
Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak jelas muncul hingga Ciel memutuskan untuk membuka perpustakaan takdirnya karena dia mungkin bisa menemukan jawaban yang dia cari.
Lorong-lorong sepi di perpustakaan pembimbing takdir itu di jelajahinya, hingga dia menemukan sebuah buku yang sangat tua dan mungkin jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Diambilnya buku itu dan dibaca oleh Ciel lembar demi lembar halaman buku dibaliknya, namun hanya buku kosong.
"Hah..."
"Aku pikir aku bisa menemukan sesuatu tapi ternyata buku kosong, tapi kenapa ada buku tua yang kosong seperti ini di perpustakaan takdir ini?" Ucap Ciel yang kemudian menutup buku itu dengan tatapan kecewa
Buku kosong yang ditutupnya, mendadak bersinar dan buku yang awalnya tua menjadi buku yang baru bertuliskan Staatlicher Antagonist.
"Staatlicher Antagonist, mungkinkah ini adalah alasan para pembimbing takdir ada? Dan mereka dikatakan orang yang penuh dosa?"
Dibukanya buku itu yang kemudian muncul tulisan di tiap lembar kosong, semua tulisan yang menceritakan sejarah-sejarah tempat dunianya berada sekarang dan alasan kenapa pembimbing takdir itu ada. Ciel membaca hingga waktu sore hari telah tiba, Ciel menemukan sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya pembimbing takdir adalah orang yang bisa mengobrak-abrik atau mengatur dunia ini dan takdir setiap kehidupan sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka miliki. Digunakan untuk kebaikan atau keburukan tergantung setiap pembimbing takdir yang melakukannya.
Setelah mendapatkan sedikit jawaban yang merupakan akar dari masalahnya. Ciel menjadi mengerti orang-orang yang menyerang di akademi ataupun laki-laki yang mendatangi dirinya, mereka tidak menginginkan kebahagiaan ataupun kebebasan untuk orang-orang pendosa atau keluarga pendosa.
Ciel menjadi orang yang kemudian memikirkan mungkinkah pilihan yang tepat untuk membantu atau malah sebaliknya. Berhari-hari berlalu setelah dia mengetahui keberadaannya sangat penting. Dia sering membolos rapat Studentenrat, sering melamun bahkan sering lupa makan.
Karena kejadian ini, sang ketua dewan kesiswaan memanggil dirinya keruangan secara langsung. Keduanya sekarang berada di satu ruangan dengan suasana yang sunyi tidak saling berbicara.
"Ciel, katakan apa yang membuat dirimu seperti orang linglung?"
"Aku khawatir dengan setiap anggotaku yang seperti ini, karena bagaimanapun juga kalian orang yang membantuku jadi katakan apa yang terjadi," ucap Ur-Atum dengan tatapan tajam memperhatikan Ciel yang begitu suram tenggelam ke dalam pikirannya yang penuh dengan pertimbangan
"Ciel, aku menjamin semua pembicaraan kita hari ini adalah rahasia antara kita berdua dan tidak akan ada yang mengetahuinya,"
"Kalau kamu tetap tidak yakin aku bisa melakukan perjanjian kontrak dengan dirimu untuk membuktikan secara langsung," ucap Ur-Atum dengan menyidik Ciel yang sejak awal diam
'Haruskah aku mengatakannya? Atau tetap aku sembunyikan semua yang aku tau? Apakah Ur-Atum benar-benar bisa di percaya?' ucap Ciel di dalam hatinya dengan gelisah mengingat dirinya sekarang adalah orang dengan posisi yang sangat penting dan setiap yang dia lakukan bisa membuat sesuatu berubah. Dengan tidak sabaran Ur-Atum memutuskan untuk mengambil langkah tegas
"Vertrag,"
"Dengan ini aku bersumpah kepada kematianku, jika aku membocorkan pembicaraan atau memanfaatkan kejadian yang hari ini dilakukan dengan Ciel Idris Aryasatya Kawindra,"
"Maka kematianku akan mengenaskan hingga keluargaku tidak menerima pemakamanku dengan layak," ucap Ur-Atum dengan bersumpah di atas sihirnya yang membuat jantungnya tertusuk besi panas karena sumpah yang dibuat, Ciel yang mendengarkan itu langsung sadar dan mengehentikan Ur-Atum, namun Ur-Atum tidak memperdulikan Ciel dan berhasil menyelesaikan perjanjian itu.
