
Setelah Ciel dan yang lain selesai membereskan barang-barang milik masing-masing ke kamar yang telah ditunjukkan. Mereka memutuskan untuk kembali rapat tentang tujuan dan alasan kenapa mereka ke kota ini dengan para siswa-siswi dari akademi lain melalui alat komunikasi sihir yang telah di siapkan.
"Apakah semuanya telah sesuai dengan yang kalian rencakan?" tanya Ur-Atum kepada seorang laki-laki yang berada dilayar tipis didepannya
"Tenang saja, semuanya aman dan seharusnya juga kita bisa segera menangkap pelakunya malam ini," ucap seorang laki-laki dari ketiga akademi itu dengan tatapan serius
"Baguslah kalau begitu, tugas kita harus berjalan dengan baik dan meminimalisir korban jiwa dari perkejaan kali ini,"
"Lucia, awasi ketua akademimu itu dengan baik karena terakhir kali aku melakukan pekerjaan dengannya,"
"Kami berdua hampir mati secara bersamaan," ucap Ur-Atum dengan tatapan dingin dan tajam yang kemudian dijawab oleh wakil ketua akademi itu dengan anggukan pelan
Pembicaraan panjang terjadi di rapat besar itu sampai pada waktu makan malam tiba. Semua anggota Studentenrat memutuskan untuk makan malam bersama di satu ruangan bersama karena takut terjadi hal buruk.
Disaat makan malam bersama mereka melupakan sejenak tentang tujuan mereka ke kota ini sampai tengah malam tiba, dan waktu mereka untuk pergi ke tempat terlarang dimulai.
Ciel mendapatkan tugas untuk masuk bersama dengan mata-mata terbaik di akademi Verbrechen dalam penyamaran. Karena Ciel belum sama sekali terdeteksi atau di ketahui identitasnya oleh para bangsawan yang melakukan hal kotor ini.
"Ciel, kamu harus tau kalau kamu datang ke tempat seperti ini kamu harus menggunakan nama samaran dan juga sihir penyamaran,"
"Karena seandainya identitas ketahuan maka mereka akan waspada kepada kita di dunia bawah,"
"Ini saranku sebagai seorang senior," ucap El sambil menepuk pundak Ciel untuk tetap tenang dan rileks dalam bekerja. Dengan identitas palsu dan sebuah topeng mereka masuk ke tempat pelelangan dengan lancar begitu juga dengan anggota Studentenrat yang lain.
Ruangan besar layaknya aula pesta dansa yang dimana seorang putri dan pangeran di negeri dongeng berdansa bersama dan menjalin hubungan asmara sampai mereka memutuskan untuk menikah begitu indah. Namun negeri dongeng yang didatanginya ini bukanlah kisah-kisah manis karena hanya di luarnya saja terlihat seperti itu, jauh di dalam sana ada hal yang mengerikan menunggu mereka berdua yaitu pelelangan budak.
Tempat yang tidak begitu gelap maupun terang, lampu sorot yang tertuju hanya pada panggung pertunjukan, dimana seorang manusia atau setengah manusia diperlakukan tidak layak.
Terlihat begitu miris dan menyedihkan, tapi tidak dengan para berdarah biru mereka bersorak-sorai kesenangan melihat para budak yang dianggap sebagai barang-barang yang dijual, dengan saling menawarkan harga-harga yang tinggi.
Ciel merasa miris melihat situasi yang terjadi ini. Akan tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan olehnya karena dia harus mengesampingkan perasaannya saat ini.
"Mau coba menawar harga tuan? Saya dengar kalau akan ada budak berkualitas tinggi di akhir nanti,"
"Haruskah kita menawarkan harga tinggi tuan?" bisik El yang berperan sebagai seorang pelayan Ciel karena dia merasa kalau Ciel mungkin akan sulit mengambil keputusan seperti ini. Oleh karena itu El yang mengambil peran sebagai seorang pelayan. Karena Ciel yang mendengarkan cara pemanggilan El maka dia harus fokus dengan peran yang sedang di jalaninya.
