
Gelisah, ketakutan, dan penyesalan menjadi satu di dalam ujian kenaikan ini. Semua siswa-siswi yang bertarung di ujian kenaikan iniĀ berharap bisa naik kelas dengan nilai satu kali tes tanpa mengikuti pelajaran tambahan yang seperti neraka saat liburan nanti. Ciel yang baru keluar dari ruangan mendadak lemas karena soal yang dipelajari tidak mirip dengan soal yang di ajarkan.
"Apa semua akademi dan sekolah di seluruh dunia berbagai dimensi tidak ada yang berbeda ya? Mereka semua terus membuat soal yang lebih rumit dibandingkan yang di ajarkan,"
"Dan soalnya bercabang lagi," gumam Ciel dengan tatapan pasrah ke arah taman yang dipenuhi oleh para siswa-siswi untuk beristirahat dan berbincang mengenai hasil dari perjalanan mereka mengerjakan ujian yang sulit. Beberapa siswa-siswi telah di keluarkan karena ketahuan mencontek dan beberapa lagi sedang berpasrah diri kepada nilai ujian yang entah hasilnya jelek atau bagus, akan tetapi mereka yakin kalau usaha tidak akan selamanya mengkhianati hasil atas taruhan mereka lakukan kepada waktu yang dikatakan sebagai emas paling berharga dan tidak ada gantinya.
"Ciel!"
"Bagaimana ujian yang kamu jalani hari ini?" Suara yang tidak asing dan panggilan yang dikenali membuat Ciel berhenti melangkah dan menoleh ke arah belakang
"Coba aku bertanya dulu kepada dirimu,"
"Apa kamu bisa menjawab soalnya dengan lancar Udin?" tanya Ciel dengan tatapan tajam
"Bagaimana mungkin bisa lancar? Apa kamu tidak lihat, soal yang terakhir aku baca tiba-tiba berubah menjadi soal lain jadi aku harus berpikir dengan cepat sebelum soalnya berubah kembali,"
"Ini lebih sulit dibandingkan dengan soal yang diberikan di dunia kita," ucap Solahudin dengan senyuman pahit terlihat sekali bahwa siapa yang tidak merindukan dunia yang mereka tempati sebelumnya. Disana tidak ada sihir ataupun monster yang bisa mengamuk, mereka bisa bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan santai sampai matahari tenggelam.
Namun semuanya berbeda sejak mereka berada di negeri Minunilor, terdengar seperti cerita seorang gadis yang masuk ke dunia Wonderland tapi ini nyata bukan seperti dongeng. Mereka tidak bisa kembali adalah bukti nyata kalau mereka harus di sini.
"Kenapa kalian berdua begitu murung?" tanya seorang perempuan yang langsung memukul laki-laki di sebelah Ciel
"LISTINA, KAMU BODOH ATAU APA? AKU DARI TADI DIAM," teriak Solahudin dengan lantang ke arah Listina karena kesal hanya dirinya yang di pukul sedangkan Ciel hanya tersenyum lelah melihat keduanya bertengkar kembali
"Yah maaf namanya juga tidak sengaja," ucap Listina dengan senyuman yang tidak bersalah kemudian Listina berlari meninggalkan Solahudin dengan tatapan yang meledek ke arah Solahudin.
Mana mungkin setelah di ledek begitu Solahudin tidak mengejarnya, mereka berdua berlarian meninggalkan Ciel sendirian pada akhirnya di lorong itu.
"Sebentar lagi liburan tiba dan aku tidak menemukan tujuan liburan ini harus pergi kemana,"
"Ditambah lagi sidangnya masih tinggal beberapa hari,"
"Aku benar-benar harus menyiapkannya," gumam Ciel dengan kepala tertunduk mengingat kejadian yang dia lakukan semenjak dia datang ke sini begitu banyak memori kenangan yang berharga terjadi begitu saja.
Tidak jauh dari Ciel, ada dua orang laki-laki yang berada di sudut yang sepi seperti membicarakan sesuatu. Dan salah satunya laki-laki yang Ciel kenali suaranya, membuat dia diam dan mendengarkan pembicaraan itu.
