
Suasana setelah Ciel berbicara menjadi senyap dan canggung karena baru mengetahui apa yang selama ini dialami oleh teman lamanya di dunia entah berantah. Ciel tidak lama dari itu meninggalkan keduanya di ruang tamu, serta memberikan isyarat kepada para pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhan kedua orang temannya.
Saat makan malam tidak banyak yang mereka bicarakan dengan Ciel bahkan mungkin Ciel tidak tertarik untuk berbicara. Karena menurut Ciel keduanya masih berhutang maaf kepada dirinya. Sampai keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ciel berangkat ke akademi untuk berbicara masalah yang ingin dibicarakan sejak kemarin.
"Kepala akademi, bagaimana para siswa-siswi akademi supaya bisa masuk ke akademi ini?" tanya Ciel yang meletakkan cangkir teh di atas meja
"Soal itu, di akademi ini ada benda ajaib seperti lonceng, cermin, kipas lipat, jam pasir dan lain-lain,"
"Semua alat-alat sihir itu memiliki kehendak untuk memilih siapakah yang layak untuk datang ke akademi atau siapapun yang orang tuanya atau keturunannya memiliki darah keturunan dari Minunilor, bisa belajar di akademi ini,"
"Oleh karena itu, tau anda bisa terpilih karena anda adalah satu-satunya orang yang berhak mendapatkannya," ucap laki-laki paruh baya itu dengan tatapan sendu menatap kunci yang berada di tangan Ciel. Ciel semakin mengerti dengan tempat dia berada sekarang.
Lonceng berbunyi tandanya kelas akan dimulai dan seluruh siswa-siswi akan memulai pembelajaran. Solahudin dan Listina juga mau tidak mau harus menerima keadaan saat ini, karena mereka belum mengetahui cara kembali ke dunianya. Lonceng kembali berbunyi menandakan waktu istirahat, keduanya di hampiri oleh para Studentenrat yang penasaran dengan siswa-siswa baru.
"Selamat datang di akademi Verbrechen aku ucapkan untuk kalian berdua,"
"Perkenalkan aku Ur-Atum ketua dewan Kesiswaan akademi atau Studentenrat,"
"Jika kalian memerlukan bantuan, kami akan selalu ada untuk membatu," ucap Ur-Atum dengan tatapan dingin dan menyidik sedangkan keduanya merasa ketakutan karena tatapan yang dilakukan oleh Ur-Atum begitu lama dan mengherankan keduanya.
Ciel yang melihat kedua temannya merasa tidak nyaman tanpa pikir panjang atau mengingat kejadian lama yang telah terjadi terhadap pertemuan mereka, dengan cepat berjalan menghampiri ketuanya namun terhenti ketika gadis yang ada di sebelahnya menggetok kepala Ur-Atum dengan tatapan tajam. Tapi karena Ciel sudah terlanjur berjalan dan dilihat oleh para Studentenrat, dia terpaksa untuk bergabung dalam pembicaraan yang canggung.
"Kalian bertiga terdengar rumor kalau kalian adalah teman kenapa sekarang kalian tidak berbicara? Apakah kalian bertengkar?" ucap Wells dengan melirik ketiga orang yang diam itu dengan seringaian
"Hah..."
"Kami tidak bertengkar, hanya saja tidak ada yang perlu dibicarakan,"
"Aku pergi dulu karena ada yang yang harus aku kerjakan," ucap Ciel dengan senyuman yang terpaksa kemudian meninggalkan orang-orang yang sedang berkerumun di meja itu. Ciel sejak kecil selalu menjadi orang yang memiliki harga diri yang tinggi, dan teliti dengan setiap kesalahan orang lain, oleh karena itu membuat dirinya sulit untuk memiliki teman karena tidak akan meminta maaf hal yang bukan salahnya. Kedua temannya tentu tau jelas kesalahan mereka namun mereka ragu akan dimaafkan oleh Ciel. Namun dengan dorongan hati mereka yang kuat mereka kemudian memutuskan untuk mencari Ciel, namun siapa sangka setelah menemukannya dia dengan seorang perempuan, keduanya secepat kilat bersembunyi di balik semak-semak.
"Kamu dan temanmu bertengkar bukan?"
