
Matahari baru terbit untuk kembali memberikan penerangan di hari yang baru, seharusnya semuanya ceria namun di pagi ini suasana suram dan tertekan menyelimuti ruang makan bersama. Ciel yang merasakan suasana ruangan yang berbeda, memutuskan untuk tetap diam karena merasakan bukan waktu yang tepat untuk dia berbicara. Sampai sebuah pintu terbuka dan suara yang nyaring terdengar.
"YAHOO..."
"SELAMAT PAGI SEMUANYA," ucap El dengan lantang sambil tersenyum berjalan masuk ke ruangan makan, semuanya yang mendengarkan ucapan El langsung menatapnya dengan tajam. El yang merasakan ini bukan waktu yang tepat langsung terdiam dan mengurungkan niatnya untuk banyak berbicara, sampai dia mendapatkan sebuah ide.
"Kita punya waktu liburan tambahan bukan? Bagaimana kalau kita semua jalan-jalan ke alun-alun kota dan membeli beberapa oleh-oleh untuk yang lain di akademi," ucap El dengan tatapan bersemangat langsung menepuk meja
Tidak ada yang bersemangat ataupun ceria namun mereka setuju dengan usulan El tidak terkecuali Ciel. Ciel yang merasakan kalau hubungan mereka yang ada di Studentenrat kepada sesama anggota renggang, bagaimana tidak? organisasi Nalendra yang merupakan organisasi pemberontak besar siap untuk menghancurkan kerajaan kapanpun mereka mau hanya dengan jentikan jarinya. Dan tentu pasti dia memiliki satu atau dua mata-mata di dalam akademi untuk mengetahui apa yang terjadi di akademi.
Ciel ikut memutuskan untuk mencoba berbicara dan meyakinkan semuanya supaya ikut pergi bersenang-senang di alun-alun kota.
"Semuanya, aku tau mungkin aku tidak mengerti apa yang terjadi dan segawat apa situasi saat ini, tapi bagaimana kalau kita sejenak melupakan masalah yang terjadi dan bersantai sejenak?" ucap Ciel dengan tatapan memelas
"Yang dikatakan Ciel, aku rasa ada benarnya karena jika kita seperti ini maka juga tidak akan baik-baik saja,"
"Dan mungkin memang lebih baik kita bersantai, Ur-Atum kamu setuju atau tidak?" ucap Wells menatap ke arah Ciel kemudian ke arah Ur-Atum.
Ur-Atum berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju, diikuti dengan yang lain memutuskan untuk beristirahat dengan ikut rencana yang diajukan.
"BRAKK..."
Akan tetapi tiba-tiba Carlisle memukul ke arah meja yang tidak memiliki salah sama sekali membuat semuanya terdiam dan menoleh ke arah Carlisle dengan kebingungan karena suara yang begitu besar terdengar.
"Aku tidak ikut dan aku sudah selesai makan kalian lanjutkan saja makan kalian," ucap Carlisle yang beranjak dari kursinya kemudian berjalan meninggalkan ruang makan. Menyisahkan tatapan kebingungan dan perasaan tidak tau apa-apa dari ruangan itu. Ciel yang melihat kejadian Carlisle yang pergi begitu saja, merasakan kalau ada hal yang mungkin dia lakukan menyinggung perasaan Carlisle. Namun pastinya setelah kejadian Carlisle pergi dengan terang-terangan dan emosian, tidak akan mudah untuk Ciel mengajaknya berbicara empat mata.
Maka dari itu Ciel memutuskan untuk membiarkan Carlisle sendirian dan menenangkan diri dulu.
"Wells, kamu tidak mengikuti Carlisle yang telah pergi keluar dari ruangan? Biasanya kamu selalu mengikutinya bahkan sampai mengasuhnya seperti orang tua kandungnya," ucap El dengan tatapan penasaran dan kebingungan
"Humm..."
