
Tidak terasa bahwa hari persidangan sebentar lagi di mulai semua orang bersiap-siap untuk berangkat ke ibukota tempat sidang besar terbuka akan dimulai. Ciel dari awal sampai pada hari persidangan akan tiba, sama sekali tidak memberi tau tentang kekacauan yang akan terjadi pada saat sidang akan tiba nanti. Dia memutuskan untuk membungkam mulutnya dan bersiap untuk segala resiko.
"Ciel, hari ini kita akan ke kota lagi dan kali ini kita bisa bertemu dengan semua dewan kesiswaan versi setiap akademi secara langsung,"
"Jadi pastikan kamu mengingat nama dan wajah setiap ketua perwakilan akademi mereka,"
"Supaya nantinya ketika di ajak berkomunikasi, kamu tidak lagi kesulitan," ucap El sambil menepuk pundak Ciel, dijawab dengan anggukan mengerti
Ciel dan anggota Studentenrat pergi ke ibukota tidak terkecuali Carlisle yang baru saja selesai masa rehabilitasi. Ciel selalu waspada kepada Wells semenjak dia tau bahwa Wells akan menghancurkan sidang, akan tetapi anehnya dia tidak menemukan apapun yang aneh dan mencurigakan dari Wells.
Karena dia mendengarkan sendiri ucapan yang dikatakan dari mulut orang itu, maka tidak akan mudah bagi Ciel untuk melupakan begitu saja hanya karena Wells tidak mencurigakan dimata Ciel.
"Hari ini, kita akan menghadiri persidangan terbuka dan Ciel karena kamu diberikan kesempatan besar untuk membuat sebuah hukum baru jadi manfaatkan sebaik-baiknya," ucap Ur-Atum dengan tatapan yang penuh dengan kepercayaan dan kebanggaan
"Siap, akan aku lakukan sebaik mungkin," ucap Ciel dengan anggukan dan tangan di dada
Setelah perkumpulan singkat mereka berangkat ke ibukota dengan menggunakan teleportasi bertahap karena sulit menggunakan sihir yang banyak, sedangkan mereka tidak mengetahui hal bahaya seperti apa yang akan datang ke arah mereka nantinya.
"Kita istirahat sebentar," ucap Ur-Atum sambil memberikan isyarat karena matahari telah di atas kepala yang mengartikan kalau mereka harus beristirahat untuk makan siang
"Aku akan ke sungai yang tidak jauh dari sini untuk mengambil air," ucap Ciel sambil berjalan ke arah sungai yang jaraknya tidak jauh dari lokasi mereka.
"Hah..."
"Akhirnya bisa beristirahat sebentar," Gumam Ciel yang akan membasuh wajahnya yang terasa panas karena cuaca,
Suasana yang begitu menenangkan terdengar, Akan tetapi suara dari semak-semak membuat Ciel yang waspada langsung melemparkan dua belati beruntun untuk mengecoh lawan yang bisa menghindari belatinya.
"TRANG...." Suara semua belati yang berhasil di tangkis membuat Ciel menoleh ke asal suara itu
"Ciel, sudah aku duga kamu akan sangat waspada bahkan kamu melemparkan belati ke arahku secara beruntun," ucap seorang laki-laki yang tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah Ciel sedangkan Ciel mempertahankan posisi waspada nya tanpa sedikitpun melepaskannya kepada laki-laki di depannya.
"Wells, ada apa kamu diam-diam mengendap seperti itu?" tanya Ciel dengan tatapan tajam
"Aku tidak mengendap, dan juga aku hanya mengira-ngira awalnya tapi ternyata dugaanku benar kalau kamu memang akhir-akhir ini menatapku dengan tajam dan begitu waspada,"
"Bahkan kamu dengan senang hati melemparkan belati ke arahku,"
"Aku jadi penasaran apa yang kamu sembunyikan dariku, hingga kamu bersikap begitu was-"
"Kalian berdua lama sekali, sehingga aku harus secara langsung menyusul kalian,"
"Kalian tau kalau El dari tadi teriak-teriak khawatir seperti orang tua walaupun dia sendiri bisa memeriksanya tapi dia adalah orang yang malas jadi tidak ada harapan," ucap seorang perempuan dengan tatapan kesal ke arah keduanya
Sesampainya mereka di kota yang dinantikan, mereka langsung berisitirahat di istana kerajaan dengan kamar yang telah di siapkan kepada masing-masing orang.
