Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 36 Freccia pioggia



Suasana yang membawa masa lalu bagi setiap orang di depan Ciel tentu membuat rasa ingin tahunya berkembang, seperti hubungan apa yang mereka bertiga miliki atau kenapa mereka membawa masalah seperti ke depan banyak orang dan mungkinkah dirinya menemukan adik perempuan yang dia sayangi itulah pikirnya.


"Menggorok leherku? Bukankah itu yang seharusnya aku lakukan kepada dirimu?"


"Karena mengkhianati kami," ucap laki-laki itu dengan mengerutkan kening dan aura membunuh seketika rantai-rantai yang mengikatnya lepas, entah karena kekuatan fisik laki-laki itu atau karena auranya yang begitu dalam membuat rantai itu putus, sebuah senjata tiba-tiba dikeluarkan oleh laki-laki berpakaian pelayan yang artinya dia sudah mulai masuk ke fase serius bertarung dan tidak menganggap El adalah lawan yang sangat mudah untuk dikalahkan olehnya, begitu juga dengan El yang mulai serius dalam pertarungan telah siaga dengan serangan yang mungkin akan dilancarkan oleh laki-laki itu. Gerakan dan serangan secepat kilat itu dimulai keduanya beradu serangan sihir tingkat tinggi tidak jarang juga mereka menyerang jarak dekat. Ciel yang menonton merasa terpukau dengan kemampuan yang dimiliki keduanya hingga sebuah petir muncul di tengah-tengahnya dan sesosok laki-laki muncul di hadapan pelan itu membuat Ciel membelalakkan mata tidak percaya ke arah sosok laki-laki yang terlihat misterius itu dan dia kenal dengan laki-laki itu.


"Hah..."


"Yang mulia putri memintaku untuk melihat dirimu karena kamu belum kembali tapi aku tidak menyangka kamu malah tersulut dengan pertarungan kekanak-kanakan ini,"


"Menghabiskan waktu dan kamu membuatku harus membongkar identitasku,"


"Sekarang kita harus kembali," ucap laki-laki itu dengan dingin


Perasaan kesal dan marah dirasakan oleh Ciel, karena bagaimana mungkin teman masa kecilnya ternyata adalah seorang mata-mata padahal selama ini dia selalu sangat dekat dengan Ciel, bahkan tidak pernah ada perasaan curiga sedikitpun dari Ciel karena dia merasa kalau temannya murni tidak memiliki sihir apapun tapi siapa yang akan menyangka kalau itu semua adalah akting untuk membuat kelancaran dalam memata-matai.


"Freccia pioggia," ucap Ciel yang membuat ribuan panah muncul dari atas dan menghujani kedua musuhnya dengan kecepatan yang cepat, dimatanya saat ini tidak ada lagi toleransi karena pertemanan masa kecil atau hubungan sahabat yang ada hanyalah seorang pengkhianat yang mengorbankan pertemanan untuk informasi.


Keduanya pasti bisa menghindari serangan itu dengan mudah tanpa harus repot-repot menggunakan sihir pelindung untuk melindungi diri. Dibutakan oleh amarah, Ciel menyerang dengan semua sihir yang telah di pelajari akan tetapi semuanya sia-sia. Karena bagi keduanya itu hanya sihir dasar dan tingkat rendah.


"Aku pikir karena kalian kembar kemampuan kalian setara tapi sepertinya tidak begitu ya?"


"Jelas sekali kalau kamu adalah sampah dibandingkan dengan adik perempuanmu,"


"Tapi entah kenapa sampai sekarang dia selalu membiarkan dirimu hidup,"


"Baiklah kita akhiri permainan ini," ucap laki-laki itu dengan seringai kemudian menjentikkan jarinya seketika gaya gravitasi yang berat muncul membuat Ciel dan yang lainnya tidak bisa berdiri


Tidak lama setelah itu keduanya meninggalkannya dengan tatapan sinis menggunakan teleportasi. Ciel yang mendengarkan ucapan terakhir dari mantan teman atau sahabat terbaiknya semakin yakin dengan keberadaan kembarannya yang mungkin mereka akan segera bertemu. Setelah keduanya pergi semuanya kembali bisa bergerak dan bangkit dari tanah


"Karena urusanku telah selesai dan aku tidak berhasil menyerahkan kepalanya untuk nona,"


"Maka aku harus kembali dengan hukuman," gumam El dengan tatapan suramnya, berusaha secepat mungkin meninggalkan lokasi itu tapi siapa yang menyangka dia di rantai oleh Carlisle dengan cepat saat dia ingin melakukan teleportasi dan rantai yang dia gunakan mengelilingi semua orang otomatis semuanya ikut berteleportasi menggunakan sihir milik El.


