Ciel The Guide Of Destiny

Ciel The Guide Of Destiny
Bab 17 Sidang pembicaraan hangat



Ruangan itu menjadi senyap ketika mendengarkan ucapan dari Ur-Atum. Mereka merasa tidak percaya dengan Ur-Atum yang mengatakan kata-kata itu, karena bagaimanapun juga dia orang yang mengerikan dalam menggunakan sihir maupun senjata. Kekurangannya hanya satu yaitu dia bisa mengalami Magische Explosion jika tidak bisa mengendalikan kemampuan miliknya.


"Yang dikatakan oleh Ur-Atum benar, pelan-pelan saja,"


"Aku akan membantumu berlatih kalau perlu," ucap El sambil mengelus kepala Ciel yang dianggap sebagai seorang adik oleh dirinya


"Kamu tidak perlu banyak berpikir hal negatif kami di sini ada untukmu," ucap Jianying sambil mencubit pipi Ur-Atum supaya dia terlihat tersenyum


Percakapan yang singkat dan hangat membuat perasaan Ciel menjadi lebih baik. Dia sadar kalau dia terlalu serius dia tidak akan mudah mencapai sesuatu, apalagi dia bisa membuat hubungannya renggang.


Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok yang tidak asing masuk ke dalam ruangan sambil membawa troli makanan.


"Ciel, sekarang kamu harus makan karena kamu belum makan sama sekali," ucap Solahudin dengan tatapan tajam ke arah Ciel yang terbaring malas walaupun sudah terlihat bisa duduk di atas kasur.


Ciel yang melihat bubur rasanya ingin melarikan diri, karena sejak kecil dia selalu tidak menyukai bubur dan saat ini dia kembali bertemu dengan bubur, karena kedua temannya yang mendadak di kirim ke dunia ini.


"Woah..."


"Benda putih apa itu? Kenapa bentuknya terlihat aneh dan terlihat lengket? Apa itu slime?" ucap El dengan tatapan penasaran dan serius ke arah bubur yang dibawa oleh Solahudin dan Listina


Kedua orang yang mendengarkan nama monster yang biasanya ada di game terkejut dan saling menatap karena bagaimana bisa dia tau nama monster slime itu. Tidak lama dari itu keduanya tertawa lepas karena jelas sekali orang-orang itu terlihat tidak mengetahui bahwa itu adalah bubur.


"Ini adalah bubur terbuat dari biji-bijian yang dimasak,"


"Kalau dimasak tidak terlalu lama bisa jadi nasi dan kalau terlalu lama bisa jadi bubur atau air karena terlalu lama di masak," jelas Listina dengan tawa yang masih terlihat, sedangkan Ciel yang melihatnya dengan tatapan suram masih membayangkan betapa mengerikannya dia harus memakan bubur yang lengket itu jadi dia tidak bisa tertawa lepas dengan mudah.


"Ciel, sekarang kamu harus makan walaupun kamu membencinya," ucap Solahudin dengan tatapan tajam ke arah Ciel sambil menyodorkan sesendok bubur.


Ciel yang melihat bubur dari jarak dekat berusaha untuk menjauh dari sendok itu namun Solahudin yang memegang sendok itu terus menyodorkannya ke arah Ciel. Sampai pada akhirnya Ur-Atum memegang Ciel supaya dia tidak melarikan diri dari makanan yang seharusnya dia makan.


"Ciel, kamu sudah terbaring di sini selama tiga hari, dan belum makan sama sekali,"


"Memangnya apa salahnya makan benda putih itu?" ucap Jianying dengan dahi terlipat


"Memangnya setiap orang tidak punya kelemahan apa? Itu rasanya hambar tidak ada rasa,"


Hanya yang membedakan adalah jika Ciel biasanya di ikat tali oleh para pelayan, sekarang dia di pegang secara langsung oleh para dewan kesiswaan dan mereka menjaga setiap sudutnya supaya Ciel tidak lari. Teriakan demi teriakan mengerikan di lontarkan oleh Ciel, karena begitu bencinya dia dengan bubur. El yang melihat benda aneh itu turut mencobanya bahkan sampai menambah berkali-kali.