"Carlisle, kalau nantinya aku di penjara atau di jadikan sebagai seorang penjahat,"
"Apakah kamu akan membelah aku?" tanya seorang laki-laki yang membereskan barang-barangnya ke dalam lemari kosong
"Aku tidak bisa memutuskannya, tapi aku akan berusaha mencari kebenarannya untuk dirimu,"
"Tapi kamu tidak serius bukan Wells?" ucap Carlisle dengan tatapan serius ke arah Wells
"Tentu saja, aku hanya mengandai-ngandai saja," ucap Wells dengan senyuman tipis
Sebelum sidang besar dimulai dua hari lagi, mereka memutuskan untuk berkumpul dan makan bersama dengan dewan kesiswaan akademi lain. Akan tetapi karena jam makan mereka berbeda-beda hanya dua akademi yang menerima undangan makan malam bersama ini dengan akademi Verbrechen karena mereka berteman dekat. Akademi yang menerima adalah akademi Inverno dan akademi Fluss Meer, kedua akademi ini berada di meja makan yang sama dengan meja yang pajang.
"Semuanya karena kita kali ini makan bersama dengan dua pimpinan akademi besar. Maka bagaimana kalau kita mulai dengan berkenalan," ucap Ur-Atum yang memulai pembicaraan dengan senyuman dingin
Perkenalan terjadi beberapa menit, kemudian mereka makan dengan berbagai cerita dari akademi mereka masing-masing. Setelah selesai beberapa dari mereka memutuskan untuk keliling dan beberapa lagi memutuskan untuk berkumpul di salah satu kamar untuk bermain game bersama.
Ciel ditawari oleh para anggota dewan kesiswaan lain untuk bergabung bersama-sama, akan tetapi Ciel yang ingin menolak langsung di seret oleh El ke kamar milik Carlisle sebagai tempat berkumpul dan bermain game bersama.
Sedangkan Carlisle tidak bisa mengeluarkan emosinya karena ada banyak tamu dari akademi lain, dia merasa harus mendinginkan kepala tapi malah mengosongkan kepalanya supaya tidak berpikir untuk mengamuk. Wells tentu saja ikut dalam acara ini untuk menenangkan Ciel karena dia tau kesabaran temannya ini hanya seujung sumbu bom yang bisa meledak kapan saja.
"Jadi kamu ya yang membuat seluruh akademi di Minunilor heboh,"
"Bahkan sampai menjadi perbincangan paling panas karena seorang pembimbing takdir yang telah bertemu dengan anggota Nalendra tiga kali masih hidup,"
"Apa kamu yakin kamu bukan bagian dari mereka?" ucap seorang laki-laki dengan tatapan tajam dan sinis arah Ciel yang hanya duduk diam di ujung
"Ed, kamu tidak boleh mengatakan hal semacam itu karena dia telah membantu kita dalam mengatasi Magische Explosion,"
"Dan juga Ciel tidak terlihat seperti orang yang akan berkhianat dengan kita," ucap Jianying dengan tatapan tajam
"Bela saja terus, dari dulu kamu tidak berubah tidak heran jika kamu dipindahkan ke akademi yang memiliki banyak permasalahan dibandingkan solusi," ucap laki-laki itu dengan tatapan sinis
Jianying yang mendengarkan ucapan itu tidak ingin banyak berbicara langsung pergi meninggalkan ruangan, karena tidak ingin memperpanjang urusan sedangkan Ciel hanya diam dan terus waspada dengan Wells.
"Apakah yang sedang di mainkan oleh Wells?"
Ciel The Guide Of Destiny