Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 10 Penghakiman sendiri



Sebelum matahari terbit, Ciel telah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke akademi karena seluruh anggota Studentenrat diharapkan bisa datang sebelum para siswa-siswi datang ke akademi.


Ciel yang bangun di pagi buta itu dibantu oleh para pelayannya untuk bersiap-siap dari mulai pakaian sampai ke sarapan sebelum kedua orang temannya bangun dari tidurnya. Setelah semuanya selesai Ciel berangkat ke akademi.


"Ciel, selamat pagi,"


"Sepertinya barang bawaan yang kamu bawa tidak banyak ya," ucap El dengan lantang sambil berusaha menyusul langkah Ciel


"Karena tidak ada hal perlu banyak dibawa," ucap Ciel dengan singkat hanya di jawab dengan anggukan mengerti oleh El.


Percakapan singkat itu kemudian selesai dan seluruh Studentenrat yang terpilih untuk ikut telah berbaris rapi untuk menunggu ucapan sepatah atau dua patah kata dari sang ketua sebelum berangkat.


"Baiklah, aku harap kita bisa bersenang-senang dalam perjalan ini dan jangan lupa perjalanan ini jangan dijadikan beban tetaplah bersantai sebaik mungkin karena itu akan membuat kondisi kalian menjadi baik saat bertarung dengan bahaya," ucap Ur-Atum dengan tatapan dinginnya


Seluruh anggota yang terpilih itu tau maksud tersembunyi dari kata-kata Ur-Atum. Karena itu dilakukan dengan sengaja supaya kegiatan yang akan mereka lakukan tidak akan terlacak dengan mudah ataupun diketahui oleh mata-mata yang bersembunyi berada di akademi.


"Ciel, ini pasti akan menjadi pengalaman pertama dirimu berpergian seperti ini,"


"Banyak hal yang akan kamu dapatkan dari perjalanan ini, jadi tolong di ingat baik-baik juga setiap pengalaman yang di dapatkan ini karena itu pasti akan membantu dirimu dalam berkembang," ucap Carlisle yang berjalan di depan Ciel untuk mengingatkan dirinya


Banyak hal yang menjadi topik percakapan dalam pembicaraan itu, dari mulai hobi sampai kehidupan sehari-hari menjadi topik untuk mengisi waktu mereka saat perjalanan hingga di tengah jalan, mereka merasakan suasana yang sepi lebih dari pada jalan-jalan yang telah mereka lewati.


Suasana seperti ini sangat aneh, untuk mereka yang sering berjalan-jalan melewati hal-hal berbahaya, oleh karena itu mereka memutuskan untuk berhenti dan tetap waspada ke segala arah karena tidak tau apa yang akan terjadi.


Tiba-tiba sekelompok orang yang berpakaian rapi seperti bandit mengelilingi Ciel dan yang lainnya hanya untuk tidak membiarkan mereka lari dari lokasi mereka saat ini.


"Serahkan semua barang yang kalian miliki dan tinggalkan di sini maka kami akan membiarkan kalian kabur, tetapi jika kalian tidak ingin melakukannya maka kalian tau apa akibatnya bukan?" ucap salah seorang dari sekelompok bandit itu dengan senjata yang diacungkan ke depan untuk mengancam.


"Baiklah, kami akan menyerahkan yang kami punya," ucap Ur-Atum dengan tenang membuat semua anggotanya menatap dengan keheranan.


Ur-Atum berjalan ke arah orang yang mengancamnya tadi dengan begitu tenang, membuat kedua belah pihak yang melihat kebingungan dengan yang dilakukan olehnya sampai tiba-tiba Ur-Atum menyeringai.


"Tapi kalau kalian masih bisa hidup setelah ini,"


Setelah mendengarkan ucapan yang di ucapkan Ur-Atum semua bandit-bandit itu dengan reflek cepat langsung menyerang ke arah Ur-Atum, alam teapi itu semua sia-sia karena Ur-Atum bisa menghindar dan tiba-tiba pasir-pasir di sekitar bandit-bandit itu terhisap.