"Kalau memang benar ada, keluarkan semua uang yang kita miliki untuk membelinya,"
"Karena itu pasti sangat menguntungkan," ucap Ciel dengan angkuh mengingat dirinya adalah orang yang memiliki harga diri yang tinggi membuatnya tampak benar-benar mengintimidasi orang yang ada di sekitarnya.
Tawaran-tawaran dan teriakan demi teriakan terdengar dari kursi-kursi orang-orang berdarah biru itu. Seolah-olah menghambur-hamburkan uang adalah hal yang biasa untuk mereka apalagi untuk hal yang terlarang seperti yang mereka lakukan sekarang. Sampai pada akhirnya mereka berada di acara puncak atau akhir dari pelelangan, seorang perempuan dengan pakaian budaya timur dan begitu menggoda, membuat para bangsawan merasa kalau mereka harus memiliki perempuan itu dan terjadilah orang-orang yang berlomba-lomba menaikkan harga demi perempuan itu.
Sedangkan Ciel dan El yang mengetahui siapa perempuan itu enggan untuk membebaskan dirinya, karena mereka tau kalau tidak akan mungkin perempuan timur seperti Jianying akan mudah tertangkap seperti itu apalagi rela menjadi budak untuk di lelang.
"Sampailah kita pada akhir yang ditunggu-tunggu budak yang paling berkualitas,"
"Akan di lelang dengan harga 500 juta," ucap seorang laki-laki yang merupakan pembawa acara dengan lantang. Para bangsawan mulai tawar menawar harga hingga tiba-tiba lampu sorot yang menyinari panggung itu mati membuat para bangsawan menatap ke kiri dan kanan karena keheranan.
"Tuan, sudah saatnya kita menjaga pintunya," ucap El sambil berjalan ke arah pintu masuk dan keluar itu di ikuti oleh Ciel.
Tidak lama kemudian Ur-Atum dan para anggota Studentenrat telah berada di panggung dan semua pintu keluar untuk mengepung para bangsawan- bangsawan yang ikut dalam pelelangan.
"Aku harap kalian semua tetap berada di tempat dan tidak menggunakan sihir satupun apabila kalian bergerak untuk melarikan diri maka kalian semua tau akibatnya," ucap Ur-Atum tidak di hiraukan para bangsawan yang memiliki kemampuan menggunakan sihir mereka untuk menyerang Ur-Atum dan anggota Studentenrat yang berada di panggung.
Suara berdentum dan suara serangan demi serangan itu membuat ketegangan bagi para bangsawan yang tidak bisa menggunakan sihir. Tidak ada ampun bagi mereka yang tidak menyerah.
Sampai tiba-tiba suara yang tidak asing untuk Ciel terdengar membuat dirinya terkejut karena orang-orang itu terlibat juga di dalam lelang ilegal ini.
"Woah... woah..."
"Ramai sekali di sini, bahkan sampai ada tamu khusus dari kerajaan datang ke sini,"
"Meriah sekali ya," ucap laki-laki yang berjalan ke arah panggung itu membuat Ur-Atum terkejut dan seperti mengenali laki-laki itu
"Ur-Atum, kamu masih saja sama seperti dulu ya,"
"Rela menjadi boneka anggota kerajaan,"
"Padahal kamu diberikan ketidakadilan tapi masih tetap setia,"
"Hati-hati loh lama-lama kamu di singkirkan," ucap laki-laki itu dengan tertawa kecil
"Dan tuan Baron kamu sangat mengecewakan tuan putri kami, jadi kamu sudah tidak dibutuhkan lagi," ucap laki-laki itu yang kemudian tiba-tiba laki-laki itu berubah menjadi seekor serigala yang besar dan luas
"Apakah dia juga seorang pemandu takdir?"
Ciel The Guide Of Destiny