Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 15 Hukuman pancung atau mati bukan?



Seorang laki-laki dan perempuan dengan rantai yang mengikat di iring suara-suara teriakan orang-orang. Laki-laki yang dirantai itu sangat mirip dengan wajah Carlisle yang berbeda hanya pakaian yang dikenakannya.


"ORANG YANG SEPERTI DIRIMU TIDAK LAYAK UNTUK BERADA DI SINI!"


"KEMATIAN LEBIH PANTAS UNTUK DIRIMU!"


"MATI! MATI!"


"KEMATIAN COCOK UNTUK DIRIMU YANG MENGHAKIMI ORANG SEENAKNYA!"


Suara teriakan demi teriakan begitu jelas terdengar di setiap Ciel berjalan mendekat ke arah orang-orang yang berkerumun berteriak-teriak dan melempar ke arah orang-orang yang di rantai. Akan tetapi orang yang dirantai itu sama sekali tidak merespons apa pun.


"Teng... teng... teng..."


Lonceng kembali berdetang suasana sekitar kembali berubah menampilkan seorang anak kecil yang sedang duduk dengan raut wajah suram.


"Aku tidak menyangka kalau tuan Gaines memiliki seorang anak laki-laki," ucap seorang laki-laki yang berambut perak terlihat memiliki umur tidak jauh berbeda dari anak kecil yang beraut wajah suram berjalan ke arah anak wajah suram itu


"Kamu siapa? Seenaknya masuk ke taman milik keluarga Duke Gaines, dan bahkan kamu tidak memiliki etika untuk memberikan salam saat datang bertemu denganku,"


"Apa kamu tau hukumannya berperilaku lancang kepada keluarga D-"


"Hukuman pancung atau mati bukan?" ucap laki-laki berambut perak itu sambil tersenyum lembut ke arah anak kecil yang ada di depannya.


"Kamu seenaknya saja menyela ucapanku, kamu layak untuk dihukum mati," ucap anak kecil di depannya dengan tatapan tajam dan menunjuk laki-laki berambut perak di depannya


Ciel yang menatap pertengkaran kedua orang itu, merasa tidak asing dan memberikan kesimpulan kalau ini adalah masa lalu milik Carlisle Fane Gaines karena hanya dia orang yang selalu mengatakan hukuman. Walaupun Ciel bisa masuk ke masa lalunya dia tidak akan bisa ikut campur karena mana yang dia miliki tidaklah cukup untuk merubah masa lalu ataupun ikut campur.


"Teng... teng... teng..." suara lonceng kembali berbunyi merubah kembali suasana yang ada di sekitarnya memperlihatkan kedua anak sekitar 11 tahun berjalan bersamaan di lorong akademi.


"Car, aku akhirnya berhasil mendapatkan izin berbisnis jadi menurutmu lebih baik aku membuka jasa konsultasi atau hal-hal yang berhubungan dengan kuliner dan pariwisata?" tanya seorang laki-laki berambut perak itu dengan tatapan kebingungan ke arah teman yang berada di sebelahnya


"Kenapa kamu bertanya kepadaku? Aku bahkan tidak mengerti apa yang lebih menguntungkan dalam melakukan bisnis,"


"Dan juga Wells, bukankah kamu tau keluargaku bekerja di bidang hukum kerajaan dan hukum antar negeri? Jadi mana mungkin aku di ajari tentang berbisnis," ucap Carlisle dengan tatapan dan senyum dingin


"Mau aku ajari dasar-dasarnya melakukan bisnis? Kalau nanti kamu bisa mengetahui dasar-dasarnya kamu bisa menjadi konsultan hukum perdagangan yang aku buat," ucap Wells sambil tersenyum kecil


Melihat keakraban dan identitas yang di emban kedua orang itu membuat Ciel yakin kalau mereka telah bukan hanya sekedar teman dekat atau teman masa kecil.


"Teng... teng... teng..."


Sebuah lorong itu berubah kembali menjadi tempat yang dipenuhi oleh kursi dan meja-meja. Ruangan besar itu terlihat seperti ruangan pengadilan yang dilihatnya di televisi atau berita-berita yang tersiar. Di ruangan itu menampilkan kedua orang perempuan yang sangat mirip wajahnya dengan Carlisle.