Para bandit itu berteriak panik dan berusaha memberontak dari pasir hisap itu, namun mereka semakin terhisap. Ur-Atum yang melihat penderitaan itu tersenyum dengan dingin seolah-olah menikmati, orang-orang yang begitu menderita.


"Ciel, aku bingung kamu terlalu baik atau terlalu naif tapi Ciel kita tidak boleh membiarkan orang jahat dan merugikan orang lain di lepaskan begitu saja,"


"Akan ada banyak orang yang tidak memiliki kesalahan juga akan mendapatkan kerugian,"


"Oleh karena itu hukuman mati harusnya cukup untuk mereka," ucap Carlisle dengan tatapan dingin ke arah para bandit itu yang hampir tersisa kepala saja


Ciel yang terdiam akan ucapan Carlisle karena tidak bisa menyangga ucapannya. Berpikir keras supaya para bandit bisa diberikan hukuman dibandingkan diberikan kematian.


"Apakah di negeri ini tidak ada yang namanya hukum hingga kita harus melakukan penghakiman sendiri seperti ini?" ucap Ciel membuat Carlisle menggigit bibir dengan tatapan kesal setelah mendengarkan ucapan itu. Entah apa yang menyebabkan dirinya kesal tapi, itu cukup untuk membuat Ur-Atum berpikir kembali dan menghentikan pasir hisap yang hampir membuat kepala itu tertelan.


"Tentu saja ada hukum di negeri ini, yang menentukan semua peraturan itu adalah keluarga kerajaan,"


"Orang itu adalah ratu Cuore, orang yang mengatur negeri ini dan juga jika ingin mengadakan sidang itu, sedikit sulit apalagi jika kamu ingin memberikan keadilan untuk para bandit yang telah banyak merugikan orang,"


"Jadinya Ciel, kamu akan sulit untuk memenangkan untuk mereka jadi lupakan saja," ucap Ur-Atum dengan gelengan kepala yang pelan namun Ciel tetap bersikeras untuk memberikan hukuman yang lebih meringankan dibandingkan dengan langsung membunuh orang-orang itu. Karena menurut Ciel bahwa tidaklah pantas hukuman mati diberikan sedangkan orang-orang yang rugi menderita, itulah hukum dipikirkan Ciel.


"Hah..."


"Baiklah, jika kamu ingin seperti itu maka orang yang bisa mengajukan sidangnya hanya Carlisle,"


"Kamu harus meminta kepada Carlisle dalam hal ini," ucap Ur-Atum dengan tatapan pasrah karena melihat orang yang didepannya mungkin tidak akan menyerah hanya karena Ur-Atum menolaknya dan juga mungkin nanti hasil dari pekerjaan mereka tidak akan maksimal. Oleh karena itu dia menyetujui permintaan Ciel tanpa berpikir dua atau tiga kali walaupun Carlisle tidak senang dengan persetujuan itu, dia tetap berusaha fokus dalam pekerjaan terlebih dahulu.


Mereka memutuskan untuk membawa para bandit itu mengikuti perjalanan mereka sampai beberapa jam kemudian.


Sebuah kota besar berbentuk kerajaan dengan gaya arsitektur barat abad pertengahan layaknya di film-film yang sering dia tonton. Namun kali ini berbeda karena dia secara langsung menyaksikan kota besar itu dengan kedua matanya sendiri.


Ciel dan yang lainnya tanpa basa-basi langsung memutuskan untuk masuk ke dalam kota itu dan menyerahkan para bandit setelah itu mereka pergi ke rumah salah seorang bangsawan yang tinggal di sana tidak lain adalah milik keluarga kerajaan.


"Ciel bagaimana pendapatmu yang pertama kali ke kota besar Minunilor?" tanya El dengan seringaian


"Aku tidak menyangka kalau kota seperti ini benar-benar ada,"


Ciel The Guide Of Destiny