Terlihat sebuah istana yang megah dan terawat membuat mereka semua yakin kalau ini adalah tempat Wells berada saat ini dibandingkan dengan bangunan tua yang mereka lihat.


"Aku baru saja melawan mereka kamu malah membawa mereka ke sini," ucap Laki-laki bermata sipit itu dengan lantang dan perasaan panik ke arah El


"Jadi, El apakah kamu berha-"


Sesosok perempuan yang menggunakan gaun yang cukup mewah berjalan keluar dari istana itu dan baru ingin mengucap sebuah kalimat terkejut dengan orang-orang yang datang ke istana miliknya. Dia ingin marah juga tidak bisa karena menyadari kalau ada rantai yang mengikat dan perempuan itu cukup memahami situasinya.


"El, tolong antarkan tamumu pulang ke akademi," ucap perempuan itu membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu


"Wells, kami telah menemukan peti mati di sebuah bangunan tua dan kami juga melihat foto dirimu dengan dua orang lainnya,"


"Tolong berikan kami penjelasan tentang semua benang yang kusut ini, kami yakin bisa membantu dirimu menyelesaikan ini," ucap Ciel membuat langkah Wells terhenti karena Ciel orang pertama yang melihat perempuan itu di akademi dengan nama Lili tentu saja dia akan mengatakan nama asli Wells di depan semua orang.


"Menyelesaikan? Menurutmu apa itu bisa di selesaikan?"


"Hal ini telah berlangsung ratusan tahun bahkan sampai saat ini yang ada semakin banyak nyawa tidak bersalah menjadi korban,"


"Mereka bertarung hanya untuk mendapatkan penetralan dari para pembawa takdir yang dipilih namun pada akhirnya semuanya hanya menjadi kegilaan,"


"Kutukan tidak akan bisa di selesaikan jadi kembalilah ke akademi," ucap Wells tanpa menoleh ke arah Ciel dan yang lain karena menurutnya semua tidak akan tau ekspresi wajah apa yang ditunjukkan olehnya saat ini jika dia tidak berbalik tapi tiba-tiba seorang laki-laki bermata merah Ruby berjalan dengan terburu-buru dan menarik tangan Wells.


Tarikan tangan itu membuat keduanya saling bertatapan satu sama lain jarak wajah mereka berdua tidak lebih dari 20 cm.


"Wells, aku tau mungkin kamu ada dendam kepadaku tapi tolonglah kita selesaikan semuanya dengan baik-baik,"


"Kita memiliki pembawa takdir yang diramalkan dan kita di sini bukankah bisa menyelamatkan kerajaan ini jadi tolong jangan menyerah untuk kerajaan ini tidak masalah jika kamu membenciku,"


"Aku akan mati saat ini juga jika itu diperlukan untuk menghilangkan perasaan bencimu," ucap Carlisle dengan tatapan serius dan masih menggenggam tangan perempuan itu sedangkan tangan yang satunya digunakan olehnya untuk mengambil belati yang dia simpan.


Wells mana mungkin tega membiarkan orang yang pernah membuat dirinya jatuh cinta bunuh diri karena kebenciannya yang sebenarnya dia membenci perasaannya sendiri. Dengan helaan nafas panjang, Wells dengan terpaksa memberikan isyarat untuk mengizinkan semua orang masuk ke dalam istana yang besar itu, sedangan El mendapatkan tatapan peringatan dari Wells, tidak lama dari mereka berjalan sebuah lukisan memperlihatkan lukisan yang sama seperti dibangunan tua itu membuat Ciel terhenti dan tersenyum pahit.


"Mungkinkah kita bisa kembali bersama Arabella?"


Ciel The Guide Of Destiny