"Aku mendengarnya dari rumor di akademi kalau kalian bertiga sangat dekat, tapi ternyata pertemanan kalian rapuh," ucap perempuan itu dengan tawa kecil
"Bukankah itu bukan urusan yang harus di urus perempuan melayang seperti dirimu? Aku bahkan tidak pernah melihat dirimu mengikuti pembelajaran akademi apapun,"
"Bahkan nama saja aku tidak tau, tapi kamu malah seenaknya membicarakan aku," ucap Ciel dengan dingin ke arah perempuan yang melayang itu
"Hummm... aku akan memberi tau dirimu saat pertemuan resmi kita yang akan datang, sedangkan untuk saat ini panggil saja aku dengan apapun yang kamu suka,"
"Hah..."
"Apa yang kalian berdua lakukan di sana? Dan sejak kapan kalian berdua di sana?" tanya Ciel dengan suara yang lantang ke arah semak-semak setelah mengetahui ada dua sosok yang bersembunyi di sana. Dengan perasaan canggung dan pasrah keduanya berjalan keluar dari semak-semak menuju ke arah Ciel, ketika mereka ingin berbicara, tiba-tiba terdengar suara ledakan dan asap dari bangunan yang tidak jauh dari lokasi mereka membuat Listina dan Solahudin harus mengurungkan niat yang telah dikumpulkan.
Karena Ciel telah mendengarkan suara ledakan yang begitu besar, dengan cepat dia berlari ke arah lokasi sedangkan Listina dan Solahudin dengan perasaan khawatir kepada Ciel maka mereka memutuskan ikut, walaupun telah dilarang oleh Ciel.
SItuasi memanas di lokasi ledakan, tentu saja akan membuat para siswa-siswi berlarian kesana kemari. Seperti biasa para Studentenrat berteriak-teriak untuk memberikan arahan dan membantu para siswa-siswi yang mengalami panik dan berlarian.
"Apa yang terjadi? Apakah ada siswa-siswi yang mengalami Magische Explosion?" tanya Ciel kepada salah satu anggota di sana
"Tidak, bukan siswa-siswi yang mengalami Magische Explosion tetapi para pembimbing takdir yang memberontak datang kemari untuk menghancurkan akademi,"
"Entah apa yang mereka inginkan tapi semua siswa terbaik dikerahkan ke sana untuk mengalahkan mereka," ucap seorang siswa dengan gelengan Pelan dan tatapan khawatir
"Baiklah, aku mengerti,"
"Terima kasih," ucap Ciel dengan anggukan kepala kemudian berlari ke arah yang lebih dalam lagi dari lokasi ledakan itu untuk menemukan sosok yang dikatakan sebagai pemberontak
'Apakah ini juga termasuk peringatan yang diberikan oleh laki-laki itu?'
'Aku tidak mengerti, kenapa mereka sampai melakukan hal semacam ini? Tujuan seperti apa yang mereka incar?'
'Aku harap aku bisa mengetahuinya setelah aku datang ke sana,' ucap Ciel di dalam hatinya dengan menggigit bibirnya karena kesal sejak dia datang ke tempat ini hanya sedikit hal yang diketahuinya. Apalagi mengenai adiknya yang kemungkinan ada di tempat ini tapi tidak tepat lokasinya.
"Carlisle, Wells dan Ur-Atum!"
"Apakah kalian bertiga baik-baik saja?" ucap Ciel dengan nafas tersengal-sengal karena berlari ke arah ketiganya
"Ah, sampai saat ini kami masih bisa bertahan tetapi, karena kamu datang kami menjadi sedikit lebih baik," ucap Wells dengan anggukan pelan ke arah Ciel
Setelah Ciel datang serangan-serangan dilancarkan kembali oleh parah musuh yang bertudung. Sampai terlihat Ciel mengeluarkan kunci itu membentuk sebuah tongkat sihir membuat musuhnya terkejut dan kembali melancarkan serangan-serangan. Sampai keluarlah sebuah kata dari salah satu orang itu.
"Kenapa seorang pembimbing takdir seperti dirimu ingin di cuci otak oleh orang-orang penuh dosa ini?"
Ciel The Guide Of Destiny