bercanda lagipula aku senang kalian menaruh kepercayaan penuh kepada kami,"


"Kami pasti akan mempertaruhkan nyawa kami sampai titik penghabisan untuk melindungi kalian dan akademi ini," ucap Ur-Atum yang tersenyum membuat semua siswa-siswi merasa merinding ketakutan karena sangat jarang sekali Ur-Atum tersenyum begitu tulus.


'Apakah kami akan mati?'


Ciel The Guide Of Destiny