"Aku telah menyelesaikannya,"
"Ini yang kalian minta, aku harap yang mulia akan senang dengan ini," ucap laki-laki dengan suara yang lembut
"Permintaan baru dari yang mulia adalah untuk mengacaukan sidang yang akan dilaksanakan nanti, jadi kami berharap besar kepada dirimu tuan Wells Sadawira Vil," ucap laki-laki dengan suara dingin kemudian pergi meninggalkan Wells yang diyakini orang yang melakukan transaksi dengan orang yang misterius.
Karena merasa kalau percakapan mereka telah berakhir Ciel memutuskan untuk meninggalkan lorong itu dengan sihirnya. Tidak lama laki-laki yang di duga adalah Wells keluar dari lorong gelap itu.
"Ini adalah jejak sihir,"
"Sepertinya ada yang menguping pembicaraan barusan,"
"Tapi tidak masalah karena bagaimanapun juga dia tidak akan bisa berbuat apapun," ucap Wells dengan seringai dingin
Disisi lain Ciel telah sampai di depan ruangan Kesiswaan dengan nafas tersengal-sengal karena telah menggunakan banyak sihir untuk berteleportasi, karena Ciel belum lama ini menggunakan sihir untuk menyelesaikan masalah jadinya dia lelah berlebihan menggunakan mana.
Namun dengan cepat di bukanya pintu itu tanpa melanjutkan diri untuk beristirahat. Siapa yang percaya kalau Wells ada di ruangan besar itu duduk santai menulis dokumen-dokumen ditemani oleh Carlisle. Melihat Wells yang berada di dalam ruangan membuat mulut Ciel terbungkam dalam diam.
"Ciel, kenapa kamu tidak masuk dan berdiri di depan pintu?" ucap seorang perempuan dengan seragam yang bergaya ketimuran berbeda dengan siswa-siswa lainnya namun dengan lambang sekolah yang sama
"Ah... Aku tidak apa-apa hanya saja, aku bingung kemana pergi ketua," ucap Ciel dengan terbata-bata dan tatapan yang kaku, Ciel terlihat sedikit mencurigakan tapi mungkin Ciel terkejut karena di panggil mendadak itulah pikir Jianying yang menatap Ciel berdiri di depan pintu dan jarak yang tidak jauh dari dirinya.
Ciel dan Jianying masuk bersamaan, kemudian duduk di kursi kerja masing-masing.
"Apa kamu baik-baik saja Ciel? Apakah karena ujian sulit kamu sampai belajar larut? Wajahmu begitu terlihat pucat," ucap Carlisle yang meregangkan badan dan hendak ingin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan pekerjaannya dalam menulis kertas-kertas yang bertumpuk.
"Tidak, aku tidak apa-apa mungkin hanya kekurangan minum saja," ucap Ciel dengan senyuman kaku
"Jangan terlalu dipaksakan, lagipula ada Wells yang lumayan terlihat santai jadi santai saja dan beristirahatlah," ucap Jianying sambil melirik ke arah Wells yang menuangkan teh untuk beristirahat sejenak dari pekerjaan yang menunggu untuk dihitung dan ditandatangani.
"Hah..."
"Ciel, yang dikatakan oleh Jianying benar,"
"Kamu istirahatlah nanti aku kerjakan bagianmu dan aku buat perhitungan dengan wakil ketua kita yang bijaksana ini," ucap Wells sambil tersenyum lembut ke arah Jianying membuat Ciel teringat dengan kejadian yang barusan terjadi. Akan tetapi dia tidak bisa mengatakan apa yang terjadi atau menolak Jianying sehingga hanya mengangguk pelan menuruti Jianying dan meninggalkan ruangan.
Ciel memutuskan untuk kembali ke mansion miliknya karena telah ditolak oleh Jianying untuk bekerja, tentu saja dia sambut dengan perhatian oleh kedua temannya dan para pelayan yang melayani. Seharian penuh itu Ciel habiskan waktunya di kamar di atas kasur, walaupun bosan tidak ada pilihan lain karena Listina dan Solahudin akan mengawasinya setiap beberapa menit sekali untuk memastikan teman baiknya ini benar-benar beristirahat.
"Kalau tidak bisa mengatakannya, maka aku harus menyusun rencana,"
Ciel The Guide Of Destiny