
Berita mengenai sidang terbuka yang di ajukan dan terima oleh kerajaan dari seorang siswa akademi tentu itu membuat banyak gosip terutama di kalangan darah biru.
Mereka sama sekali tidak percaya jika Ciel yang memiliki kemungkinan berkhianat dengan kerajaan, mendapatkan izin dari sang raja untuk melakukan sidang besar ini.
"Kamu pasti tegang ya?" tanya Jianying dengan senyuman tipis yang hanya dijawab oleh gelanggang pelan oleh Ciel. Karena menurutnya dia bisa membuat persidangan ini berjalan lancar.
Tidak banyak orang yang meremehkan Ciel karena mengajukan sebuah peraturan perundang-undangan baru dan tidak banyak juga yang penasaran seperti apa Ciel hingga bisa membuat sang raja setuju dengan peraturan perundang-undangan baru.
Ciel yang tidak suka di remehkan oleh orang-orang tentu saja akan mengingat setiap wajah yang mencaci maki dirinya baik dengan suara yang lantang maupun secara berbisik. Karena nantinya dia akan memberikan orang-orang itu pelajaran yang setimpal.
Tidak lama kemudian sang raja memasuki ruangan, semua orang yang merendahkan atau meremehkan Ciel terdiam karena takut dianggap meremehkan sang raja juga dan kemudian sidang dimulai.
Argumen demi argumen di keluarkan oleh para korban yang tidak setuju dengan peringanan hukuman, begitu juga sebaliknya yang dilakukan oleh Ciel dalam sidang sampai hakim mengetuk palu untuk beristirahat karena sidang sudah terlalu lama. Semua orang yang tercengang dengan argumen-argumen yang dilontarkan oleh Ciel di persidangan, merubah pandangannya kepada orang yang dianggap hanya seorang siswa akademi.
Pada kenyataannya walaupun pendapat orang sudah berubah, tidak akan ada seorangpun yang bisa mengubah fakta untuk Ciel kalau mereka telah meremehkan dirinya. Ciel merasa kalau mereka semua adalah orang yang mudah terpengaruh hanya dengan sesuatu saja, tidak heran menurutnya jika itu bisa membuat kerajaan ini tidak mendapatkan kepercayaan dari para pembimbing takdir yang tinggal karena sifat orang-orang seperti mereka tidak akan bisa menjamin keselamatan.
"Ciel, tadi itu sungguh hebat,"
"Aku tidak menyangka kalau kamu sangat berbakat di hukum,"
"Mau bekerja sama denganku nanti setelah lulus akademi? Tentu saja aku tidak memaksa, hanya saja sangat disayangkan kalau orang berbakat seperti dirimu tidak berada di kerajaan," ucap Carlisle dengan tatapan tertarik kepada Ciel namun tentu masih dengan gengsi tingginya dia tidak akan mengatakannya secara gamblang kepada Ciel
"Ahaha..." tawa Ciel yang terlepas setelah melihat ekspresi dari Carlisle yang menurutnya lucu
"Apa menurutmu lucu perkataanku barusan?" ucap Carlisle dengan kening yang berkerut
"Tadi persidangan yang luar biasa yang mulia Ciel,"
"Aku bahkan tidak menyangka kalau sudah sampai waktu istirahat, biasanya aku hanya menikmati persidangan dengan membosankan bahkan rasanya sampai sedetikpun tidak ada jarum jam bergerak rasanya," ucap seorang dengan rambut yang berwarna putih seperti salju berjalan ke arah kedua orang yang sedang asik berbicara tanpa suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka berdua, tentu saja itu membuat mereka berdua terkejut
"Ah anda adalah tuan Nevica-"
"Tidak, dia bukan Nevicare tapi Luna saudari kembarnya dan wakil dewan kesiswaan akademi Utara," ucap Carlisle dengan tatapan tajam ke arah gadis bernama Luna itu
"Carlisle, sudah lama tidak bertemu,"
"Kamu masih dingin seperti balok es ya tapi kamu yang paling bisa membedakan kakak dan aku,"
"Tidak bisa Luna dan berhenti bertingkah manja walaupun kamu adalah tunanganku,"
"Dan tolong perhatikan tempat kita berada sekarang, kakakmu akan membunuhku jika dia tau kamu seperti ini," ucap Carlisle dengan tatapan dingin namun tidak melepaskan pelukan dari Luna
'Aku sepertinya tau kenapa mereka cocok,' ucap Ciel di dalam hati sambil menatap kedua orang yang terlihat mesra di mata Ciel namun tidak pada kenyataannya
"Teng..."
