
Berbagai macam serangan dan formasi sihir di kerahkan ke arah laki-laki bermata sipit untuk supaya mereka bisa di izinkan masuk namun, serangan Ciel dan yang lainnya dengan cepat di netralkan oleh laki-laki sipit itu dengan mudah.
Baru saja mereka datang ke tempat ini dan berhasil masuk ke halaman rumah tua itu, tapi ternyata tidak semuanya berjalan dengan sesuai rencana mereka. Karena orang di depan mereka sangatlah kuat, hanya dengan memiliki kemampuan menetralkan ingin menyerang dengan serangan jarak dekat juga tidak bisa karena seekor rubah besar melindungi dirinya dari serangan-serangan itu.
Karena jumlah mereka yang banyak sebagian dari mereka berusaha mengecoh rubah besar sebagian melawan laki-laki bermata sipit itu hingga tujuh jam susahnya pertarungan terjadi.
Ciel dan yang lain sudah mulai ngos-ngosan begitu juga dengan pihak lawan mereka.
"Ckckck..."
"Kenapa kalian tidak ingin menyerah? dan pulang usaha kalian adalah kesia-siaan,"
"Sebentar lagi surat pengunduran diri dari akademi akan diantarkan jadi sia-sia kalian datang untuk memberikan hukuman," ucap Laki-laki bermata sipit itu dengan helaan nafas panjang membuat semua orang terkejut, memang benar konsekuensi yang dilakukan oleh Wells yang telah melakukan kekacauan dua kali bahkan mungkin lebih seharusnya dia di keluarkan dari akademi tapi karena adanya keuntungan antara kedua belah pihak maka Wells tetap dibiarkan untuk terus belajar di akademi, tapi jika dia ingin memundurkan diri maka tidak akan ada juga yang bisa melarang dia melakukannya karena itu adalah keputusan yang dia buat langsung. Masalah itu juga tidak bisa membuat Wells rugi dari perjanjian yang telah dibuat akademi dengan dirinya.
Akan tetapi ucapan laki-laki bermata sipit itu tidak membuat mereka semua gentar untuk mundur, mereka malah semakin yakin dengan kemampuan mereka yang berkembang dari pertarungan yang terjadi saat ini.
Ciel yang tidak pernah sekalipun memegang tombak memutuskan untuk menggunakan tombak untuk menyerang laki-laki bermata sipit itu. Ciel yakin kalau informasi mengenai kekurangan dan kelebihan mereka telah diketahui oleh pihak musuh. Namun laki-laki di depannya pasti akan berpikir kalau Ciel adalah orang yang tidak bisa memegang tombak, mencoba menggunakan tombak adalah hal yang mustahil bisa menang. Apalagi menurut teman-temannya karena mereka tidak pernah melihat Ciel menggunakan tombak selama latihan di akademi. Carlisle yang melihat Ciel merubah senjatanya, berusaha menganalisis apa yang akan dilakukan oleh Ciel karena Ciel juga merupakan salah satu siswa dengan nilai tertinggi di akademi tidak dapat dimungkiri kalau dia adalah siswa dengan kecerdasan luar biasa.
Tidak lama dari itu Carlisle juga mengganti senjatanya, karena selesai menganalisis yang akan dilakukan oleh Ciel, sedangkan Ur-Atum yang paham dengan situasi memberikan isyarat kepada orang yang ada di belakangnya untuk tidak banyak ikut campur ke dalam pertarungan karena jelas mereka disana yang ada hanya menjadi hambatan untuk keduanya.
Keduanya saling tukar pandang kemudian maju menyerang bersamaan, Ciel menyerang rubah dengan tombak yang dilemparkan sedangkan laki-laki sipit itu di serang menggunakan panah tapi serangan yang dilakukan oleh Carlisle meleset dan mengenai rubah besar, sedangkan Ciel yang tidak paham dengan penggunaan tombak juga melakukan hal yang sama mereka hanya perlu menggunakannya tanpa harus membuatnya tepat sasaran.
Karena laki-laki bermata sipit itu terluka sangat parah di bagian pinggang dan merasa kalau terus seperti ini dia bisa mati. Maka laki-laki itu mundur dari tempat itu dengan sihir teleportasi, mereka merasa kalau ini adalah keuntungan yang besar untuk mereka ke langkah selanjutnya.
Mereka semua masuk ke dalam mansion itu dan ternyata betapa terkejutnya mereka karena tidak ada sama sekali perabotan di sana tentu ini membuat mereka curiga, sampai mereka selesai berkeliling rumah besar itu tidak ada tanda-tanda jejak bahwa Wells pernah berada di tempat membuat mereka semua yakin kalau mereka telah di tipu.
Ciel tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya harus berhenti mencari lebih dalam mengenai informasi adik perempuannya yang menghilang darinya selama bertahun-tahun memutuskan untuk sekali lagi memeriksa bangunan tua itu. Sampai sebuah buku yang tidak sengaja di senggol jatuh ke lantai.
"Krek..."
Sebuah peti mati berdebu tergeletak di tengah ruangan itu.
"Sepertinya ruangan pernah di kunjungi walaupun sudah sedikit lama karena debu yang ada di peti mati itu sangat tipis,"
"Dan juga tidak terlalu banyak terlihat ruangan ini sangat kotor seperti ruangan terbengkalai," ucap Ur-Atum yang berkeliling di sekitar ruangan itu, Carlisle dan Ciel yang penasaran dengan peti mati di depannya tanpa larangan ataupun suruhan langsung membuka peti mati tersebut.
Betapa mengejutkan sosok di dalam peti mati ini, bukanlah kerangka manusia melainkan mayat yang diawetkan dengan pakaian yang rapi.
"Siapa laki-laki ini? Kenapa dia bisa berada diruangan bawah tanah ini? Kenapa dia sampai di awetkan di sini?" Gumam Ciel dengan tatapan penasaran
"Sepertinya sosok itu kenal dengan Wells terlihat dari foto ini," ucap Luna yang merupakan salah satu dewan kesiswaan yang berpartisipasi membuat Ciel dan Carlisle menoleh ke arah lukisan yang besar berada di sudut ruangan, lukisan tersebut tidak terkena cahaya sama sekali.
Semua orang di dalam ruangan itu terkejut bukan main karena ada tiga orang sosok yang mereka kenal di dalam lukisan itu, dan sosok itu membuat Ciel sedikit gemetaran karena itu adalah wajah yang mirip dengannya hanya saja itu adalah seorang perempuan yang seumuran dengan dirinya dan perempuan itu mengenakan pakaian akademi yang sama di pakai oleh Ciel.
"Aku tidak percaya kalau Wells mengenal pangeran keluarga kerajaan yang mati karena perang besar,"
"Dan bahkan dia mengenal seorang pembimbing takdir yang meninggalkan akademi karena telah menganggap para siswa akademi adalah pendosa,"
"Mereka bertiga terlihat sangat akrab ternyata dan aku rasa ini adalah akar dari penyebab kenapa dia menyerang akademi," ucap Ur-Atum membuat semuanya kebingungan, tentu saja hanya Ur-Atum yang mengetahui kisah ini karena dia orang yang telah berada di dewan kesiswaan sebelum dia menjabat sebagai seorang ketua.
Ucapan dari Ur-Atum membuat Ciel mengepalkan tangannya dengan tatapan kesal, berjalan ke arah Ur-Atum dan mencengkram kerah pakaian milik Ur-Atum.
"Apa maksudnya Ur-Atum?"
Ciel The Guide Of Destiny