"Saat ini bukan waktu yang tepat untukku ikut campur karena dia pasti sekarang ingin sendirian dan melampiaskan semua emosinya ke ruangan latihan, kalau aku ikut maka aku akan mati,"
"Lagipula masalah ini aku rasa memang aku tidak berhak untuk ikut campur tapi nanti aku akan melihat keadaannya," ucap Wells dengan senyuman tipis ke arah El yang penasaran. Tidak ada yang mengetahui kenapa Wells ingin mengikuti orang yang memiliki sumbu tipis dan ketat dengan aturan. Namun keduanya sangat dekat hingga bisa dibilang seperti kakak adik atau ayah dan anak.
Ciel dan teman-temannya yang lain memutuskan untuk pergi bersama di depan pintu gerbang kerajaan pada saat matahari berada di atas kepala. Ciel yang telah selesai sarapan memutuskan untuk kembali berkeliling kastil besar itu daripada tidak melakukan apa pun. Karena rasa penasaran yang menyelimuti dirinya, Ciel kembali ke arah lorong tempat dimana dia menatap lukisan itu dan kemudian menyentuh lukisan yang ternyata telah di lapisi debu tebal.
"Aku hanya merasakan perasaan familiar mengenai lukisan ini, dan entah kenapa aku tertarik dengannya,"
"Apakah aku terlihat seperti orang yang aneh?" tanya Ciel dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sambil menatap lukisan besar didepannya
"Tidak aneh hanya saja, tidak ada seorangpun yang penasaran atau tertarik memandangi lukisan ini,"
"Apalagi lukisan ini hanya orang dari ratusan lalu," ucap El dengan tatapan yang pahit memandangi lukisan itu seperti memiliki kisah dengan orang yang berada di dalam lukisan namun itu sama sekali tidak ditunjukkan olehnya dengan terang-terangan.
Seperti setiap orang yang memiliki rahasia, pada umumnya lebih baik memendam dibandingkan mengumbar ke semua orang. El adalah orang yang seperti itu dimata Ciel.
"BAM!!"
Tiba-tiba terdengar suara ledakan terdengar dari bangunan yang tidak jauh dari lokasi mereka, membuat Ciel dan El saling menatap. Kemudian berlari ke asal suara ledakan yang besar itu.
Di sisi lain juga anggota Studentenrat berlari ke arah suara ledakan yang terdengar begitu besar hingga mereka terkejut.
Sesampainya mereka semua secara bersamaan di lokasi ledakan dengan nafas tersengal-sengal. Ciel dan yang lainnya terkejut melihat ruangan dengan puing-puing bangunan yang berantakan dan debu-debu yang masih bertebaran.
Terlihat seorang laki-laki dengan aura kegelapan pekat dan rantai-rantai api gelap yang mengelilingi tubuhnya. Melihat hal itu tentu saja membuatku semua anggota Studentenrat yang melihat terkejut karena laki-laki yang tadi pagi terlihat emosi ternyata terkena Magische Explosion sampai meledakkan sebuah ruangan yang memiliki pelindung yang berlapis dibuat oleh para penyihir tingkat tinggi.
Ciel dan yang lainnya dengan sigap melakukan hal yang biasanya mereka lakukan pada saat Magische Explosion. Sebagian mengevakuasi dan sebagiannya melakukan penyerangan untuk menenangkan Carlisle yang mengalami ledakan mana.
"CIEL, AMANKAN SITUASINYA DULU," Teriak sang ketua dewan akademi dengan lantang karena mengingat Ciel adalah orang yang paling penting dalam mengembalikan Carlisle dari Magische Explosion. Akan tetapi di saat yang bersamaan tiba-tiba seluruh ruangan di sekitar Ciel berubah menjadi ruang gelap, tanpa cahaya sedikitpun.
"Trang... trang... trang..."
"Teng... teng... teng..."
Suara rantai dan suara lonceng berdetang secara bersamaan terdengar dan sekejap ruangan gelap itu berubah menjadi tempat pemenggalan kepala. Semua orang bersorak-sorai bergembira, seakan-akan melihat kejahatan berhasil dikalahkan namun sosok laki-laki yang akan dipenggal membuat Ciel terkejut.
"Sebenarnya tempat apa ini dan kenapa dia ada di sini?"
Ciel The Guide Of Destiny