Lonceng telah berbunyi yang artinya sidang kembali di mulai dan semua orang kembali ke dalam ruangan, penasaran siapa yang akan memenangkan sidang ini. Akan tetapi siapa yang menyangka Ciel ternyata lengah kepada Wells yang telah tidak berada di kursi.
"BOMM...." suara ledakan tiba-tiba terjadi atap tempat mereka berada sekarang menjadi berlubang besar, hal yang ditakutkan oleh Ciel benar-benar terjadi di depan matanya.
Semua orang yang berada di meja hijau terkejut dan mulai berlarian kesana kemari, bertabrakan,panik, teriak-teriak. Sedangkan keluarga kerajaan sudah di evakuasi ke tempat yang mana karena sejak awal Nalendra mengincar kerajaan Minunilor.
"Sidang untuk membantu meringankan hukuman orang yang jahat, bukankah orang seperti dirimu terlalu lembek ya?"
"Bahkan atasan kami tidak bisa kamu kalahkan," ucap seorang perempuan di balik tudung dengan nada pembicaraan meremehkan Ciel
"Slapsh...." Serangan tiba-tiba dari Carlisle ke arah perempuan bertudung dengan rantai-rantai miliknya, namun berhasil di tangkis oleh perempuan itu dengan sihir pelindung yang sejak awal melindunginya dari bahaya. Tidak lama dari Carlisle menyerang, perempuan itu langsung membuat serang balik ke arah Carlisle.
Karena tidak ada waktu untuk menghindari kecepatan serangan, dia memutuskan untuk menggunakan rantai-rantai itu sebagai pelindung namun rantai-rantai itu hancur, walaupun tidak melukai Carlisle.
"Bagaimana mungkin serangan aku bisa ditangkis dengan rantai-rantai itu?" ucap perempuan bertudung itu dengan terkejut ke arah Carlisle yang tidak memiliki luka sama sekali yang membuat perempuan itu menyerang kembali secara beruntun ke arah Carlisle tidak ada kesempatan untuknya menghindar, membuat dirinya mengulangi hal yang sama yaitu membuat perisai untuk melindungi dirinya sendiri.
Perisai itu hancur terkena serangan beruntun sehingga membuat Carlisle tidak ada kesempatan untuk menghindar, tapi entah darimana perisai yang kokoh itu muncul melindungi Carlisle hingga tidak ada satupun yang terluka sedangkan Ciel melawan bawahan dari para perempuan itu. Ur-Atum dan yang lain juga di sibukkan oleh orang-orang yang panik di lokasi tersebut. Namun tidak terlihat sama sekali Wells dari awal sampai akhir di lokasi membuat Ciel yakin kalau Wells lah pelakunya.
Tiba-tiba suara yang tidak asingnya Wells terdengar setelah Ciel membuat kesimpulan yang sangat pasti.
"Suasana disini panas dan ramai ya? Permainan ini bukankah terlalu lembut?" ucap laki-laki itu berdiri di atas atap dengan seringaian dan suara lantang, hal ini membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Wells, darimana kamu sejak tadi? Kenapa kamu tidak membantu kami sama sekali?" ucap Carlisle dengan tatapan penuh emosi karena bagaimanapun sulit bagi dirinya menghadapi perempuan bertudung itu tanpa Wells yang membuat serangan mereka kompak seperti telah terhubung dalam pemikiran. Namun kali ini Wells sama sekali tidak berada di sisi Ciel.
"Menurutmu, kenapa aku tidak ada di sisimu sejak awal Carlisle?"
Ciel The Guide Of Destiny