Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 37 Sepertinya aku pernah melihatmu



Tatapan yang lama dari Ciel kepada lukisan besar yang menghiasi dinding itu membuat dirinya tertinggal dari rombongan, tapi karena El berjalan di paling belakang. El memutuskan menunggu Ciel selesai memandangi lukisan yang membuat dirinya rindu.


'Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?' ucap Ciel di dalam hatinya kemudian menghela nafas panjang setelah itu dia menatap sekitarnya telah sepi hanya tersisa dirinya dan El yang sedang menunggu dirinya.


"El, aku pikir kamu akan ikut dengan mereka," ucap Ciel dengan tatapan kebingungan


"Mana mungkin aku meninggalkan orang yang tidak tau arah,"


"Kalau sudah selesai ayo jalan," ucap El dengan senyuman pahit ke arah lukisan sesaat kemudian pergi berjalan di sebelah Ciel sampai pada akhirnya mereka sampai di sebuah pintu besar.


"Krett..." pintu dibuka dari dalam seolah-olah mereka yang berada di dalam ruangan tau kalau didepan pintu tersebut ada orang


Seorang pelayan laki-laki yang membuka pintu itu dengan senyuman profesional menatap tajam ke arah El. Karena kesalahan atau kecerobohan yang dibuat El tidak bisa dengan mudah di maafkan oleh mereka.


Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu ada yang sebagian duduk di sofa dan ada juga yang sebagiannya berdiri karena tidak ada tempat duduk yang tersedia. Karena semuanya telah berkumpul di sini, maka sebuah kisah lama yang telah terlupakan hingga saat ini kembali di ingat kembali. Dengan helaan nafas panjang, Wells kembali menceritakan sebuah kisah lama itu.


Di siang hari jam istirahat telah tiba, semua siswa-siswi bernapas dengan bebas karena mata pelajaran tersulit telah mereka selesaikan dengan baik. Ada beberapa siswa-siswi ke kantin, ada beberapa siswa-siswi pergi ke perpustakaan, ada juga beberapa siswa-siswi pergi ke tempat yang tersembunyi untuk tidur siang dan membolos pelajaran selanjutnya.


"Seharusnya di sini tidak akan ada orang yang bisa menemukan aku," ucap seorang laki-laki yang berhasil kabur dari kejaran para siswi tapi di tempat tersebut ternyata ada seorang laki-laki yang sedang tidur siang, laki-laki itu adalah Wells. Wells yang terbangun dari tidurnya dengan tatapan kesal menatap laki-laki di depannya.


"Tuan, apakah anda tau kalau di sini adalah tempat saya,"


"Dan tolong segera pergi jauh dari sini," ucap Wells dengan ketus dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dibangunkan dari tidur


"Ah, maafkan aku,"


"Tapi sepertinya aku pernah melihatmu,"


"Kamu siswa yang bisa mengabulkan semua keinginan itu bukan?" tanya laki-laki berambut emas itu dengan tatapan penasaran sambil duduk di depan Wells tanpa di suruh sedikitpun, Wells hanya mengangguk memang benarlah dia siswa yang bisa mengabulkan permintaan apapun walaupun tidak masuk akal, dan di setiap permintaan tentu saja ada konsekuensi atau balasan yang di inginkan olehnya.


"Ah, baguslah kalau begitu,"


"Tolong kabulkan keinginanku, aku tidak ingin di kejar para perempuan yang setiap hari harus aku hadapi," ucap laki-laki itu dengan suram mengingat kejadian yang pernah terjadi baru-baru ini, Wells menatap laki-laki di depannya dari atas sampai ke bawah memastikan kalau laki-laki itu terlihat memiliki sesuatu yang special namun tidak satupun yang membuatnya tertarik walaupun wajahnya tampan.