"UR-UTUM KENAPA KAMU BERTINDAK SEENAKNYA? APAKAH KAMU TIDAK SAYANG DENGAN NYAWA YANG KAMU MILIKI? APA KAMU GILA?" teriak Ciel dengan begitu lantang karena khawatir dengan Ur-Atum yang begitu blak-blakan membuat keputusan
"Sumpah kontrak ini tidak bisa dicabut dan juga aku harap kamu mau sekarang menceritakan yang terjadi kepadaku," ucap Ur-Atum dengan seringaian dingin membuat Ciel menghela nafas berat dan pasrah karena tidak akan ada pilihan untuk dirinya memilih. Setelah melihat seberapa nekad orang didepannya hanya untuk mengetahui isi hati orang yang dia khawatirkan, mungkin itu adalah sebuah bentuk perlakuan kasih sayang sebagai keluarga dari seorang pimpinan kepada seorang bawahannya.
"Hah.."
"Baiklah, akan aku katakan tetapi aku harap setelah ini ketua mempertimbangkan aku untuk dikeluarkan dari dewan kesiswaan," ucap Ciel dengan menunduk tanpa memperhatikan raut wajah Ur-Atum
Kemudian Ciel mulai menceritakan semua yang dia alami dan semua yang dia tau tentang yang dia baca dibuku perpustakaan takdir. Ur-Atum yang mendengarkan cerita-cerita Ciel tercengang dan merasa merinding, bagaimana tidak? Cerita itu menceritakan tentang hal-hal yang bisa membuat dunia ini seperti permainan papan yang bisa di gerakan sesuka hati.
"Jadi, itulah yang selama ini aku pikirkan,"
"Aku harap anda bisa mempertimbangkan untuk bisa mengeluarkan aku dari Studentenrat karena mungkin akan membawa yang besar nantinya kepada kali-"
"OMONG KOSONG," teriak Ur-Atum dengan tatapan tajam dan kesal ke arah Ciel membuat Ciel tertegun karena perkataannya yang mendadak di sela oleh Ur-Atum dengan lantang.
"Haish..."
"Ciel, kamu mungkin tidak menyadari, tetapi kamu lebih banyak membantu dibandingkan dengan membuat masalah di akademi ini,"
"Oleh karena itu percaya dirilah dan percayalah kalau kamu tidak sendirian, tentang permasalahan ini akan aku simpan dengan nyawaku," ucap Ur-Atum sambil menepuk pundak Ciel dengan tatapan keyakinan.
Entah kenapa setelah mendengarkan ucapan dan melihat tatapan kepercayaan dari Ur-Atum. Ciel menjadi tenang seolah-olah beban di pikirannya hilang begitu saja. Sedikit aneh untuk Ciel karena dia tidak pernah merasa lega seperti ini, ketika dia memiliki masalah bahkan ketika dia menemui masalah dia memilih untuk menyimpannya sendiri karena beranggapan kalau semua masalah yang dialami oleh dirinya tidak ada hubungannya dengan orang yang ada di sekitarnya.
"Terima kasih telah ingin percaya denganku dan maafkan aku, karena memberikan dirimu beban Ur-Atum," ucap Ciel dengan kepala tertunduk karena merasa bersalah sedangkan Ur-Atum menggelengkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum kepada Ciel
"Jangan berpikir yang tidak-tidak karena kita adalah teman,"
Ur-Atum terkenal dengan ketegasannya dan disiplinnya dalam memimpin. Orang yang tidak bisa di sogok ataupun mudah terlena dalam ucapan manis, sehingga membuat seluruh siswa yang bermasalah begitu menghindari bahkan kabur ketika mendengarkan nama atau langkah kakinya ketika berjalan mendekat. Akan tetapi siapa sangka sosok laki-laki yang begitu ditakuti oleh semua orang, ternyata laki-laki yang sangat baik dan pengertian kepada semua anggotanya yang memiliki masalah. Dianggapnya semua orang Studentenrat adalah keluarganya, sehingga semua anggotanya begitu sayang dan menghormati Ur-Atum bahkan sampai dianggap orang tua angkat bagi mereka.
Dan sekarang Ciel yang merasakan kasih sayang seorang kakak atau orang tua yang perhatian kepada dirinya.
"Aku juga tidak boleh lemah, karena ada orang yang menaruh kepercayaan kepadaku,"
Ciel The Guide Of Destiny