"Carlisle, katakan kalau semua rumor mengenai kamu memulai melakukan bisnis itu bohong,"


"Dan juga katakanlah kepadaku kalau kamu akan menjauhi para anak pedagang yang kotor itu," ucap seorang perempuan yang tidak terlihat tua maupun muda dengan tatapan tajam dan emosi menatap Carlisle yang tertunduk diam tidak berbicara satu patah kata pun.


"CARLISLE FANE GAINES, JAWAB DAN TATAP IBU,"


Teriakan dan tamparan itu membuat Carlisle mulai membuka mulutnya dan mengeluarkan suara seolah-olah dia harus menjawab seperti mesin yang diberikan perintah. Namun bukan jawaban yang diinginkan orang tuanya keluar dari mulutnya.


"Semuanya itu benar, aku melakukan bisnis karena aku tidak ingin sama seperti pendahuluku,"


"Dan juga bukan urusanmu untuk mengatur akan menjadi apa aku dimasa depan walaupun ka-"


"PLAK..." suara tamparan yang lebih keras mendarat lagi namun kali ini bukan dari sang ibu melainkan berasal dari perempuan yang berada di sebelah ibunya.


"CARLISLE, KAMU ADALAH CALON PEWARIS KEPALA KELUARGA DAN KELUARGA KITA AKAN SELALU BERADA DI SISI HUKUM,"


"KAMU TIDAK BERHAK UNTUK BERBELOK DARI JALAN YANG DIPILIHKAN ATAU TELAH DI TENTUKAN,"


"OMONGAN YANG KAMU KATAKAN BARUSAN SANGAT TIDAK ADA SOPAN SANTUN MENGHORMATI ORANG TUA,"


"ITU PASTI KARENA KAMU BERTEMAN DENGAN ANAK LAKI-LAKI KOTOR YANG MEMBUNUH IBUNYA ITU,"


"KAKAK, AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN KEPADA MEREKA KALAU BEGITU DAN KAMU AKAN KAKAK HUKUM TIDAK KELUAR KAMAR," teriakan dari perempuan yang lebih muda itu membuat Carlisle terdiam dan terduduk di atas lantai dingin. Ditinggalkan oleh sang ibu dan kakaknya di ruangan besar itu.


Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar kalau keluarga Vil telah hancur, seluruh keluarganya hancur menyisakan Wells Sadawira Vil. Sejak saat itu hubungan Wells dan Carlisle merenggang, namun pada akhirnya mereka kembali berteman di akademi saat ini dengan masih memiliki perasaan bersalah kepada keluarga Vil.


"Teng... teng... teng..."


Suara lonceng kembali berbunyi mengembalikan Ciel ke tempat awal yaitu ruangan gelap. Ciel merasakan kalau dia sudah mengerti sebagian cerita dari beban yang ditanggung oleh Carlisle.


"Carlisle, apa kamu yang membuat ruangan gelap dan hampa ini? Tolong jawab aku, supaya aku bisa membantumu," ucap Ciel dengan lantang, apakah suara tersebut terdengar atau tidak Ciel tidak tau namun dia yakin kalau Carlisle lah yang membuat dirinya ada di sini. Tiba-tiba sosok laki-laki di rantai pada saat di lihatnya muncul di depannya dengan tatapan kosong dan ruangan itu tentu saja berubah menjadi putih bercak darah di lantai.


"Apakah kamu bisa mengetahui siapa aku? Dan kenapa alasan kamu bisa berada di sini?" tanya laki-laki di rantai itu dengan aura yang gelap dan tatapan kosongnya


"Aku tau siapa kamu tapi tentang alasan aku berada di sini,"


"Aku tidak tau," ucap Ciel dengan jujur dan menggelengkan pelan kepalanya


"Aku ingin kamu dan aku bertarung,"


"Dan tentu saja ada taruhannya," ucap laki-laki yang dirantai itu dengan tatapan kosong namun aura yang gelap


"Taruhan? Apa yang ingin dipertaruhkan olehmu?" tanya Ciel dengan kebingungan ke arah laki-laki itu


"Bagaimana dengan jiwa laki-laki yang ada disana? Jika kamu menang maka aku akan mengembalikan tubuh ini kepadanya dan jika kamu kalah maka kamu dan jiwanya menjadi milikku,"


Ciel The Guide Of Destiny