Wells langsung menolaknya karena tidak tertarik membantu sama sekali, tetapi laki-laki di depannya memohon dan mendekatinya setiap harinya tanpa henti hingga Wells yang selalu tersenyum kepada semua orang, saat ini tatapan kesal dan aura yang tidak ingin di dekati oleh siapapun. Wells sudah muak dan lelah tentunya di ikuti atau ekori seorang hingga dia memutuskan untuk mengabulkan keinginan yang diinginkan oleh laki-laki berambut emas itu.


"Keinginanku cuma satu, aku hanya ingin tidak dikejar-kejar oleh para perempuan lagi dan hidup dengan damai," ucap laki-laki berambut emas itu dengan tatapan berbinar-binar


"Baiklah, tanda tangan di sini," ucap Wells yang menggunakan sihirnya memunculkan sebuah kertas yang di gulung dan di ikat rapi, kemudian membiarkan laki-laki itu menandatangani kontrak tersebut tanpa pikir panjang tentu saja laki-laki itu menandatanganinya.


Setelah selesai Wells langsung memberikan satu botol cairan kepada laki-laki berambut emas itu, dan tanpa mendengarkan penjelasan dari Wells satu botol cairan itu diminum olehnya.


"KAMU TIDAK MENDENGARKAN PENJELASANKU?" teriak Wells dengan tatapan terkejut dan panik karena ada orang yang tidak mendengarkan tata cara dalam meminum obat darinya laki-laki di depannya hanya menggeleng dengan senyuman bodoh.


"BODOH!!" teriak Wells kemudian menarik tangan laki-laki berambut emas itu dengan cepat ke suatu tempat.


Laki-laki berambut emas itu dibawa oleh Wells ke suatu tempat yang jarang di pedulikan oleh banyak orang menara jam, disana ternyata adalah tempat penelitian Wells dalam meneliti ramuan dan sihir. Banyak yang menakjubkan di ruangan itu membuat laki-laki berambut emas itu terbelalak melihat betapa banyaknya hal yang dia ketahui mengenai sihir dan ramuan sihir. Karena ramuan sihir adalah hal yang langka bahkan dianggap tidak ada di negeri ini tapi Wells adalah orang yang pertama kali dilihatnya meneliti sihir dan ramuan.


Wells langsung membuat ramuan penawar sebelum obat itu bereaksi kepada laki-laki berambut emas itu. Setelah selesai dia memaksanya untuk meminumnya, barulah Wells bisa bernapas lega dan lemas karena hampir membahayakan nyawa orang.


"Nona Wells terimakasih telah menyelamatkanku,"


"Aku mungkin mati karena tingkah bodohku sendiri tanpamu aku tidak akan bisa selamat," ucap laki-laki berambut emas itu sambil tertawa kaku dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Nona? Apakah aku terlihat seperti perempuan di matamu? Aku ini seorang laki-laki,"


"Apakah kamu tidak melihat kalau aku menggunakan celana?" ucap Well dengan tatapan kesal ke arah laki-laki itu


"Kamu mungkin memang terlihat seperti laki-laki tapi suaramu tidak membuat dirimu seperti seorang laki-laki dan juga laki-laki di akademi ini pendeknya tidak ada yang sependek dirimu kalau kamu tidak menggunakan sepatu yang tingginya 5 cm itu,"


"Tenang saja aku akan merahasiakannya karena setiap orang punya rahasianya kan?" jelas laki-laki itu dengan senyuman yang lembut


Wells yang melihat kebodohan dan jawabannya yang begitu teliti tentu saja terkejut, karena ada orang yang bodoh seperti ini ketika melihat seorang perempuan menggunakan celana. Seharusnya laki-laki yang melihat perempuan menggunakan celana adalah tindakan tercela, karena tidak menghargai pemberian para dewa yang memberikan anugrah kepadanya. Dari sinilah kisah keduanya menjadi sahabat dekat secara diam-diam.


"Sungguh ada orang yang bodoh ya karena tidak memanfaatkannya?"


Ciel The Guide Of Destiny