Berhari-hari kemudian setelah Ciel sembuh dari sakitnya. Ciel meneteskan air mata karena telah terbebas dari bubur yang hambar. Namun setelah sembuh dia malah harus mengerjakan dokumen yang menumpuk di mejanya karena dia adalah anggota dewan kesiswaan.


"Ah iya, Ciel apa kamu sudah menentukan kelas yang akan kamu ambil nanti setelah kenaikan kelas?" tanya Wells tanpa menghentikan menggerakkan tangannya ataupun menatap Ciel


"Kelas yang akan diambil? Bukankah sama?" ucap Ciel yang menghentikan tangannya bergerak dan menatap ke arah Wells


"Tentu saja berbeda, kamu bahkan tidak mengetahui peraturan akademi yang paling dasar ini, bagaimana bisa nantinya kamu naik ke kelas selanjutnya?" ucap Carlisle dengan tatapan dingin dan tajam ke arah Ciel


"Sudahlah Carlisle, kamu jangan emosian, nanti kamu akan mengalami Magische Explosion lagi," ucap Wells dengan tatapan lembut ke arah Carlisle membuat Carlisle menghela nafas panjang mengingat karena dia mengalami Magische Explosion, semua orang menjadi panik dan kesulitan untuk menenangkan dia.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. El yang masuk ke dalam ruangan sambil membawa sepucuk surat yang berharga.


Surat itu tentunya dari orang yang memimpin kerajaan Minunilor. Permintaan yang pernah di ajukan oleh Ciel untuk melakukan persidangan kepada para bandit. Persidangan itu akan dimulai bulan depan tentu ini akan langsung dihadiri oleh keluarga kerajaan dan seluruh anggota inti dewan Kesiswaan di setiap akademi.


Sidang yang di percepat itu menjadi pembicaraan hangat seluruh sudut negeri. Karena biasanya setiap ada pengajuan, semuanya di tolak begitu saja oleh para hakim namun karena ini langsung di ajukan kepada keluarga kerajaan, maka tentu saja para hakim ini harus setuju tidak akan ada penolakan dari mereka. Menolak berarti berkhianat kepada kerajaan, dan apalagi orang yang mengajukan adalah seorang pembimbing takdir yang memiliki kekuasaan setara dengan kerajaan, mereka yang bergantung tidak mungkin tidak setuju juga dengan masalah ini.


"Jadi, bulan depan nanti kita semua diminta untuk menyaksikan persidangan,"


"Semuanya diharapkan hadir tidak terkecuali Ciel yang mengajukan kepada keluarga kerajaan,"


"Sepertinya sang raja tertarik dengan opini yang kamu katakan," ucap El dengan senyuman tipis menatap isi surat itu.


"Bukankah itu bagus? Artinya pendapat Ciel layak menjadi pertimbangan? Jarang orang bisa mendapatkan pertimbangan seperti ini," ucap Ur-Atum dengan senyuman tipis tanpa berhenti mengerjakan dokumennya ataupun memandang ke arah sekitarnya


Ciel yang mendengarkan perkataan Ur-Atum berpikir mungkin dia juga bisa meminta sang raja untuk mencari sang adik yang telah lama hilang di Minunilor, akan tetapi niat itu di urungkan dulu. Karena masih ada hal yang penting harus di persiapkan dirinya untuk kenaikan kelas setelah dia datang di pertengahan tahun ajaran yang tiba-tiba. Ciel harus mengejar dan menyusul pelajaran yang dia tidak mengerti atau pahami, dengan mengikuti pelajaran tambahan atau meminta kepala akademi untuk mengajarinya secara langsung, begitu juga dengan Listina dan Solahudin mereka mengikuti cara belajar Ciel demi kenaikan kelas.


"Aku harap dia tidak terlalu keras kepada dirinya sendiri dan selalu menjaga kesehatannya,"


"Karena aku tau jika dia keras pasti dia akan sakit,"


Ciel The Guide Of Destiny